Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat kinerja keuangan yang solid pada triwulan I-2026. Di balik pertumbuhan operasional yang kuat, terdapat faktor non-operasional yang ikut mendongkrak laba perseroan, yakni keuntungan selisih kurs (foreign exchange gain) dari pelemahan yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat.
Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hutabarat, menjelaskan bahwa struktur utang perseroan yang sebagian besar berdenominasi yen memberikan dampak positif di tengah pergerakan nilai tukar global.
Advertisement
"Adanya keuntungan selisih kurs atau foreign exchange gain seiring dengan pelemahan yen Jepang-Japanesian terhadap Dolar AS mengingat sebagai pinjaman perseroan berdominasi dalam mata uang yen," kata Fransetya, dalam PGEO’s Earnings Call: 3M 2026 Results, Selasa (5/5/2026).
Pada periode ini, PGEO membukukan laba bersih sebesar USD 43,9 juta atau melonjak 40,02 persen secara tahunan. Salah satu pendorong utama kenaikan tersebut berasal dari keuntungan selisih kurs yang mencapai sekitar USD 12,21 juta.
Keuntungan ini muncul seiring pelemahan yen Jepang terhadap dolar AS, yang membuat nilai kewajiban utang perseroan dalam yen menjadi lebih rendah ketika dikonversi ke dolar. Dengan demikian, beban keuangan secara efektif berkurang dan memberikan tambahan ruang bagi peningkatan laba.
"Keuntungan selisih kurs atau foreign exchange gain sebesar kurang lebih USD 12,21 juta sebagai dampak dari pelemahan yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat mengingat sebagian pinjaman perseroan berdenominasi dalam mata uang yen," jelasnya.
Menurut Fransetya, kontribusi dari foreign exchange gain ini menjadi salah satu faktor signifikan bagi perusahaan selain pertumbuhan pendapatan operasional.
Strategi Utang Valas yang Berbuah Manis
Fransetya menjelaskan, strategi pembiayaan PGEO yang memanfaatkan pinjaman dalam mata uang yen terbukti memberikan keuntungan dalam kondisi pasar tertentu. Strategi ini pada awalnya bertujuan untuk memperoleh biaya dana (cost of fund) yang lebih kompetitif, mengingat suku bunga yen relatif rendah.
Namun dalam situasi pelemahan yen seperti saat ini, strategi tersebut berubah menjadi “berkah tersembunyi” yang turut memperkuat kinerja keuangan perseroan.
"Pertumbuhan pendapatan dan kontribusi dari foreign exchange gain tetap lebih dominan, sehingga secara keseluruhan laba bersih perseroan tetap mencatatkan peningkatan yang signifikan," ujarnya.
Fundamental Operasional Tetap Jadi Penopang Utama
Di luar faktor kurs, kinerja PGEO tetap ditopang oleh fundamental operasional yang kuat. Pendapatan perseroan tercatat sebesar USD 116,56 juta atau tumbuh 14,82 persen secara tahunan, seiring peningkatan produksi listrik menjadi 1.370 GWh.
"Secara umum perseroan membukakan kinerja yang sangat solid. Pendapatan tercatat sebesar USD 116,56 juta atau tumbuh 14,82 persen secara tahunan atau year on year," ujarnya.
Kontribusi dari Lumut Balai Unit 2 serta optimalisasi kapasitas faktor di sejumlah wilayah turut memperkuat kinerja operasional. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan laba tidak semata bergantung pada faktor eksternal seperti kurs, tetapi juga didukung oleh peningkatan kinerja inti perusahaan.