May Day di Makassar: Buruh Tuntut Janji Prabowo Hapus Outsourcing

Buruh di Makassar menyoroti janji penghapusan outsourcing yang pada Hari Buruh 2025 pernah disampaikan Presiden Prabowo, namun sampai sekarang belum terealisasi

oleh FauzanDiterbitkan 01 Mei 2026, 16:50 WIB
Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kota Makassar. (Liputan6.com/ Fauzan)

Liputan6.com, Makassar - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kota Makassar menghadirkan dua wajah berbeda dalam satu momentum perjuangan pekerja. Di satu sisi, ratusan buruh dan mahasiswa turun ke jalan menyuarakan perlawanan terhadap ketimpangan nasib pekerja. Di sisi lain, Pemerintah Kota Makassar memilih pendekatan dialogis lewat “May Day Fest 2026” yang dipusatkan di Lapangan Karebosi.

Di kawasan Fly Over, Jalan AP Pettarani dipenuhi massa aksi dari Aliansi Perjuangan Demokrasi Makassar sejak Jumat (1/5/2025) siang. Mereka datang membawa spanduk, pengeras suara, dan sederet tuntutan yang diarahkan kepada pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo Subianto.

Aliansi yang terdiri dari sedikitnya 18 organisasi buruh dan mahasiswa itu menuntut pengesahan undang-undang ketenagakerjaan yang dinilai lebih berpihak kepada rakyat kecil. Mereka juga mendesak pencabutan Omnibus Law dan penghapusan sistem outsourcing yang dianggap sebagai bentuk 'perbudakan modern'.

Jenderal Lapangan Aliansi Perjuangan Demokrasi Makassar, Noval, mengatakan hingga kini para buruh masih menghadapi berbagai persoalan klasik, mulai dari pemutusan hubungan kerja hingga hak pesangon yang tak kunjung dipenuhi.

"Sudah beberapa tahun RUU ketenagakerjaan yang pro terhadap rakyat kami minta disahkan, tapi sampai hari ini belum juga disahkan," ujar Noval di sela aksi.

Ia juga menyinggung lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran hak pekerja. Menurutnya, banyak laporan buruh terkait pelanggaran ketenagakerjaan yang tidak pernah mendapat tindak lanjut serius.

"Kami melihat banyak kawan-kawan buruh di-PHK, tapi tidak mendapatkan pesangon. Ini menunjukkan ada pembiaran, karena laporan kami soal pelanggaran pasal tersebut tidak pernah digubris," tegasnya.

Tak hanya itu, massa aksi juga menyoroti janji penghapusan outsourcing yang sebelumnya pernah disampaikan Presiden Prabowo. Namun hingga kini, praktik tersebut dinilai masih marak terjadi, termasuk di Makassar dan Sulawesi Selatan.

"Tahun lalu di Monas disampaikan akan menghapus outsourcing, tapi sampai sekarang praktik itu masih merajalela," katanya.

 

Pemkot Makassar Gelar May Day Fest 2026

Buruh di Makassar menyoroti janji Presiden Prabowo yang akan menghapus sistem outsourcing. (Liputan6.com/ Fauzan)

Di tengah suara perlawanan yang menggema di jalanan, suasana berbeda justru terlihat di kawasan Lapangan Karebosi. Pemerintah Kota Makassar bersama Koalisi Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan menggelar “May Day Fest 2026” dengan konsep yang lebih terbuka dan kolaboratif.

Ribuan buruh, pekerja sektor informal, petani, hingga pelaku UMKM berkumpul dalam satu ruang tanpa sekat. Tidak hanya diisi orasi, kegiatan juga diramaikan fun walk, parade solidaritas, hingga dialog langsung antara pekerja dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menilai Hari Buruh tidak semestinya hanya menjadi panggung konfrontasi, melainkan momentum membangun hubungan industrial yang sehat antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja.

"Peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini kami dorong menjadi ruang interaksi yang baik untuk semua pihak," ujar Appi, sapaan akrab Munafri.

Appi menegaskan bahwa buruh memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi kota. Karena itu, pemerintah membuka ruang seluas-luasnya untuk mendengar kebutuhan pekerja, termasuk terkait regulasi dan perlindungan tenaga kerja.

"Mungkin belum semua bisa kami penuhi, tetapi ruang komunikasi akan selalu terbuka menerima aspirasi saudara kita dari buruh," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Pemkot Makassar juga memaparkan sejumlah program perlindungan pekerja, mulai dari pelatihan vokasi, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, hingga jaminan sosial ketenagakerjaan yang disebut telah menjangkau sekitar 81 ribu pekerja.

Tak hanya pemerintah, perwakilan buruh yang tergabung dalam Koalisi Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan turut mengapresiasi pendekatan baru dalam peringatan May Day tahun ini.

Koordinator Koalisi Gerakan Rakyat, Akhmad Rianto, menyebut konsep May Day Fest menjadi terobosan baru karena menghadirkan ruang perjuangan yang lebih kondusif dan inklusif.

"Kami bukan musuh, bukan pula pengganggu. Kami adalah bagian dari bangsa ini yang ingin ikut serta dalam proses pembangunan," ujarnya.

Menurut Akhmad, May Day tahun ini menjadi simbol bahwa perjuangan buruh tidak selalu identik dengan bentrokan dan ketegangan di jalan. Ia berharap model seperti ini dapat memperkuat solidaritas antar elemen masyarakat sekaligus tetap menjaga semangat perjuangan pekerja.

"Kami ingin menghadirkan warna baru dalam perjuangan. May Day bukan lagi tentang konfrontasi, tetapi tentang bagaimana kita bersatu untuk mendorong perubahan yang lebih baik," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya