Liputan6.com, Jakarta - Meski seri Galaxy S26 baru menyapa pasar ponsel global pada awal 2026, Samsung dilaporkan telah menyusun rencana konkret untuk suksesornya, seri Samsung Galaxy S27, yang dijadwalkan meluncur tahun depan.
Laporan terbaru menyoroti strategi baru raksasa teknologi asal Korea Selatan ini, termasuk kehadiran model anyar yang diprediksi akan menjadi primadona yaitu Samsung Galaxy S27 Pro.
Advertisement
Kehadiran model ini disebut-sebut sebagai strategi Samsung untuk mengisi celah pasar setelah Galaxy S25 Edge gagal mencapai target penjualan dan suksesornya ditangguhkan.
Mengutip PhoneArena, Senin (4/5/2026), Samsung Galaxy S27 Pro dirancang bagi pengguna yang menginginkan spesifikasi kelas tertinggi (Ultra) namun tidak membutuhkan aksesori S Pen.
Berdasarkan laporan yang beredar, varian Pro akan membawa spesifikasi yang identik dengan model Ultra, mulai dari sistem kamera premium hingga fitur privacy display.
Perbedaan fisik yang menonjol hanyalah absennya slot S Pen dan ukuran layar sedikit lebih ringkas, yakni 0,1 inci lebih pendek dibandingkan versi Ultra.
Menariknya, langkah penamaan ini seolah menjadi "pertukaran identitas" dengan rival utamanya, Apple. Saat Samsung mulai mengadopsi nama "Pro", Apple justru dikabarkan akan menyematkan nama "Ultra" untuk ponsel lipat (foldable) pertama mereka.
Snapdragon vs Exynos Kembali Berlanjut
Samsung tampaknya akan mempertahankan strategi fragmentasi prosesor berdasarkan wilayah untuk lini Galaxy S27. Namun, ada pengecualian menarik untuk model-model kelas atas.
- Galaxy S27 dan S27 Plus: Mayoritas pasar global akan mendapatkan chipset Exynos 2700, sementara wilayah tertentu seperti Amerika Serikat tetap mendapatkan Snapdragon.
- Galaxy S27 Pro dan S27 Ultra: Kedua model flagship tertinggi ini dikabarkan akan menggunakan chipset Snapdragon secara eksklusif di seluruh pasar global.
Jika informasi ini akurat, Galaxy S27 Pro berpotensi menjadi favorit baru konsumen global karena menawarkan performa Snapdragon yang konsisten tanpa harus membeli model Ultra yang lebih besar dan mahal.
Menakar Performa Exynos 2700
Terkait performa Exynos 2700, bocoran benchmark awal menunjukkan hasil yang menjanjikan. Kendati demikian, Samsung masih menghadapi tantangan teknis yang cukup berat.
Berbeda dengan Exynos 2600 yang mencatat lompatan besar dalam efisiensi, Exynos 2700 diperkirakan masih menggunakan proses fabrikasi 2nm, sama dengan pendahulunya.
Di sisi lain, Qualcomm diprediksi akan mengalihkan seluruh lini Snapdragon ke proses fabrikasi 2nm yang lebih canggih. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa keunggulan performa yang sempat dikejar oleh Exynos pada generasi sebelumnya akan kembali tertinggal.
Laporan internal mengindikasikan bahwa Samsung menyadari potensi kendala pada Exynos 2700, seperti masalah suhu (overheating) saat beban kerja berat serta konsistensi performa dalam penggunaan jangka panjang.
Hal inilah yang disinyalir menjadi alasan kuat mengapa Samsung kembali menerapkan pembagian chipset berdasarkan wilayah.
Optimisme di Tengah Tantangan
Bagi para antusias teknologi, ketergantungan Samsung pada Snapdragon mungkin dipandang sebagai hambatan dalam menciptakan sinergi perangkat lunak (One UI) dan perangkat keras yang lebih optimal. Namun, kehadiran varian Pro memberikan angin segar bagi ekosistem Galaxy.
Dengan spesifikasi papan atas dan ketersediaan chipset Snapdragon secara global, Galaxy S27 Pro diprediksi akan menjadi senjata utama Samsung untuk mendominasi pasar ponsel pintar premium tahun depan.
Meski perjalanan menuju kemandirian chipset Exynos masih panjang, inovasi pada lini perangkat Samsung menunjukkan bahwa mereka tetap responsif terhadap keinginan konsumen.