Gentle Parenting Bukan Pola Asuh Serba Boleh, Tetap Ada Batasan

Kerap dimaknai salah, menjalankan gentle parenting tetap perlu tegas dan ada batasan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 30 April 2026, 21:00 WIB
Menerapkan Gentle Parenting (Foto: Freepik/tirachardz)

Liputan6.com, Jakarta - Gentle parenting tak bisa hanya dimaknai pola asuh lembut. Dalam menjalankan gentle parenting tetap perlu ada ketegasan batasan.

Psikolog Nur Ainy Fardana mengungkapkan gentle parenting merupakan pendekatan yang menekankan hubungan hangat dan penuh empati antara orang tua dan anak, tanpa mengandalkan pendekatan hukuman keras. Tujuannya bukan hanya membuat anak patuh, tetapi membantu mereka berkembang secara emosional, sosial, dan moral dengan kesadaran diri.

“Pendekatan ini berfokus pada lima prinsip utama, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, serta konsistensi dengan batasan yang jelas,” ungkap pakar psikologi dari Universitas Airlangga ini.

Empati dan komunikasi bukan sekadar pelengkap dalam gentle parenting. Tanpa keduanya, pendekatan ini berisiko berubah menjadi permisif atau malah otoriter.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku anak berkaitan erat dengan tahap emosi dan kognitifnya. Empati membantu orang tua memahami apa yang terjadi di balik perilaku anak, sementara komunikasi menjadi sarana untuk membimbing dan mengarahkan.

“Keduanya harus berjalan beriringan agar memberikan dampak jangka panjang, seperti kemampuan anak dalam mengendalikan diri, terbentuknya internalisasi nilai, serta hubungan yang terbuka antara orang tua dan anak,” jelasnya mengutip laman Unair, Kamis, 30 April 2026.

Gentle parenting berbeda dengan pola asuh yang mengandalkan hukuman atau disiplin keras. Dalam pendekatan ini, anak dipandang sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi dan perilaku.

Fokusnya terletak pada pembentukan kesadaran, empati, dan regulasi diri jangka panjang melalui komunikasi, validasi emosi, serta batasan yang konsisten. Mengakui emosi anak tapi tetap mengarahkan perilakunya.

Gentle Parenting Bantu Anak Jadi Sosok Mandiri dan Percaya Diri

Nur meyakini gentle parenting dapat membantu anak menjadi mandiri dan percaya diri. Hal ini bisa terjadi karena anak-anak dibimbing memahami diri, emosi, serta konsekuensi secara konsisten, bukan dibiarkan tanpa aturan.

Hal ini dapat tercapai apabila pendekatan tersebut berjalan dengan empati sekaligus batasan yang jelas.

Ia mengingatkan bahwa penerapan gentle parenting tidak selalu mudah. “Pendekatan ini menuntut kesadaran diri, konsistensi, serta energi emosional yang besar dari orangtua,” tegasnya. 

Secara keseluruhan, gentle parenting dapat menjadi strategi efektif dalam jangka panjang, meskipun bukan tanpa kelemahan. Pendekatan ini mampu menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri, empati, serta regulasi emosi anak karena sejalan dengan pola asuh authoritative.

“Pengasuhan ini menekankan aspek afeksi untuk membangun komunikasi dan empati dengan anak,” pesannya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya