Liputan6.com, Banda Aceh: Kalau masyarakat di Pulau Jawa biasa buka puasa dengan timun suri, orang Aceh lain lagi. Masyarakat di Tanah Rencong memiliki timun kapur untuk bekal pelepas dahaga di Bulan Suci. Rasanya manis. Dan kalau lewat di tenggorokan, mmmm dingin dan segar. Baru-baru ini, SCTV bertandang ke Banda Aceh untuk mencari informasi seputar buah khas itu.
Timun kapur ternyata punya banyak nama alias. Ada yang menyebutnya sebagai timon gaki atau timun kaki. Sebab, bentuknya menyerupai betis manusia. Sebagian orang memanggilnya timon wah atau timun pecah karena buah ini selalu pecah setelah dipetik dari pohonnya. Karena itulah, buah ini harus dibungkus pelepah pohon pisang saat dijual. Fungsinya, agar isi timun tak tumpah. Sementara itu, disebut timun kapur atau timon gapu karena warnanya putih seperti kapur.
Timun kapur biasanya dijual dan dicari konsumen hanya pada Bulan Suci. Warga bisa membelinya di pasar-pasar tradisional atau di pinggir-pinggir jalan. Bisa juga ditunggui di rumah, karena sebagian pedagang memilih menjual timun ini secara berkeliling dari rumah ke rumah. Harganya pun relatif murah berkisar Rp 2.500-Rp 4000 per buah, tergantung ukuran.(MTA/Muhamad Nasier dan Muhamadan)
Timun kapur ternyata punya banyak nama alias. Ada yang menyebutnya sebagai timon gaki atau timun kaki. Sebab, bentuknya menyerupai betis manusia. Sebagian orang memanggilnya timon wah atau timun pecah karena buah ini selalu pecah setelah dipetik dari pohonnya. Karena itulah, buah ini harus dibungkus pelepah pohon pisang saat dijual. Fungsinya, agar isi timun tak tumpah. Sementara itu, disebut timun kapur atau timon gapu karena warnanya putih seperti kapur.
Timun kapur biasanya dijual dan dicari konsumen hanya pada Bulan Suci. Warga bisa membelinya di pasar-pasar tradisional atau di pinggir-pinggir jalan. Bisa juga ditunggui di rumah, karena sebagian pedagang memilih menjual timun ini secara berkeliling dari rumah ke rumah. Harganya pun relatif murah berkisar Rp 2.500-Rp 4000 per buah, tergantung ukuran.(MTA/Muhamad Nasier dan Muhamadan)