Liputan6.com, Jakarta - Apple resmi mengumumkan para pemenang Swift Student Challenge 2026. Dari 350 pemenang dari 37 negara dan wilayah di dunia, hanya 50 peserta terpilih sebagai Distinguished Winner.
Menariknya, dua di antara para Distinguished Winner datang dari Indonesia. Mereka adalah Ghazali Ahlam Jazali dan Francesco Emmanuel Setiawan. Mahasiswa muda yang keduanya merupakan lulusan Apple Developer Academy.
Advertisement
Sebagai Distinguished Winner, keduanya berkesempatan untuk mengikuti pengelaman khusus selama tiga hari di Apple Park saat pekan Worldwide Developers Conference atau WWDC 2026 digelar.
Dalam sesi bersama media secara online, Enwei Xie, Senior Director, Worldwide Developer Relations Apple, menjelaskan filosofi di balik program tahunan perusahaan berbasis di Cupertino tersebut.
“Swift Student Challenge benar-benar dirancang untuk mendukung dan mengangkat generasi berikutnya dari desainer, developer, dan entrepreneur,” kata Enwei Xie.
Menurutnya, para pemenang setiap tahun datang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kecakapan teknis. Mereka juga membawa empati, dan menggunakannya untuk menjawab persoalan nyata di sekitar mereka.
“Coding adalah bahasa universal, dengan potensi luar biasa untuk memberdayakan orang dan membantu mereka membangun dunia yang lebih baik,” ujar Enwei.
Ancaman Privasi yang Selama Ini Tak Kasat Mata
Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari Ghazali Ahlam Jazali. Lahir di Klaten dan masih berusia 23 tahun, ia membuat aplikasi playground berjudul “They Have Your Fingerprint!”.
Mengangkat isu privasi digital yang sering luput dari perhatian pengguna internet biasa, banyak orang merasa aman setelah menghapus cookies usai menjelajah internet.
Padahal ada metode pelacakan lain yang jauh lebih canggih dan bekerja tanpa meninggalkan jejak yang bisa dihapus, yakni canvas fingerprinting. Teknik ini mampu mengenali identitas pengguna hanya dari perbedaan kecil pada cara perangkat menampilkan font, warna, dan emoji.
"Tujuan saya lewat aplikasi ini adalah mengambil ancaman privasi yang tidak terlihat seperti canvas fingerprinting dan membuatnya terlihat, sehingga orang benar-benar bisa memahaminya," kata Ghazali.
Melawan Rasa Takut Bicara dengan Satu Kata
Talenta Indonesia lain yang masuk jajaran Distinguished Winner adalah Francesco Emmanuel Setiawan. Mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komputer BINUS University ini membuat playground berjudul “Against the Silence”.
Lahir dari pengalaman personal menghadapi kecemasan sosial dan rasa takut berbicara, dia memutuskan untuk membuat aplikasi mampu membantu pengguna menghadapi tantangan berbicara secara spontan.
Selama pengembangan aplikasi, dirinya menyadari 75 persen dari 22 profesional muda yang diwawancarainya mengaku menghadapi masalah serupa.
Aplikasi ini mengajak pemain melawan “demon” sebagai simbol rasa takut dihakimi, dan mengalahkannya dengan suara mereka sendiri.. Pemain harus membela opini tidak populer, misalnya mengapa nanas cocok di atas pizza, sambil memakai kata tertentu dan menghindari kata lain
Aplikasi ini juga menghitung filler words seperti “umm” atau “hmm” yang bisa mengurangi skor. Setiap sesi menjadi latihan terukur untuk membangun keberanian bicara.
“Saat tumbuh dengan kecemasan sosial, saya dulu membiarkan rasa takut dihakimi membungkam saya. Kini diakui Apple untuk aplikasi yang membantu orang menaklukkan rasa takut yang sama adalah kehormatan luar biasa dan validasi terbesar atas perjalanan saya,” katanya.
Asia Tenggara Ikut Bersinar di Swift Student Challenge
Selain Indonesia, pemenang dari Asia Tenggara lainnya juga membawa ide dekat dengan kebutuhan sehari-hari pengguna. Jasmmender Kaur, dari Malaysia membuat “Unveil”, sebuah aplikasi untuk membantu literasi AI lewat pendekatan visual dan interaktif.
Ada juga Chawabhon Netisingha atau Jean dari Thailand. Ia membuat playground berbasis AI yang mengajarkan prompt crafting, deteksi bias, dan cara mengenali halusinasi AI melalui mini-game berbasis cerita.
Sementara itu, Nhat Hoang Le dari Vietnam mengembangkan “HumMelody”, aplikasi yang mengubah senandung menjadi not musik dan memainkannya lewat instrumen seperti piano, gitar, biola, atau flute.
Apple Soroti Peran AI dan Xcode 26
Enwei menilai karya para pemenang tahun ini menunjukkan kreativitas yang luas dan berdampak. Ia juga menyinggung Xcode 26 yang kini membawa integrasi dengan Anthropic dan OpenAI.
Integrasi itu membantu developer memahami, mengedit, mendokumentasikan, dan menguji kode memakai bahasa natural langsung di dalam aplikasi. Xcode 26 juga membawa peningkatan pada workflow testing dan analisis performa.
Bagi Apple, Swift Student Challenge menjadi ruang bagi pelajar dan mahasiswa untuk membuktikan satu hal penting. Aplikasi besar bisa lahir dari masalah yang sangat dekat, asal developer mampu melihatnya dengan empati dan menerjemahkannya menjadi pengalaman yang mudah dipahami.
Bagi Ghazali dan Francesco, pengakuan dari Apple juga menjadi langkah awal. Keduanya sama-sama berencana menyempurnakan aplikasi mereka sebelum merilisnya ke App Store