Dengan `Sapu Jagat` Bung Karno Bidani Waduk Cacaban

Dia yang berjas putih, berkopiah, dan kacamata hitam melangkah mantap. Karisma semakin berpendar, tatkala 'Sapu Jagat' terselip di lengannya

oleh Silvanus AlvinDiterbitkan 09 Agustus 2013, 03:14 WIB
Dia yang berjas putih, berkopiah, dan kacamata hitam melangkah begitu mantapnya. Karisma semakin berpendar, tatkala 'Sapu Jagat', sang tongkat andalan, terselip di lengannya. Begitulah gaya khasnya saat meletakkan batu pertama pembangunan Waduk Cacaban.

Dia adalah Soekarno, Presiden Pertama Indonesia yang membidani Waduk Cacaban.

"Itu tongkat yang dibawa Insinyur Soekarno ketika pertama kali datang ke sini untuk peletakan batu pertama waduk," kata Ketua Adat dan Budaya Pudjo Kasripin saat berbincang denga Liputan6.com, di Tegal, Jawa Tengah, Kamis (8/8/2013).

Presiden yang punya gaya khas itu, menurut Pudjo, seperti seorang yang dititipi ilham oleh Illahi untuk membangun Waduk Cacaban. Bahkan, Pudjo mengaku berkali-kali mendapatkan wahyu, bahwa Soekarno-lah yang akan turun langsung memberikan perintah pembangunan waduk yang terletak sejauh 25 kilometer ke arah selatan dari jalur Pantura.

Meskipun pada waktu itu, Indonesia sedang sibuk mengusir penjajah Belanda, namun keyakinan Pudjo tak goyah. Bung Karno akan membangun waduk bagi warga kawasan Pantura. Mimpi Pudjo nyata.

"Saya mendapat wahyu kalau Bung Karno itu dibisikkan oleh Allah untuk membangun Waduk Cacaban," ujar Pudjo.

Bung Karno secara tidak terprediksi langsung meminta proses pembuatan waduk segera dilaksanakan. Padahal, lanjut Pudjo, saat itu Bung Karno sedang sibuk menumpas Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia setelah kepergian Jepang akibat pemboman Hirosima-Nagasaki.

Waduk Cacaban memang merupakan warisan Presiden Soekarno. Kelahiran waduk tersebut, awalnya berawal dari gagasan pemerintah kolonial Belanda, sekitar 1914, tapi tidak direalisasikan dan pada 1930 juga sempat tidak tertunda pengerjaan waduknya. Setelah Indonesia merdeka dan dipimpin oleh Bung Karno, pengerjaan waduk terealisasi.

Pembangunan waduk seluas 928,24 hektar yang mampu menampung 63 juta meter kubik air itu memakan waktu 6 tahun. Pengerjaannya selesai tepat pada 19 Mei 1958. Bung Karno pun hendak mendatangi peresmian Waduk Cacaban, tapi karena ada kegiatan mendesak lainnya, peresmian dilakukan oleh bawahannya, Mr Sartono. (Yog/Mut)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya