Kemampuan AI Bekal Penting Penyandang Disabilitas di Era Digital

Akses pelatihan AI yang setara bagi penyandang disabilitas perlu diperluas sebagai modal pengembangan usaha.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 17 Mei 2026, 11:00 WIB
Kemampuan Manfaatkan AI, Bekal Penting Penyandang Disabilitas dalam Kembangkan UMKM. Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Kemampuan dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga penting bagi penyandang disabilitas.

Menurut Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Lestari Moerdijat, AI dapat menjadi sarana akselerasi pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal dan pemberdayaan penyandang disabilitas di era digital.

“Kita meyakini bahwa penguasaan AI akan memberikan akselerasi luar biasa bagi pengembangan UMKM lokal dan berbagai kegiatan inklusif yang kita harapkan dapat membawa produk-produk unggulan daerah menuju panggung besar digital yang lebih luas,” ujar perempuan yang akrab disapa Rerie, Minggu, 10 Mei 2026 mengutip laman resmi MPR.

Berdasarkan survei pada 2025-2026, sambung Rerie, sebanyak 64,7 persen responden di Indonesia pernah menggunakan teknologi AI.

Mayoritas menggunakannya untuk mencari informasi hingga kebutuhan belanja. Indonesia pun menjadi salah satu dari delapan negara besar di dunia yang aktif memanfaatkan AI. Namun, ia mengingatkan bahwa penguasaan teknis AI saja tidak cukup.

“Kemampuan berpikir kritis adalah kunci utama agar manusia tetap menjadi pengendali teknologi yang mampu membedakan informasi serta memecahkan masalah,” tegas Rerie.

Akses Pelatihan Teknologi bagi Difabel Masih Rendah

Politisi yang aktif dalam isu inklusi itu juga menyoroti masih rendahnya akses pelatihan teknologi bagi penyandang disabilitas.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, lebih dari 75 persen penyandang disabilitas masih bekerja di sektor informal, sementara itu hanya 25 persen yang terserap di sektor formal.

“Ketimpangan ini berakar dari terbatasnya serta minimnya akses terhadap pelatihan teknologi yang inklusif. Stigma sosial sering kali menjadi tembok penghalang yang lebih tebal daripada keterbatasan fisik,” ujar anggota Komisi X DPR RI.

Pelatihan AI untuk Difabel

Menurut Rerie, pelatihan AI menjadi hal yang dibutuhkan penyandang disabilitas. Untuk itu, digelar pelatihan AI di Kudus, Jawa Tengah pada 10 Mei. Adanya pelatihan AI merupakan bukti bahwa kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan dalam mewujudkan martabat kemanusiaan yang setara di era digital.

Ia berharap, pelatihan pemanfaatan AI bagi generasi muda dan penyandang disabilitas dapat membekali keterampilan praktis sebagai afiliator, kreator digital, hingga pelaku usaha berbasis teknologi yang mampu mewujudkan kemandirian secara ekonomi.

Rerie mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum pelatihan sebagai titik balik mengasah ketajaman berpikir dan meraih kemandirian menghadapi masa depan di era digital.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya