Wall Street Melejit Setelah Rilis Data Pekerjaan Amerika Serikat

Indeks S&P dan Nasdaq ditutup perkasa di antara tiga indeks acuan di wall street pada perdagangan saham Jumat, (8/5/2/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 09 Mei 2026, 08:08 WIB
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada Jumat, 8 Mei 2026.(Foto AP/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada Jumat, 8 Mei 2026. Hal ini seiring wall street merespons laporan pekerjaan AS pada April yang lebih baik dari perkiraan dan pelaku pasar mengamati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran.

Mengutip CNBC, Sabtu (9/5/2026), indeks S&P 500 naik 0,84% dan berakhir di 7.398,93. Indeks Nasdaq meroket 1,71% menjadi 26.247,08. Kedua indeks mencapai rekor tertinggi intraday baru dalam sesi itu dan ditutup pada rekor tertinggi. Indeks Dow Jones naik tipis 12,19 poin atau 0,02% menjadi 49.609,16.

Ketiga indeks utama mencatatkan kenaikan mingguan, didorong oleh pendapatan yang kuat. Pendapatan teknologi yang optimis mengangkat Nasdaq hingga 4,5%, sementara S&P 500 naik 2,3%. Keduanya mencatatkan enam minggu berturut-turut yang menguntungkan, menandai rentetan kemenangan terpanjang sejak 2024 untuk tolok ukur pasar yang luas dan indeks yang didominasi teknologi. Indeks Dow Industrials tertinggal dengan kenaikan 0,2% sepanjang minggu ini.

Sentimen pasar didukung oleh laporan Biro Statistik Tenaga Kerja yang menunjukkan jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian meningkat sebesar 115.000 pada bulan lalu, lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones yang hanya 55.000. Tingkat pengangguran AS juga tetap stabil di 4,3%, sesuai dengan ekspektasi.

Namun, harga minyak sedikit lebih tinggi, dengan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,64% menjadi USD 95,42 per barel, setelah AS dan Iran saling baku tembak di Selat Hormuz. Masing-masing pihak mengklaim pihak lain yang menyerang lebih dulu. Komando Pusat AS mengatakan, pasukan militer "mencegat serangan Iran yang tidak beralasan dan membalas dengan serangan pertahanan diri" saat tiga kapal perusak Angkatan Laut AS melintasi jalur air tersebut.

Dalam unggahan Truth Social pada Kamis malam, Presiden Donald Trump mengatakan “tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar telah terjadi pada penyerang Iran.” Ia juga dilaporkan mengatakan, gencatan senjata masih berlaku, dan mengatakan bahwa serangan terhadap target Iran hanyalah “sentuhan ringan.”

Menunggu Tanggapan Iran

Ilustrasi seorang pedagang efek tengah bekerja di lantai Bursa Efek New York atau Wall Street, Selasa, 8 Juli 2025. (Foto: AP/Richard Drew)

Para investor telah menunggu tanggapan dari Iran mengenai proposal untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah setelah media pemerintah Iran melaporkan pada Kamis, Iran sedang meninjau pesan-pesan dari AS yang diterima melalui mediator Pakistan tetapi belum mencapai kesimpulan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada wartawan pada Jumat kalau AS “seharusnya mengetahui sesuatu hari ini.”

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite telah mencapai rekor tertinggi baru sebelum koreksi setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan, negara tersebut tidak akan mengizinkan AS untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz dengan “rencana yang tidak realistis,” demikian dilaporkan oleh Press TV milik pemerintah Iran. Pejabat itu menambahkan bahwa Iran tidak akan membiarkan AS meninggalkan konflik tanpa membayar ganti rugi atas kerusakan yang telah ditimbulkannya.

 

Sentimen Konflik Timur Tengah

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Namun, manajer portofolio senior di Globalt Investments, Keith Buchanan skeptis, kenaikan pasar baru-baru ini dapat berlanjut, terutama mengingat seberapa besar kenaikan tersebut ditopang oleh optimisme seputar pengeluaran modal kecerdasan buatan.

Hal itu telah memicu reli saham memori, dengan Micron Technolog dan Sandisk , misalnya, melonjak 15% dan 16% hanya pada Jumat. Micron mencatatkan kenaikan mingguan hampir 38%, sementara Sandisk naik lebih dari 31%.

“Pasar memperdagangkan valuasi yang tidak menunjukkan risiko yang kita lihat di luar sana,” kata Buchanan.

Ia menilai, potensi konflik Timur Tengah untuk berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan dan dampak buruk yang semakin meningkat terhadap konsumen.

“Ini adalah kisah tentang pengeluaran AI dan efek riaknya, serta pendapatan, yang benar-benar mendorong perekonomian yang, tanpa pengeluaran dan optimisme tersebut, mungkin akan sangat lesu,” ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya