MB-003, Harapan Baru untuk Lawan Virus Ebola

Untuk mengobati atau mencegah virus Ebola, MB-003 adalah kandidat yang menjanjikan untuk pengembangan lanjutan.

oleh Kusmiyati Diterbitkan 26 Agustus 2013, 17:15 WIB
Peneliti di Amerika Serikat mengumumkan pengobatan eksperimental telah membantu primata melawan virus Ebola, bahkan setelah gejala awal ditetapkan seperti dikutip Channelnewasia, Senin (26/8/2013).

"Temuan ini dapat membuka jalan bagi petugas medis melawan virus pada manusia," kata para ilmuwan, yang karyanya muncul secara online dalam Jurnal Science Translational Medicine seperti dikutip dari Channnelnewsasia, Senin (26/8/2013).

World Health Organization mengatakan sampai saat ini tidak ada pengobatan atau vaksin yang tersedia untuk Ebola, yang membunuh antara 25 dan 90 persen dari manusia tergantung pada strain virusnya.

"MB-003 adalah antibodi yang telah melindungi 200 persen primata bila diberikan dalam waktu satu jam setelah terpapar Ebola," ujar Peneliti.

Primata memerlukan perawatan setelah 48 jam terpapar ebola, sementara primata yang menerima MB-003 yang berjarak 104 sampai 120 jam mengalami pemulihan 43 persen.

Ebola adalah penyakit yang paling mematikan di dunia, pertama kali ditemukan di Democratic Republic of Congo tahun 1976.

Menurut peneliti, virus berkembang biak dengan cepat, menyerang kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

"MB-003 dapat menonaktifkan virus dan memicu sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan sel yang terinfeksi", kata para peneliti.

Tidak ada efek samping yang ditemukan pada primata yang diobati. Perawatan ini merupakan hasil kolaborasi 10 tahun antara pemerintah AS dan sektor swasta.

Pendanaan diberikan oleh entitas AS termasuk Defense Advanced Research Projects Agency, the National Institutes of Health and the Defense Threat Reduction Agency.

"Dengan tidak ada vaksin atau terapi saat ini berlisensi untuk mengobati atau mencegah virus Ebola, MB-003 adalah kandidat yang menjanjikan untuk pengembangan lanjutan," kata Larry Zeitlin, president of Mapp Biopharmaceutical di San Diego.

(Mia/Abd)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya