Penyebab Anak Alami ADHD, Bukan karena Main Gawai

Pakar neurologi anak mengungkapkan fakta penyebab ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

oleh Tim HealthDiterbitkan 01 Mei 2026, 17:00 WIB
Ilustrasi anak dan gawai (Foto: Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat menduga kebiasaan bermain gawai menjadi penyebab anak alami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Namun, pakar neurologi anak ungkap hal tersebut bukan penyebab anak alami ADHD.

"Jadi gadget itu bukan penyebab ADHD, ya," kata dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak, Amanda Soebadi dari RSCM Kencana.

Amanda menjelaskan anak dapat mengalami ADHD karena adanya imbalance atau ketidakseimbangan neurotransmitter, yaitu zat-zat kimia yang ada di otak yang diperlukan untuk fungsi normal otak.

ADHD berkaitan dengan gangguan syaraf yang pada umumnya menyebabkan penderitanya sulit fokus dan impulsif dalam berperilaku. Terjadinya ADHD menurut dia belum diketahui secara pasti, selain dikarenakan genetik.

Dalam kaitannya dengan penggunaan gawai, anak dengan ADHD memiliki ketertarikan lebih terhadap aktivitias-aktivitas yang ditawarkan oleh perangkat pintar tersebut. Adanya rasa seperti mendapatkan hadiah secara instan dengan usaha yang sedikit dan relatif ringan, menjadi hal yang menyenangkan bagi anak dengan kondisi tersebut.

"Ketika kita bermain game dengan HP, otaknya itu mendapatkan stimulus dari gadget itu dan akan terstimulasi dengan cepat. Berubah dengan cepat, tapi hanya membutuhkan usaha yang ringan dan yang repetitif dari si anak. Jadi secara natural karena imbalance neurotransmitter itu," kata Amanda mengutip Antara.

Kebiasaan itu kemudian dijadikan cara instan bagi otak anak untuk mengeluarkan dopamin, sehingga anak jadi malas untuk melakukan aktivitas lainnya.

Penyebab Autisme

Penyebab autisme multifaktor, bisa berupa genetik maupun paparan lingkungan. Amanda mengatakan paparan gadget itu adalah modifier dari gejala yang tampak.

"Anak yang tidak autis kalau mendapatkan paparan gadget berlebihan dan kekurangan kesempatan berinteraksi sosial, mendapat stimulasi dan lain lain itu dia bisa menampakkan gejala seperti anak autis," katanya.

Pada anak yang tidak mengalami autisme tapi terpapar gawai berlebihan, Amanda menyebut proses untuk perbaikan kondisinya relatif lebih cepat dan interaksi sosialnya dapat membaik. Berbeda dengan anak dengan autisme yang memerlukan penanganan lebih spesifik seperti terapi dan lain sebagainya.

"Kalau seorang anak yang memang autis kemudian paparannya hanya dengan gadget saja, nanti paparan interaksi antar manusianya makin sedikit. Tentunya dia akan makin mengisolasi dirinya sendiri," katanya.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya