Anak Rupert Murdoch Berniat Beli Majalah New York hingga Vox Media

James Murdoch dinilai melihat peluang untuk mengembangkan kepemilikan media. Ia akan mengucurkan dana ratusan juta dolar AS.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Mei 2026, 21:00 WIB
Taipan media Rupert Murdoch. (Dok. Victoria Jones/PA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu anak Rupert Murdoch, James Murdoch akan menjadi pemilik dari majalah New York dan jaringan podcast Vox Media. Hal ini seiring minat James Murdoch untuk membeli majalah New York dan Vox Media.

Mengutip CNN, Rabu, (6/5/2026), perusahaan investasi Murdoch, Lupa Systems sedang dalam pembicaraan akuisisi senilai USD 300 juta atau sekitar Rp 5,2 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.350). Hal itu menurut sumber kepada CNN.

Namun, belum jelas apakah ada pembicaraan aktif dengan penawar lain.Adapun Vox Media telah menjajaki penjualan secara keseluruhan atau sebagian di tengah lingkungan yang sulit bagi bisnis media digital.

Murdoch mungkin melihat peluang untuk mengembangkan kepemilikan media, yang sudah termasuk saham di Festival Film Tribeca dan produsen hiburan besar di India.

Sementara itu, portofolio majalah New York mencakup majalah cetak unggulan serta situs web yakni The Cut, Vulture, dan Intelligencer.

Jaringan podcast Vox menampilkan puluhan program orisinal, termasuk "Pivot," yang dipandu oleh Kara Swisher dan Scott Galloway, dan "Today, Explained," sebuah acara berita harian populer.

Bagi Murdoch, merek tersebut dapat memberinya pijakan yang signifikan di pasar media Amerika Serikat (AS).

Murdoch, 53 tahun, adalah putra bungsu Rupert Murdoch, taipan media sayap kanan yang mengendalikan Fox News, New York Post, dan media lain di seluruh dunia. Sementara itu, Murdoch senior memiliki majalah New York dari 1976 hingga 1991.

James Murdoch, yang menjabat sebagai CEO 21st Century Fox hingga 2019, memutuskan hubungan dengan kerajaan media keluarganya pada 2020, mengundurkan diri dari dewan direksi Fox Corp di tengah ketidaksepakatan, dan dalam beberapa kasus dengan kecenderungan editorial merek-merek keluarga tersebut.

James juga merupakan penyumbang dana Demokrat terkemuka, dan pandangan politiknya secara luas dipandang lebih moderat daripada ayahnya. Pembicaraan kesepakatan dengan Murdoch pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal. Vox tidak menanggapi permintaan komentar.

Trump Gugat Wall Street Journal dan Rupert Murdoch soal Berita Epstein, Tuntut Ganti Rugi USD 10 Miliar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 6 April 2026. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengajukan gugatan senilai USD 10 miliar atau sekitar Rp163 triliun terhadap The Wall Street Journal dan taipan media Rupert Murdoch pada Jumat (19/7/2025). Hal ini terjadi sehari setelah surat kabar itu menerbitkan laporan yang membahas hubungannya dengan pengelola dana yang juga terdakwa konspirasi dan perdagangan seksual pada anak, Jeffrey Epstein.

Pada hari yang sama, seperti dilansir AP, Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) meminta pengadilan federal untuk membuka transkrip dewan juri dalam kasus perdagangan seks Epstein. Pemerintahan Trump tengah berupaya meredam badai kritik yang muncul setelah pengumuman bahwa mereka tidak akan merilis berkas tambahan terkait kasus tersebut, meski sebelumnya telah berjanji akan melakukannya.

Kontroversi ini menciptakan keretakan besar antara Trump dan basis pendukung setianya. Beberapa pendukung paling vokal mengecam Gedung Putih atas cara penanganan skandal seks Epstein dan mempertanyakan mengapa Trump tidak menginginkan dokumen-dokumen itu dipublikasikan.

 

Gugat Wall Street Journal

Trump langsung menyatakan akan menggugat The Wall Street Journal tidak lama setelah surat kabar tersebut kembali menyoroti hubungan lamanya dengan Epstein. Dalam artikelnya, surat kabar itu mengungkap adanya sebuah surat bernada seksual yang disebut memuat nama Trump dan merupakan bagian dari album ulang tahun Epstein yang disusun pada tahun 2003.

Trump membantah telah menulis surat dan menyebut laporan itu tidak benar, berniat jahat, dan memfitnah.

Gugatan yang diajukan ke pengadilan federal di Miami itu menuduh surat kabar dan para jurnalisnya telah secara sadar dan ceroboh menerbitkan sejumlah pernyataan palsu, memfitnah, dan merendahkan, yang menurut gugatan tersebut telah menyebabkan kerugian besar secara finansial dan terhadap reputasi sang presiden.

"Gugatan ini diajukan bukan hanya atas nama Presiden favorit Anda, SAYA, namun juga sebagai bentuk pembelaan terhadap SELURUH rakyat AS yang sudah tidak lagi mau menoleransi penyalahgunaan dan kebohongan media yang menyebarkan berita palsu," tulis Trump di platform Truth Social.

Dow Jones, penerbit The Wall Street Journal, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar pada Jumat.

Isi Gugatan

Surat yang diungkap oleh The Wall Street Journal disebut-sebut telah dikumpulkan oleh sosialita Inggris Ghislaine Maxwell sebagai bagian dari album ulang tahun untuk Epstein. Album itu disusun bertahun-tahun sebelum Epstein pertama kali ditangkap pada 2006 dan kemudian berseteru dengan Trump.

Trump mengatakan telah berbicara langsung dengan Murdoch dan pemimpin redaksi The Wall Street Journal, Emma Tucker, sebelum artikel diterbitkan, dan memberitahu mereka bahwa surat tersebut adalah "palsu".

"Itu bukan kata-kata saya, bukan cara saya berbicara. Lagi pula, saya tidak menggambar," tegas Trump.

The Wall Street Journal tidak mempublikasikan foto utuh surat terkait maupun memberikan rincian bagaimana mereka memperolehnya.

Dalam gugatannya, Trump mempersoalkan hal itu. Pihak tergugat, menurut gugatan, "gagal melampirkan surat ... gambar yang dimaksud ... menunjukkan bukti bahwa Presiden Trump menulis atau menandatangani surat itu, dan gagal menjelaskan bagaimana surat tersebut diperoleh."

"Alasan dari semua kegagalan itu adalah karena tidak ada surat atau gambar asli yang benar-benar ada," lanjut isi gugatan, yang kemudian menyatakan, "Para tergugat mengarang cerita ini untuk merusak nama baik dan integritas Presiden Trump serta menampilkan dirinya secara menyesatkan dalam citra yang keliru."

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya