Ribuan Anak di Flores Timur Stunting, Kondisi Lima Desa Disorot

Penyebab stunting merupakan gabungan persoalan ekonomi dan infeksi.

oleh Ola KedaDiterbitkan 15 Mei 2026, 07:21 WIB
Potret Kemiskinan di NTT
Sebagai bagian dari kontribusinya dalam Program Pendampingan Gizi yang mendapat apresiasi pada GENTING Collaboration Summit 2025, Nestlé Indonesia turut menggelar kegiatan Volunteering di berbagai daerah. Rangkaian kegiatan meliputi pengukuran antropometri anak (tinggi dan berat badan), edukasi gizi menggunakan buku panduan dan diagram, pengisian kuesioner, serta distribusi tambahan gizi berupa telur dan susu tinggi kalori DANCOW GroPlus. Program Pendampingan Gizi telah menjangkau lebih dari 630 anak berisiko stunting, serta melibatkan lebih dari 1.350 orang tua, kader posyandu, dan ibu hamil dan menyusui di lebih dari 95 desa melalui edukasi mengenai gizi anak, pola makan sehat, keamanan pangan, jajanan sehat, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). (Foto:Dok.Nestle Indonesia)

 

Liputan6.com, Jakarta - Angka stunting di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tinggi. Berdasarkan data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (EPPGBM) Maret 2026,terdapat 2.657 anak stunting di Flores Timur dari total 14.662 balita yang diukur.

Data tersebut menunjukkan masih adanya sejumlah desa dengan prevalensi stunting cukup tinggi, bahkan di atas 35 persen. Lima desa yang menjadi perhatian khusus yakni Desa Lamatutu Kecamatan Tanjung Bunga dengan prevalensi 52,9 persen atau 36 anak stunting, Desa Lamaleka Kecamatan Witihama sebesar 38,7 persen atau 12 anak stunting, Desa Wulublolong Kecamatan Solor Timur sebesar 37 persen atau 17 anak stunting, Desa Woloklibang Kecamatan Adonara Barat sebesar 40 persen atau 10 anak stunting, serta Desa Dawataa Kecamatan Adonara Timur sebesar 43,5 persen atau 10 anak stunting.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Flores Timur, Apolonia Corebima menjelaskan, faktor dominan penyebab stunting merupakan gabungan antara persoalan ekonomi dan infeksi.

"Pada beberapa wilayah, faktor infeksi bahkan menjadi penyebab utama. Selain itu, pola asuh dan infeksi berulang juga menjadi faktor yang banyak ditemukan di desa-desa dengan angka stunting tinggi," kata Apolonia kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. Tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, stunting juga memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak di masa depan. Karena itu, periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) disebut sebagai fase penting dalam menentukan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Flores Timur Tahun 2025–2029, penanganan stunting menjadi bagian dari tujuan ketiga pembangunan daerah, yakni meningkatkan daya saing kesehatan masyarakat.

Di antara upaya untuk menangani stunting adalah pemberian susu pangan olahan keperluan medis khusus (PKMK) untuk membantu pemenuhan gizi makro dan mikro, serta inovasi KD2R atau keluar dari dalam rumah guna mendorong keluarga agar aktif memanfaatkan layanan Posyandu dan Puskesmas guna mencegah stunting pada anak usia bawah dua tahun.

Selain itu, program makan bergizi gratis (MBG) bakal digencarkan di 63 desa dengan angka stunting di atas 25 persen, dengan total sasaran mencapai 1.133 anak dari 2.657 anak stunting yang tercatat hingga Maret 2026.

Di lokasi sampel awal di Desa Lamatutu, sebanyak 27 balita stunting akan diintervensi dengan bantuan berupa telur ayam sebanyak 4 papan per anak per bulan dan 4 dos susu ZEE per anak per bulan.

Desa ini juga akan didampingi oleh satu orang sukarelawan dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) yang memiliki Tim Pendamping Keluarga di setiap desa.

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya