Demi Tarif Listrik Terjangkau, Batu Bara Tetap Jadi Andalan PLTU

Batu bara Indonesia masih dipertahankan untuk PLTU demi menjaga tarif listrik tetap terjangkau dan stabil.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 02 Mei 2026, 20:40 WIB
Kapal tongkang pengangkut batu bara lepas jangkar di Perairan Bojonegara, Serang, Banten, Kamis (21/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor produk pertambangan dan lainnya pada September 2021 mencapai USD 3,77 miliar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah masih akan mempertahankan pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kebijakan ini diambil untuk menjaga efisiensi energi sekaligus memastikan tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki cadangan batu bara yang melimpah sehingga masih relevan digunakan di tengah dinamika ketahanan energi global. Ia juga menilai transisi energi tidak bisa dilakukan secara terburu-buru, terutama ketika sejumlah negara maju justru kembali memanfaatkan energi fosil tersebut.

“Sekarang Amerika buka opsi batu bara. Di Eropa membuka opsi batu bara, ada minta ke kita untuk 20 juta ton per tahun,” ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu (2/5/2026).

Bahlil menekankan bahwa pemerintah harus mengutamakan kepentingan nasional dan efisiensi dalam menentukan kebijakan energi.

“Saya putuskan, saya bilang batu bara jalan aja dulu. Ini bicara tentang survival mode. Kita bicara tentang efisiensi. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar,” tegasnya.

 

Produksi Batu Bara Nasional Tetap Tinggi

Kapal tongkang pengangkut batu bara lepas jangkar di Perairan Bojonegara, Serang, Banten, Kamis (21/10/2021). Ekspor batu bara menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai 70,33 persen dan kenaikan hingga 168,89 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Data Kementerian ESDM menunjukkan produksi batu bara Indonesia sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Meski turun sekitar 5,5% dibandingkan tahun sebelumnya, angka ini masih melampaui target produksi yang ditetapkan sebesar 739,6 juta ton.

Dari total produksi tersebut, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dialokasikan untuk pasar ekspor. Sementara kebutuhan domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) mencapai 254 juta ton atau sekitar 32%.

Sisanya, sekitar 22 juta ton, disimpan sebagai cadangan untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai batu bara masih menjadi tulang punggung energi nasional, setidaknya dalam jangka menengah, sembari tetap menjalankan agenda transisi energi secara bertahap.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya