Liputan6.com, Surakarta: Jenazah Fathurrahman Al-Ghozi diotopsi tujuh dokter forensik di Gedung Panti Lingga Naryono Layu Rumah Sakit Umum Daerah Muwardi Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (16/10), sekitar pukul 23.00 WIB. Otopsi itu dipimpin dokter Mun`im Idris [baca: Al-Ghozi Diotopsi di RS Muwardi Solo].
Menurut Mun`im, di dada jenazah Al-Ghozi terdapat tiga luka tembak dari arah depan. Dia menyimpulkan luka tersebut akibat tembakan menggunakan senjata laras panjang. Mun`im juga menduga tembakan itu bisa jadi dilakukan dari jarak jauh atau jarak dekat tetapi menggunakan penghalang.
Dari kondisi jenazah, Mun`im menduga ada upaya pengaburan karena sudah ada tindakan menjahit serta menghilangkan beberapa indikator untuk mengetahui arah tembakan. Apalagi, saat tim forensik membedah jenazah, kondisi fisik Al-Ghozi telah terisolir formalin sehingga agak menghambat proses otopsi. Proses otopsi memakan waktu cukup lama, yakni sekitar tiga jam. Setelah selesai diotopsi sekitar pukul 02.00 WIB, jenazah langsung dibawa kembali ke Madiun, Jawa Timur, untuk diserahkan ke keluarga.
Sebelum jenazah Al-Ghozi diotopsi, ratusan simpatisan anggota Majelis Mujahidin Indonesia serta sejumlah elemen Islam Surakarta hadir menyambut kedatangan jenazah. Salah satu anggota Tim Pembela Muslim Fahmi Bahmid menyatakan, dengan hasil otopsi, pihaknya akan meminta penjelasan pemerintah Filipina tentang kronologis penembakan Al-Ghozi. "Kebenaran harus diungkap," kata Fahmi, tegas.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Mun`im, di dada jenazah Al-Ghozi terdapat tiga luka tembak dari arah depan. Dia menyimpulkan luka tersebut akibat tembakan menggunakan senjata laras panjang. Mun`im juga menduga tembakan itu bisa jadi dilakukan dari jarak jauh atau jarak dekat tetapi menggunakan penghalang.
Dari kondisi jenazah, Mun`im menduga ada upaya pengaburan karena sudah ada tindakan menjahit serta menghilangkan beberapa indikator untuk mengetahui arah tembakan. Apalagi, saat tim forensik membedah jenazah, kondisi fisik Al-Ghozi telah terisolir formalin sehingga agak menghambat proses otopsi. Proses otopsi memakan waktu cukup lama, yakni sekitar tiga jam. Setelah selesai diotopsi sekitar pukul 02.00 WIB, jenazah langsung dibawa kembali ke Madiun, Jawa Timur, untuk diserahkan ke keluarga.
Sebelum jenazah Al-Ghozi diotopsi, ratusan simpatisan anggota Majelis Mujahidin Indonesia serta sejumlah elemen Islam Surakarta hadir menyambut kedatangan jenazah. Salah satu anggota Tim Pembela Muslim Fahmi Bahmid menyatakan, dengan hasil otopsi, pihaknya akan meminta penjelasan pemerintah Filipina tentang kronologis penembakan Al-Ghozi. "Kebenaran harus diungkap," kata Fahmi, tegas.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)