Liputan6.com, Jakarta - Nama Yakuza Maneges mendadak ramai diperbincangkan publik usai deklarasi organisasi ini viral di media sosial. Organisasi yang lahir di Kediri, Jawa Timur, itu langsung menarik perhatian karena menggunakan nama “Yakuza” yang identik dengan kelompok mafia Jepang.
Namun di balik nama yang terdengar keras dan bernuansa gangster tersebut, Yakuza Maneges justru mengklaim diri sebagai organisasi dakwah, kemanusiaan, dan keadilan sosial.
Advertisement
Organisasi ini resmi dideklarasikan di Kediri pada Sabtu, 9 Mei 2026 oleh Den Gus Thuba Topo Broto Maneges atau Gus Thuba, cucu ulama kharismatik KH Hamim Djazuli, atau biasa disebut Gus Miek.
Dalam berbagai keterangannya, Gus Thuba menegaskan Yakuza Maneges bukan organisasi kriminal. Menurut dia, organisasi tersebut hadir sebagai ruang transformasi sosial dan spiritual bagi orang-orang yang ingin memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar.
“Semangat petarung itu sekarang diarahkan untuk kegiatan spiritual, kemanusiaan, dan tetap bergerak sesuai koridor hukum bersama aparat keamanan,” ujar Gus Thuba melalui akun instagram resminya.
Nama Yakuza sendiri menjadi sorotan utama publik. Banyak warganet awalnya mengira organisasi ini berkaitan dengan mafia Jepang. Namun Yakuza Maneges memiliki makna berbeda.
Y.A.K.U.Z.A. disebut merupakan singkatan dari “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi”. Filosofi itu menggambarkan perjalanan seseorang yang pernah hidup di jalan kelam namun ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik secara spiritual.
Sementara kata “Maneges” berasal dari bahasa Jawa yang berarti jernih atau bersih.
Meski menggunakan nama yang identik dengan kelompok kriminal Jepang, organisasi ini menegaskan dirinya bukan kelompok kriminal, melainkan wadah transformasi sosial dan spiritual.
Yakuza Maneges menyebut dirinya sebagai organisasi Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Humanity and Social Justice. Organisasi ini secara terbuka mengakui sebagian anggotanya berasal dari kalangan preman, mantan narapidana, hingga kelompok masyarakat jalanan yang selama ini dipandang negatif.
“Organisasi Yakuza Maneges seakan memang bernuansa mafia karena memang anggotanya sebagian besar dari kalangan preman, mantan narapidana, bahkan segerombolan mafia, akan tetapi dengan niat dan visi misi yang sangat baik,” tulis keterangan organisasi tersebut.
Pendekatan Metode Dakwah
Pendekatan itu disebut terinspirasi dari metode dakwah Gus Miek yang dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput dan kelompok marginal di luar lingkungan pesantre.
Berada di bawah naungan Majelis Sema’an Al-Quran dan Dzikrul Ghofilin, Yakuza Maneges ingin menjadi ruang pembinaan bagi para “santri jalur kiri”, istilah yang mereka gunakan untuk menyebut orang-orang yang pernah hidup di lingkungan keras namun masih memiliki keinginan untuk berubah.
Organisasi ini memiliki visi menjadi penjaga bagi kelompok lemah, pembela bagi pihak yang benar, sekaligus pembenah bagi mereka yang salah. Dalam praktiknya, mereka mengklaim ingin bergerak di bidang kemanusiaan dan keadilan sosial dengan merangkul masyarakat yang jauh dari agama, termasuk lintas agama.
Yakuza Maneges juga menyebut siap membantu masyarakat yang menghadapi persoalan hukum maupun non-hukum, termasuk masalah fisik, mental, dan psikis. Selain itu, organisasi tersebut mengaku akan ikut memantau berbagai persoalan sosial di masyarakat, termasuk kasus asusila dan kenakalan yang dianggap menyimpang.
Deklarasi Yakuza Maneges turut dihadiri sejumlah pejabat daerah, aparat keamanan, hingga pimpinan organisasi masyarakat dan perguruan silat.
Dihadiri Banyak Orang Penting
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati hadir langsung dalam acara tersebut. Selain itu tampak pula AKBP Edi Herwiyanto dari Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, unsur Polres Kediri, Dandim, Danbrigif, Danyon 521, Kejaksaan, Disbudparpora, hingga PCNU.
Kehadiran aparat keamanan dan pemerintah daerah membuat organisasi ini semakin menjadi perhatian publik. Tak hanya itu, sejumlah pimpinan organisasi besar juga terlihat hadir, mulai dari Ketua Pemuda Pancasila, Ketua GRIB Jaya Kediri, Ketua GRIB Jawa Timur, Ketua Jawara Surabaya, hingga pendiri Sakera.
Deklarasi juga dihadiri pimpinan perguruan silat seperti PSHT, PSHW, Pagar Nusa, dan IKSPI Kera Sakti, serta beberapa pimpinan LSM di Kediri.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati turut memberi selamat atas berdirinya organisasi tersebut.
"Selamat atas deklarasi resmi Organisasi Yakuza Maneges Pusat dan Wilayah Kediri Raya. Semoga langkah ini menjadi awal yang baik untuk terus berkontribusi, menjaga kebersamaan, dan menghadirkan energi positif bagi Kediri Raya maupun Indonesia,” ujarnya.