Sang Penyambung Lidah Jemaah Haji Indonesia di Baitullah

Petugas Perlindungan Jemaah Seksi Khusus (Seksus) Masjidil Haram Daerah Kerja (Daker) Makkah, Murtini sigap membantu jemaah haji Indonesia yang kesulitan.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 12 Mei 2026, 06:40 WIB
Petugas Linjam Seksus Masjidil Haram Daker Makkah, Murtini, ditemui di sekitar Baitullah, Sabtu 9 Mei 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani/Media Center Haji 2026)

Liputan6.com, Jakarta - Suara langkah kaki bersahutan di pelataran Masjidil Haram. Ribuan jemaah bergerak tanpa jeda menuju area tawaf, sebagian lain berusaha mencari jalan kembali ke terminal pemondokan.

Di tengah arus manusia itu, Petugas Perlindungan Jemaah Seksi Khusus (Seksus) Masjidil Haram Daerah Kerja (Daker) Makkah, Murtini berjalan dari satu titik ke titik lain sambil berulang kali berhenti menjawab pertanyaan jemaah Indonesia yang kebingungan.

Ada yang kehilangan sandal, ada yang terpisah dari rombongan, ada pula lansia yang mendadak tidak sanggup melangkah usai menyelesaikan sa’i.

Di sektor khusus Masjidil Haram, pekerjaan para petugas nyaris tak mengenal jeda. Ketika seorang jemaah kehilangan tas, petugas harus bergerak mencari hingga ke pusat barang hilang di sekitar WC 9.

Saat jemaah lansia tak lagi kuat berjalan menuju terminal, mereka sigap mendorong kursi roda yang disiagakan di setiap pos pelayanan. Dalam sehari, Murtini bisa berkali-kali mengantar jemaah ke Terminal Syib Amir, Ajyad, hingga Jabal Ka’bah.

"Kita tidak pernah tahu kondisi jemaah setelah selesai umrah. Ada yang awalnya sehat, selesai tawaf dan sa’i langsung lemas, kakinya sudah tidak kuat," ujar Murtini saat ditemui tim Media Center Haji di Masjidil Haram, Sabtu 9 Mei 2026.

 

Tugas Semakin Menantang

Petugas Seksus Masjidil Haram Daker Makkah melayani jemaah haji di sekitar Baitullah, Sabtu 9 Mei 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani/Media Center Haji 2026)

Tugas itu semakin menantang ketika kepadatan jemaah memuncak selepas waktu salat. Banyak jemaah salah arah menuju terminal karena kelelahan dan belum mengenali area sekitar Masjidil Haram.

Murtini mengaku harus menghadapi beragam karakter jemaah setiap hari. Sebagian mudah diarahkan, sebagian lain menjawab dengan nada tinggi karena panik atau kelelahan.

"Namanya manusia macam-macam. Ada yang kita tanya baik-baik, jawabnya juga baik. Ada juga yang ketus karena mungkin sudah capek," kata dia sambil tertawa kecil.

Namun bagi Murtini, semua itu menjadi bagian dari pengabdian. Sebelum bertugas di Arab Saudi, seluruh petugas mendapat pembekalan selama sebulan penuh, termasuk latihan mengendalikan emosi saat menghadapi situasi sulit di lapangan. Ia mengatakan, para petugas dilatih untuk tetap ramah dalam kondisi apa pun.

"Kami diajarkan untuk melayani jemaah dengan senyum, walau mungkin hati lagi capek atau dongkol," ucap Murtini.

Di tengah tugas panjang itu, kemampuan berbahasa daerah justru menjadi kekuatan yang tak ia sangka sebelumnya. Sebagai perempuan Lombok, personel TNI yang berdinas di Kodiklat TNI Serpong itu kerap menjadi penyambung lidah bagi jemaah asal Nusa Tenggara Barat yang tidak fasih berbahasa Indonesia.

"Banyak jemaah Lombok yang akhirnya nyaman karena bisa ngobrol pakai bahasa daerah," ucap Murtini.

 

Kisah dari Para Jemaah

Jemaah haji Indonesia beribadah di Masjid Nabawi, Madinah, sebelum digeser ke Makkah. (dok. Media Center Haji 2026)

Salah satu pertemuan yang paling membekas baginya terjadi beberapa hari lalu. Saat itu, ia membantu seorang jemaah lanjut usia asal Lombok yang tersesat dari rombongannya.

Dalam percakapan singkat di pinggir pelataran masjid, jemaah itu bercerita telah menunggu 14 tahun demi bisa berangkat haji. Untuk membayar setoran awal, ia menjual sawah miliknya. Ketika waktu pelunasan tiba, ia bahkan menjual rumah satu-satunya.

"Beliau bilang, 'Saya tidak apa-apa tidak punya rumah, yang penting saya bisa datang ke rumah Allah'," cerita Murtini menirukan ucapan jemaah tersebut.

Kisah-kisah seperti itu, kata Murtini, membuat rasa lelahnya sering hilang begitu saja. Ia merasa sedang menyaksikan langsung perjuangan panjang banyak orang untuk tiba di Baitullah.

Karena itu, ia berharap jemaah tidak ragu meminta bantuan pada petugas PPIH di sekitar Masjidil Haram.

"Kalau ada masalah atau terpisah dari rombongan, jangan malu menyapa petugas. Semua petugas pasti akan membantu," ucap Murtini.

Di balik kesibukan melayani ribuan jemaah setiap hari, Murtini tetap seorang ibu yang merindukan rumah. Selepas bertugas, ia menyempatkan diri menelepon anak-anaknya yang masih duduk di sekolah dasar.

Keduanya, kata dia, terbiasa tidur sambil memeluk dirinya sebelum ia berangkat ke Tanah Suci.

"Yang paling saya kangenin ya anak. Jadi setiap malam saya usahakan tetap telepon," kata Murtini.

Siang itu, percakapan kami kembali terhenti ketika sekelompok jemaah mengaku kelelahan, tidak bisa melanjutkan jalan ke terminal pemondokan.

Murtini langsung menyambut, memberi duduk, dan menanyakan kebutuhan para jemaah di tengah keramaian Masjidil Haram—menjadi penyambung lidah, penunjuk arah, sekaligus penguat hati bagi jemaah Indonesia di Baitullah.

Infografis Rangkaian Ibadah Haji 2026. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya