Usia Berapa Anak Seharusnya Diajarkan Mengaji? Hafiz 30 Juz Bocorkan Jawabannya

Pada usia berapa anak seharusnya diajarkan mengaji? Ustaz muda sekaligus hafiz 30 juz berikan penjelasan.

oleh Ricka Milla SuatinDiterbitkan 12 Mei 2026, 14:54 WIB
Ilustrasi Islami, muslim, mengaji, membaca Al-Qur'an. (Foto oleh Timur Weber: www.pexels.com)

Liputan6.com, Jakarta - Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu aktivitas spiritual wajib yang harus dilakukan oleh seorang Muslim. Tak heran, para orang tua Muslim mulai mengajarkan dan mendorong anak cepat belajar mengaji bahkan sejak dini.

Disampaikan oleh Widyan Zulda Mahira (25) disapa Dama, Ustaz muda sekaligus Hafiz Al-Qur'an 30 Juz asal Wonosobo, Jawa Tengah bahwa "Sebenarnya pendidikan Al-Qur'an sangat baik dikenalkan sejak anak di usia kandungan, terutama usia 4 bulan dalam kandungan. Mulai banyak diperdengarkan murottal, karena disitu ruh sudah ditiupkan dan indra pendengaran bayi dalam kandungan sudah berfungsi," ujarnya saat dihubungi Liputan6.com pada Senin (11/5).

"Sehingga ketika dilahirkan, tinggal membiasakan hal tersebut. Dan jangan manjakan masa tumbuh kembang anak dengan gadget," lanjutnya.

Memperkenalkan Al-Qur’an Sejak Dalam Kandungan

Ilustrasi bayi dan tali pusarnya. (Sumber Flickr/lunar caustic)

Dijelaskan Dama bahwa, "Hadisnya enggak secara spesifik bilang pendidikan terbaik di usia sekian, namun ada hadis dalam kitab Al Arbain yang mengatakan di usia 4 bulan bayi sudah ditiupkan ruh. Sedangkan itu disandingkan dengan penelitian-penelitian."

Dalam kitab Hadits Arbain no 4 karya Imam an-Nawawi, terdapat sebuah hadis yang menyebutkan empat jenis takdir yang ditulis ketika manusia masih berbentuk janin. Diantaranya menyebutkan bahwa di usia 4 bulan, bayi sudah ditiupkan ruh. Hadis ini diriwayatkan dari Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud RA. Dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah menceritakan:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقَهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Artinya: "Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud nutfah (mani), kemudian menjadi 'alaqah (gumpalan darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging) selama itu juga. Kemudian diutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan roh kepadanya, dan dia (malaikat tadi) diperintahkan menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah) dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.

Demi Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun dia didahului oleh al kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka dia pun masuk ke dalamnya. Dan sungguh, salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka jika jarak antara dia dengan neraka tinggal satu hasta. Namun dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya." (HR Bukhari dan Muslim)

Hal ini juga diperkuat dengan Surat An-Nahl Ayat 78:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.

"Surat An-Nahl ayat 78 tentang manusia dilahirkan dalam kondisi tak berilmu tapi diberikan potensi untuk mendapatkan ilmu dengan pendengaran pengelihatan dan hati nurani," jelas Dama.

Usia Ideal Anak Diajarkan Mengaji

Mengajari anak mengaji sejak dini (pexels.com/@a-darmel)

Meski saat ini Dama lebih banyak mengajar mengaji para lansia, pada masa SMA di tahun 2018–2020 sebelum kuliah dan terjun di bidang keagamaan, ia justru mengawali pengalamannya dengan mengajar Al-Qur’an di TKA (Taman Kanak-kanak Al-Qur'an).

Menurut Dama, untuk belajar mengaji secara aktif, waktu yang ideal biasanya dimulai ketika anak berusia 2 tahun ke atas. Pada usia ini, anak-anak mulai menunjukkan minat terhadap huruf dan suara baru. Mereka berada di fase perkembangan untuk mempelajari sesuatu yang baru, termasuk mengenali huruf hijaiyah dan pelafalan sederhana.

"Idealnya iya usia segitu. Tapi Islam mengajarkan tadi, sejak di dalam kandungan sudah dimulai. Bahkan sampai ketika dilahirkan juga dilanjutkan dengan cara mendengarkan murrotal, orang tua harus konsisten setiap hari," ucap laki-laki lulusan S-2 Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut.

Memang, peran orang tua sangat berpengaruh pada kemauan anak dalam belajar Al-Qur'an. Hal ini pun disetujui oleh Dama, "Sangat berpengaruh (orang tua). Karena orang tua itu justru madrasah pertama bagi anak-anak. Jika hanya mengandalkan orang luar untuk mendidik sepertinya kurang balance, karena lingkungan terbesar dalam adaptasi ada di rumah. Oleh karena itu, orang tua harusnya bisa saling sinergi untuk mendidik putra putrinya dalam belajar Al-Qur'an."

Selain itu, masa usia 0 hingga 5 tahun sering disebut sebagai "Golden Period" atau periode emas perkembangan anak. Di fase krusial ini, otak anak tumbuh sangat pesat—bahkan mencapai 90% ukuran otak dewasa. Ibarat membangun sebuah istana, masa ini adalah waktu meletakkan fondasi terkuat, yang akan menentukan kecerdasan, kemampuan motorik, bahasa, hingga keterampilan sosial-emosional si kecil di masa depan. Sehingga, pembiasaan pembelajaran Al-Qur'an akan sangat baik di usia ini.

"Iya. Di usia 0-2 tahun biasanya lebih mencerna dengan penglihatan dan perasaan. Di usia 2 tahun ke atas mulai bisa mencerna dengan kebiasaan lama yang dilakukan 2 tahun sebelumnya seperti didengarkan murottal dan lain-lain," pungkasnya.

Pertanyaan dan Jawaban seputar Usia Ideal Anak Diajarkan Mengaji

1. Kapan waktu terbaik mengenalkan Al-Qur’an kepada anak?

Menurut Dama, ustaz dan hafiz 30 juz asal Wonosobo, pengenalan Al-Qur’an sebaiknya dimulai sejak anak masih dalam kandungan, terutama saat usia kandungan memasuki empat bulan. Pada fase ini, bayi diyakini sudah ditiupkan ruh dan indra pendengarannya mulai berfungsi sehingga dapat dibiasakan mendengar murottal.

2. Usia berapa anak ideal mulai belajar mengaji secara aktif?

Anak umumnya mulai ideal belajar mengaji secara aktif pada usia dua tahun ke atas. Di usia tersebut, anak mulai tertarik pada suara dan huruf baru sehingga lebih mudah mengenali huruf hijaiyah serta pelafalan sederhana.

3. Mengapa orang tua memiliki peran penting dalam pendidikan Al-Qur’an anak?

Orang tua disebut sebagai madrasah pertama bagi anak karena lingkungan rumah menjadi tempat utama proses adaptasi dan pembelajaran. Konsistensi orang tua dalam membiasakan anak mendengar murottal dan belajar Al-Qur’an sangat memengaruhi minat serta perkembangan anak.

4. Apa hubungan masa golden period dengan belajar Al-Qur’an?

Usia 0–5 tahun dikenal sebagai golden period karena perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat pada fase ini. Pembiasaan belajar Al-Qur’an sejak dini dinilai baik untuk membantu perkembangan bahasa, pendengaran, emosi, dan kemampuan belajar anak.

5. Mengapa anak sebaiknya tidak terlalu dimanjakan dengan gadget saat tumbuh kembang?

Dama menilai penggunaan gadget berlebihan dapat mengurangi fokus anak terhadap pembelajaran dan kebiasaan positif lainnya. Sebaliknya, membiasakan anak mendengar murottal dan berinteraksi langsung dengan lingkungan dinilai lebih baik untuk perkembangan spiritual dan emosionalnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya