Liputan6.com, Jakarta - Crocodile Tears, film panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon, siap menyapa bioskop Tanah Air mulai Kamis, 7 Mei 2026. Dibintangi Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani, Crocodile Tears telah berkelana ke 33 festival film dunia. Perjalanan Crocodile Tears dimulai dari pemutaran perdana di Toronto International Film Festival 2024, kemudian melaju ke Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, Tallinn Black Nights Film Festival, dan Goteborg International Film Festival. Berikut sinopsis film Crocodile Tears.
Mama (Marissa Anita), berusaha keras melindungi anaknya, Johan (Yusuf Mahardika), dari dunia yang ia pikir akan menyakiti putranya. Berdua, Mama dan Johan menjalani kehidupan yang tenang sekaligus monoton. Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, saat Arumi (Zulfa Maharani) datang ke hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan sesuatu yang tak terduga.
Advertisement
Produser Mandy Marahimin mengatakan, perjalanan Crocodile Tears tidak singkat. Dari pengembangan hingga produksi yang melibatkan kru dari empat negara, pihaknya butuh waktu 6 tahun. Total sewindu sebelum Crocodile Tears bisa dinikmati penonton di Indonesia.
“Proses casting hampir dua tahun, persiapan yang serius dan rinci selama berbulan-bulan, termasuk membangun rumah di dalam taman buaya yang berdampingan dengan ratusan buaya hidup. Film ini melalui proses kolaboratif dan kami persiapkan dengan hati,” katanya.
Tak Sekadar Memerankan Karakter
Lewat keterangan resmi yang diterima Showbiz Liputan6.com, pada Selasa (5/5/2026), Mandy Marahimin berharap film Crocodile Tears disambut hangat para penonton di Indonesia.
Sementara itu, Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani menjelaskan, mereka tak sekadar memerankan karakter tetapi turut membentuk penokohan bersama sang sutradara.
Ruang Sangat Besar
“Tumpal memberi kami ruang sangat besar untuk masuk ke dalam karakter masing-masing. Ada banyak lapisan emosi yang kami bangun bersama dari awal persiapan sampai syuting,” kata Marissa Anita.
“Pengalaman itu membuat karakter Mama terasa begitu nyata bagi saya,” beri tahunya. Tumpal Tampubolon membenarkan seraya menyebut, film Crocodile Tears adalah karya kolaboratif.
Dengan 17 Draft Skenario
Tumpal Tampubolon dikenal sebagai sutradara dengan pendekatan terbuka yang memberi ruang luas bagi para Heads of Department dan aktor untuk menginterpretasikan naskah secara bebas dan personal.
“Film ini kami kembangkan selama tujuh tahun, dengan 17 draft skenario sampai akhirnya menemukan bentuk yang kami yakin. Justru momen yang paling kami tunggu ketika akhirnya film ini bisa pulang dan bertemu penonton Indonesia,” tuutur Tumpal Tampubolon.