Menepis Kompleksitas Sistem Keamanan Cloud Lewat Teknologi Native

Di balik kecepatan skalabilitas yang ditawarkan raksasa penyedia cloud, ada tantangan keamanan yang sering luput, yaitu kompleksitas instalasi agen keamanan.

oleh IskandarDiterbitkan 06 Mei 2026, 15:47 WIB
CTO sekaligus founder Prosperita Group, Yudhi Kukuh. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Arsitektur digital perusahaan di Indonesia kini tengah mengalami migrasi besar-besaran menuju ekosistem cloud, sebuah sistem kompleks yang terdiri dari komponen saling bergantung: perangkat keras, perangkat lunak, pengguna, engineers, dan mitra. Mereka bahu membahu untuk menyediakan layanan seperti server, penyimpanan, database, dan AI melalui internet.

Di balik kecepatan skalabilitas yang ditawarkan oleh raksasa penyedia cloud seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud Platform (GCP), terdapat tantangan keamanan yang sering kali luput dari perhatian para teknisi yaitu kompleksitas instalasi agen keamanan.

Menjawab tantangan ini, Prosperita Group yang merupakan mitra eksklusif penyedia keamanan siber ESET, memperkenalkan pendekatan baru yang berfokus pada efisiensi di sisi dapur pacu server melalui solusi Cloud Workload Protection.

CTO sekaligus Founder Prosperita Group, Yudhi Kukuh, menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, tim IT terbebani dengan metode proteksi tradisional yang kaku.

"Pada model lama, setiap kali perusahaan menambah virtual server, mereka harus masuk ke dalam sistem operasi dan melakukan instalasi agen keamanan secara manual," ujar Yudhi, Rabu (6/5/2026) di Jakarta.

Ia menilai proses ini tidak hanya memakan waktu operasional, tetapi juga menambah beban kerja pada memori server yang seharusnya bisa dialokasikan secara penuh untuk produktivitas bisnis.

"Dulu, paradigma kita adalah menginstal perangkat lunak di setiap titik virtual secara mandiri. Sekarang, kita bicara soal Cloud Workload Protection yang bersifat cloud native. Artinya, proteksi ini tidak lagi berdiri di atas sistem operasi sebagai beban tambahan yang berat, melainkan terintegrasi langsung dengan proses backend penyedia layanan cloud global tersebut," Yudhi memaparkan. 

 

Perlindungan dengan Satu Klik

Secara teknis, inovasi ini memungkinkan perusahaan untuk mengaktifkan perlindungan hanya dengan sekali klik melalui konsol manajemen terpusat. Karena tidak lagi mengandalkan installer konvensional di dalam virtual machine, sehingga beban kerja sistem menjadi jauh lebih ringan.

"Hasilnya, akan terjadi penghematan sumber daya pada memori dan CPU bisa sangat signifikan, yang pada akhirnya memberikan keuntungan efisiensi biaya bagi perusahaan karena workload lebih optimal," ucap Yudhi, menambahkan.

Lebih lanjut, Yudhi menekankan bahwa kecepatan adalah kunci dalam keamanan siber. Dalam ekosistem cloud, sebuah server baru bisa langsung aktif hanya dalam hitungan lima menit.

Namun, dalam hitungan detik setelah server tersebut memiliki IP publik, bot peretas akan langsung mendeteksi kehadirannya melalui pemindaian otomatis.

"Begitu server aktif di cloud, dalam 5 menit pasti sudah mulai ada serangan yang coba menembus. Itu sudah hukum alam atau native-nya internet. Jika sistem keamanannya belum aktif karena proses instalasi yang ribet, di situlah celah fatal terjadi," klaimnya.

 

Visibilitas Lintas Platform

Keunggulan lain dari solusi ini adalah visibilitas lintas platform. Banyak perusahaan besar di Indonesia menggunakan strategi multi-cloud, misalnya menggunakan AWS untuk basis data dan Azure untuk aplikasi web.

Dengan teknologi terbaru dari ESET yang dibawa Prosperita, seluruh aset yang tersebar di berbagai benua dan penyedia layanan tersebut dapat dikontrol melalui satu layar tunggal. Hal ini meminimalisir risiko kelalaian manusia (human error) dalam memantau notifikasi ancaman yang tersegmentasi.

Yudhi memastikan bahwa peningkatan teknologi ini tidak dibarengi dengan kenaikan harga lisensi. Baginya, keamanan siber adalah sebuah proses perbaikan berkelanjutan untuk menghadapi taktik peretas yang juga makin canggih.

"Kita tidak bicara soal menjual modul tambahan dengan harga mahal. Ini adalah sebuah improvisasi besar di dunia keamanan siber untuk memastikan deteksi berjalan lebih cepat dan distribusi proteksi semakin luas tanpa mengorbankan performa dapur pacu sistem," Yudhi memungkaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya