Di Balik Pelemahan Rupiah, Ini Peluang Ekonomi yang Bisa Dimanfaatkan

Pelemahan rupiah tak selalu berdampak buruk. Ekonom menilai kondisi ini justru membuka peluang bagi ekspor, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 04 Mei 2026, 15:30 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah kerap memicu kekhawatiran, terutama saat mengalami pelemahan terhadap mata uang asing. Namun di balik tekanan tersebut, tersimpan peluang bagi sejumlah sektor ekonomi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, John Eddy Junarsin, menilai fluktuasi nilai tukar merupakan fenomena kompleks yang tidak bisa dipandang secara hitam-putih.

Menurutnya, dinamika nilai tukar dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi geopolitik global hingga kebijakan domestik.

“Depresiasi dan apresiasi mata uang ditentukan oleh mekanisme pasar. Faktor eksternal dan kebijakan pemerintah sama-sama berperan,” ujarnya kepada Liputan6.com, dikutip Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan, peran Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dalam menjaga stabilitas rupiah juga memiliki batas. Intervensi yang dilakukan bersifat terbatas dan tidak sepenuhnya mampu mengendalikan arah pergerakan mata uang.

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Dalam kondisi tertentu, situasi ini justru memberi keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor.

Produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar global, sementara harga barang impor cenderung meningkat sehingga mendorong konsumsi produk lokal.

“Perusahaan domestik bisa lebih kompetitif, dan ada potensi peningkatan lapangan kerja di sektor produktif,” kata John.

 

Dorong Ekonomi dan Buka Lapangan Kerja

Teller menunjukkan mata uang dolar di Jakarta, Jumat (2/2). Deputi Gubernur BI Senior Mirza Adityaswara mengatakan, bahkan sebelum fluktuasi yang terjadi beberapa hari ini, rupiah sudah undervalue. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, biaya operasional yang relatif lebih rendah di dalam negeri juga dapat menarik investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).

Arus modal masuk tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Namun, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak akan optimal tanpa dukungan kebijakan yang tepat. Terutama di sektor nonpertanian, peningkatan daya saing harus ditopang oleh inovasi dan kreativitas.

Pemerintah juga dinilai perlu memberikan insentif bagi dunia usaha, baik dalam bentuk keringanan pajak maupun kemudahan nonpajak. Perbaikan iklim investasi, seperti pembangunan infrastruktur, stabilitas politik dan keamanan, serta pengembangan talenta, juga menjadi faktor penting.

“Kalau ingin sektor nonpertanian kuat, kuncinya ada pada inovasi dan ekosistem usaha yang kondusif,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya