Liputan6.com, Jakarta - Lalu lalang manusia sudah memadati kawasan Blok M sore itu. Dari mulut Stasiun MRT Blok M, arus manusia mengalir tanpa putus.
Anak-anak muda dengan gaya kasual hingga nyentrik itu berjalan cepat menyusuri trotoar kawasan Jakarta Selatan tersebut. Kemudian, mereka berpencar menuju titik temu masing-masing. Ada yang mengarah ke Little Tokyo, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M Square, M Bloc Space, Blok M Plaza, dan Pasaraya. Sesekali, deru MRT menyela di antara obrolan mereka. Tak ada yang terganggu, semua larut dalam aktivitas masing-masing.
Advertisement
Sejak dulu, kawasan Blok M menjadi simbol kejayaan anak muda Jakarta era 80-an dan 90-an. Meski tahun berganti, pesona itu tak berubah. Blok M tetap hidup meski dengan denyut berbeda. Di masa kini, Blok M menjadi ‘kalcer’ anak muda Jakarta.
Mayoritas anak muda yang datang ke sana menghabiskan waktu dengan nongkrong di coffee shop. Memesan minuman dan camilan sambil bersenda gurau bersama rekan. Namun, ada juga yang memilih tempat lebih santai untuk berbincang di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.
Mereka duduk di tepian taman sambil membaca buku, bercengkerama, dan menikmati pergantian waktu dengan tenang.
Blok M Terbuka untuk Semua Kalangan
Alifia (29), warga Jakarta Timur, mengaku rutin singgah ke Blok M. Sore itu, ia bertemu teman-temannya di sekitar Blok M setelah turun dari MRT. Menurut dia, ada sesuatu yang membuat kawasan ini terasa lebih “mengundang” dibanding tempat nongkrong lainnya di Jakarta Selatan.
“Blok M menurutku punya daya tarik yang lebih luas. Secara lokasi strategis, ada mal, coffee shop, kuliner yang beragam, ada Taman Literasi juga yang kadang jadi tempat konser gratis,” kata Alifia kepada Liputan6.com.
Bagi Alifia, Blok M menawarkan pengalaman yang tidak melulu soal gaya hidup mahal. Orang bisa datang dengan berbagai tujuan dan anggaran. Ada yang duduk di taman tanpa biaya, ada yang berburu kopi estetik, ada pula yang sekadar berjalan kaki menikmati atmosfer kawasan.
“Akses transportasi juga gampang, dan secara budget masih masuk buat anak muda ataupun keluarga,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Pernita (30), warga Jakarta Pusat. Awalnya, ia datang karena penasaran melihat Blok M yang terus muncul di media sosial dan percakapan teman-temannya. Namun, rasa penasaran itu berubah menjadi kebiasaan.
Kini, setidaknya dua minggu sekali ia menyempatkan diri datang ke kawasan tersebut.
Menurut Pernita, Blok M menawarkan suasana yang lebih cair dibanding kawasan elite lain di Jakarta. Orang-orang datang tanpa beban harus tampil terlalu formal atau mengeluarkan banyak uang.
“Kalau di Blok M ramai, banyak pilihan dan harganya lebih terjangkau dibanding SCBD dan lainnya,” kata dia.
Di satu sisi jalan, pengunjung bisa menemukan jajanan kaki lima yang dipenuhi antrean. Di sisi lain, berdiri coffee shop modern dengan desain minimalis yang dipenuhi anak muda. Toko musik lawas, photobooth, hingga lorong-lorong kecil bernuansa Jepang ikut memperkaya wajah Blok M hari ini.
“Karena banyak pilihan makanan, pengen coba makanan viral, ada coffee shop sampai tempat photobooth, jadi banyak pilihan untuk main di sana,” ujar Pernita.
Blok M Berubah Wajah dengan Rasa yang Sama
Pengamat tata kota Nirwono Joga menilai kebangkitan Blok M bukan terjadi secara tiba-tiba. Menurut dia, kawasan ini berhasil beradaptasi dengan perubahan gaya hidup urban dan kebutuhan ruang publik masyarakat perkotaan.
“Kawasan Blok M telah menjadi ruang publik yang mudah dicapai transportasi umum dan relatif murah harga makanannya,” kata Nirwono.
Ia melihat karakter Blok M saat ini berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Jika dahulu identik sebagai pusat belanja dan tongkrongan generasi tertentu, kini kawasan itu berkembang menjadi ruang subkultur baru yang dibentuk oleh budaya digital dan tren viral.
Kehadiran MRT Jakarta dan perluasan rute Transjabodetabek turut menjadi faktor penting yang menghidupkan kembali kawasan tersebut. Kemudahan akses membuat Blok M tidak lagi terasa eksklusif bagi warga Jakarta Selatan semata. Pengunjung dari Jakarta Timur, Depok, Tangerang, hingga Bekasi kini bisa datang dan pulang dengan lebih mudah.
Di tengah menjamurnya pusat komersial modern Jakarta, Blok M justru menemukan kekuatannya lewat sesuatu yang sederhana: trotoar yang hidup, ruang publik terbuka, dan keramaian yang terasa dekat dengan keseharian warga kota.
Orang-orang datang bukan hanya untuk makan atau berbelanja. Mereka datang untuk merasakan suasana.
Dan ketika malam semakin larut, arus manusia di Blok M belum juga surut. Di bawah cahaya lampu jalan dan papan-papan neon toko, kawasan itu terus bergerak—seolah menegaskan bahwa Blok M bukan sekadar tempat nongkrong yang sedang viral, melainkan wajah baru kehidupan urban Jakarta yang kembali menemukan denyutnya.