Liputan6.com, Jakarta - Tak lama setelah kekerasan dan penelantaran anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta, muncul kasus serupa di Aceh. Rentetan peristiwa ini kembali memantik kekhawatiran orangtua terhadap keamanan anak di tempat penitipan.
Di tengah keterbatasan anak dalam mengungkapkan pengalaman secara verbal, perubahan perilaku kerap menjadi sinyal awal yang tidak boleh diabaikan.
Advertisement
"Nah red flag ini sering kali muncul dari perubahan perilaku anak, karena anak belum selalu bisa menjelaskan dengan kata-kata, oleh karena itu ada beberapa tanda yang bisa kita waspadai," kata Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog kepada Health Liputan6.com.
Berikut red flag yang perlu orangtua perhatikan dan telusuri lebih lanjut:
1. Anak yang tiba-tiba menolak pergi ke daycare tanpa alasan jelas.
2. Anak menjadi lebih mudah takut, cemas, atau sering menangis setelah pulang dari daycare.
3. Perubahan signifikan pada pola makan dan tidur juga bisa menjadi sinyal.
4. Selain itu, anak dapat terlihat lebih agresif atau justru menarik diri dari lingkungan.
5. Ketakutan pada nama pengasuh tertentu.
Selain dari perubahan perilaku, orangtua juga perlu memperhatikan kondisi fisik anak. Bila terdapat luka dengan penjelasan penyebab luka yang tidak konsisten hal tersebut patut jadi perhatian.
Lalu, bila pengasuh daycare defensif atau tidak transparan terhadap kejadian harian itu juga termasuk red flag. Maka dari itu penting untuk memilih daycare yang orangtua bisa mengakses CCTV.
"Kalau akses CCTV diberikan ke orangtua sebenarnya kan tinggal ngecek dari CCTV ya," kata psikolog di Little Shine Psychological Services, Jakarta Barat ini.Dalam situasi ini, orangtua perlu peka bahwa perilaku anak sering kali merupakan bentuk komunikasi.
Ajak Anak Bercerita dengan Ciptakan Rasa Nyaman
Salah satu upaya yang bisa dilakukan agar anak mau bercerita tentang kejadian di daycare yakni dengan menciptakan rasa nyaman tanpa membuatnya merasa diinterogasi.
Lalu, tanyakan pertanyaan terbuka daripada tertutup. "Hindari pertanyaan tertutup seperti 'Hari ini baik-baik saja, kan?' dan gantilah dengan pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya “Tadi main sama siapa?” atau 'Apa yang paling kamu sukai hari ini di daycare?'," tutur Jovita.
Orangtua juga bisa menggunakan media bermain seperti boneka, menggambar, atau roleplay untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya. Dengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi atau panik, serta validasi perasaannya agar ia merasa dipahami.
"Validasi perasaan si anak misalnya 'Ah kamu sedih tadi mainannya dipinjem tapi enggak izin dulu ya temennya.' Jadi divalidasi dan menanggapi dengan santai," sarannya.
Membangun rutinitas komunikasi setiap hari juga penting, bukan hanya saat ada masalah. Semakin anak merasa didengar, semakin besar kemungkinan ia akan terbuka tentang apa yang dialaminya di daycare.