Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia FIFA 2026 diprediksi akan menjadi salah satu turnamen termahal dalam sejarah, menimbulkan keresahan besar di kalangan suporter, terutama dari Inggris dan Skotlandia. Lonjakan biaya yang signifikan untuk berbagai aspek perjalanan membuat impian menyaksikan tim kesayangan berlaga di Amerika Utara terasa semakin sulit dijangkau. Sejak awal, edisi turnamen ini memang sudah diprediksi akan menguras kantong para penggemar sepak bola.
Kenaikan biaya mencakup hampir semua komponen perjalanan, mulai dari harga tiket pertandingan, akomodasi di kota-kota tuan rumah, hingga transportasi antar kota. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang menjadi tuan rumah bersama akan menjadi saksi bisu perjuangan tim-tim terbaik dunia, namun dengan harga yang fantastis bagi para pendukung. Situasi ini menciptakan tantangan finansial yang besar bagi banyak suporter yang ingin hadir langsung.
Advertisement
Dampak dari kenaikan biaya ini sangat terasa, memaksa banyak suporter untuk mempertimbangkan ulang rencana perjalanan mereka. Beberapa kelompok suporter bahkan telah menyuarakan ancaman boikot sebagai bentuk protes terhadap harga yang dianggap tidak masuk akal. Keresahan ini bukan hanya tentang biaya, tetapi juga tentang aksesibilitas bagi penggemar sepak bola biasa untuk merasakan atmosfer turnamen akbar ini.
Lonjakan Biaya Tiket Pertandingan Piala Dunia 2026
Harga tiket untuk Piala Dunia 2026 telah mengalami peningkatan drastis, mencapai hampir 500 persen dibandingkan dengan Piala Dunia di Qatar tiga tahun sebelumnya. Kenaikan ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk kelompok suporter yang merasa terbebani. Sebagai contoh, tiket termurah untuk pertandingan final bagi anggota England Supporters' Travel Club bisa mencapai antara $4.185 (£3.120) hingga $8.680 (£6.471).
Bahkan, laporan terbaru menunjukkan bahwa harga tiket final dapat menembus Rp110 juta atau sekitar $6.730, dan bahkan mencapai Rp190 juta atau $10.990 di fase penjualan terakhir pada April 2026. FIFA menerapkan sistem harga dinamis (dynamic pricing) yang memungkinkan biaya berubah berdasarkan permintaan, tim yang bermain, kota, dan fase penjualan. Selain itu, FIFA juga membebankan biaya layanan sebesar 15% pada semua pembelian tiket, menambah beban finansial bagi suporter.