Yanti: Saya Terinfeksi HIV dari Suami

Sebanyak 68 ribu dari 80 ribu kasus HIV di Indonesia pada 2003, berasal dari kalangan pengguna narkotik suntik. Upaya mengubah perilaku penderita HIV tak cukup dengan memberikan informasi, tapi dibarengi dengan pendampingan.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 November 2003, 19:44 WIB
Liputan6.com, New York: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan menyerukan masyarakat internasional bekerja keras mengurangi dampak penyebaran HIV/AIDS pada 2005. Annan berharap jumlah anak muda pengidap HIV/AIDS pada tahun itu berkurang serta tersedia program kesehatan yang memadai dan menyeluruh. Hal itu dikatakan Sekjen PBB saat membuka Pertemuan Tingkat Tinggi untuk HIV/AIDS di New York, Amerika Serikat, baru-baru ini.

Laporan PBB menyebutkan, AIDS (sindrom kehilangan kekebalan daya tahan tubuh) telah menewaskan lebih dari tiga juta jiwa di seluruh dunia pada 2003. Sekurangnya 34 juta orang saat ini terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus), 26 juta penderita tinggal di Benua Afrika. Annan memperkirakan PBB membutuhkan US$10 miliar untuk memerangi AIDS pada 2005.

Sementara jumlah pengidap AIDS di Indonesia sejak 1987 hingga Juni 2003 mencapai lebih dari 3.600 kasus. Departemen Kesehatan mencatat kecenderungan jumlah kaum muda yang terlibat narkoba terus meningkat. Padahal para pecandu obat terlarang itu adalah kelompok yang sangat beresiko tertular. Bahaya HIV/AIDS yang begitu besar, kerap mengancam hidup manusia. Cuma saja penyakit ini dianggap aib hingga banyak orang malu membicarakannya.

Dalam pandangan aktivis AIDS, Baby Jim Aditya, asumsi yang menyebutkan para penderita AIDS memiliki perilaku seks menyimpang, tidak benar sepenuhnya. Baby menyebutkan, untuk kasus di Jakarta hingga akhir 2002, sebanyak 27 persen berasal dari para pengguna narkoba suntik (injecting drug user), empat persen pekerja seks komersial, dan 23 persen diderita pria yang suka "jajan". "Setiap orang berisiko. Bahkan ibu rumah tangga yang punya satu pasangan bisa terinfeksi," ujar Baby saat berdialog dengan Rosianna Silalahi, Ahad (30/11) petang.

Lebih lanjut Baby menuturkan, sebanyak 68 ribu dari 80 ribu kasus di Indonesia pada 2003, berasal dari kalangan pengguna narkotik. Penyebarannya bisa melalui jarum suntik yang tidak steril dan perilaku seks yang tidak aman. Dialog kali ini juga menghadirkan Yanti, seorang ibu yang positif terinfeksi HIV. Dia mengetahui terkena virus mematikan itu setahun silam setelah memeriksakan darah ke dokter. Yanti merasa akan terkena HIV setelah sang suami yang bekerja sebagai kontraktor di Papua, meninggal dunia karena AIDS.

Ternyata tak hanya Yanti yang diwariskan virus itu. Imanuel, anak kedua Yanti yang berusia tiga tahun juga tertular. Putranya itu terinfeksi melalui air susu ibu yang diminum. Yanti tak mengetahui secara pasti dari mana suaminya tertular HIV. "Setahu saya biasanya dari hubungan seks, tapi biar saya saja yang tahu," ujar dia. Penderitaan Yanti berlanjut ketika perusahaan memberhentikannya. Hampir seluruh rekan kerjanya tidak menyetujui Yanti kembali bekerja di perusahaan distributor bahan kimia itu.

Menurut Baby Jim, perubahan perilaku para penderita HIV di Indonesia sulit terjadi jika sebatas memberikan informasi. Upaya mengubah perilaku penderita HIV seharusnya dibarengi dengan pendampingan. "Tahun depan bisa mencapai 135 ribu kasus. Seberapa besar kesiapan kita, berapa banyak dokter dan konselor harus dilatih," tanya Baby Jim.(COK)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya