Liputan6.com, Jakarta - Toyota Motor Corp mengumumkan catatan penjualannya pada tahun fiskal 2025, yang berakhir pada Maret 2026 naik 5,5 persen dibanding sebelumnya. Secara angka, jenama asal Jepang ini, mampu mencatatkan pengiriman dengan nilai 50,68 triliun yen atau US$ 323 miliar.
Disitat dari Kyodonews, pencapaian penjualan Toyota ini, menjadikan perusahaan Jepang pertama yang mencatatkan penjualan tahunan melebihi 50 triliun yen, karena dibantu oleh permintaan yang kuat untuk model hybrid dan efek dari revisi harga.
Advertisement
Namun, meskipun penjualan moncer, keuntungan bersih Toyota pada tahun ini, justru turun 19,2 persen menjadi 3,85 triliun yen.
Hal tersebut, dikarenakan tekanan dari tarif Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi. Sementara itu, untuk laba operasional juga turun 21,5 persen, menjadi 3,77 triliun yen.
Perusahaan tersebut mengatakan dampak tarif terhadap laba operasionalnya mencapai 1,38 triliun yen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,45 triliun yen.
Penjualan kendaraan grup Toyota, termasuk anak perusahaan, yaitu Daihatsu Motor Co. dan Hino Motors Ltd., naik 2,5 persen menjadi 11,28 juta unit berkat permintaan yang kuat di pasar-pasar utama, termasuk Jepang.
Laporan pendapatan terbaru dari produsen mobil terbesar di dunia ini, muncul setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif 27,5 persen pada mobil impor dari Jepang pada April 2025, yang naik tajam dari 2,5 persen.
Tarif tersebut kemudian dinegosiasikan turun menjadi 15 persen pada Juli 2025, dan secara resmi diterapkan pada September 2025.
"Tren kenaikan volume penjualan titik impas belum menunjukkan tanda-tanda melambat," ujar Presiden Toyota, Kenta Kon, dalam sebuah pengarahan daring.
Target Toyota Tahun Depan
Dirinya menambahkan bahwa perusahaan tetap berada dalam posisi untuk tancap gas, yang artinya, Toyota masih mampu terus berinvestasi secara stabil dalam pertumbuhan.
"Alih-alih mengerem sepenuhnya, kami percaya bahwa pendapatan tersebut menempatkan kami pada posisi untuk mengidentifikasi area pemborosan satu per satu dan mengubah serta mentransformasi struktur kami langkah demi langkah," tegas Kenta Ton.
Untuk tahun fiskal berjalan hingga Maret 2027, perusahaan menargetkan laba bersih akan turun 22,0 persen menjadi 3 triliun yen.
Hal ini, disebabkan oleh dampak konflik di Timur Tengah. Sedangkan penjualan sedikit meningkat 0,6 persen menjadi 51 triliun yen.
Sementara itu, laba operasionalnya diperkirakan turun 20,3 persen menjadi 3 triliun yen. Perusahaan tersebut mengatakan kenaikan tarif AS diperkirakan akan mengurangi laba operasional sebesar 1,38 triliun yen, dan dampak ketegangan di Timur Tengah diperkirakan mencapai 670 miliar yen.