Ibadah Maksimal di Cuaca Ekstrem, Jemaah Haji Jangan Abaikan Waktu Istirahat

Banyak jemaah haji terjebak "euforia ibadah" sehingga memforsir tenaga di tengah cuaca ekstrem sejak tiba di Tanah Suci.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 30 April 2026, 18:00 WIB
Suasana Masjidil Haram di musim haji 2026 pada 23 April 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani/MCH 2026)

Liputan6.com, Makkah - Kepala Seksi Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (PKP2JH), serta Jemaah Lansia dan Disabilitas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Makkah, dokter Ridwan Susuwanto, mengingatkan jemaah haji Indonesia agar tidak mengabaikan waktu istirahat di tengah cuaca panas.

Imbauan ini muncul seiring tingginya antusiasme jemaah beribadah di Masjidil Haram yang kerap berdampak pada kelelahan dan gangguan kesehatan. Ia menilai banyak jemaah terjebak "euforia ibadah" sehingga memforsir tenaga sejak tiba di Tanah Suci.

"Mereka merasa ini momen sekali seumur hidup, jadi fokusnya ibadah terus, digeber. Bahkan ada yang sampai semalaman hingga tahajud," katanya di Kantor Daker Makkah, Selasa, 28 April 2026.

Menurut Ridwan, kondisi tersebut berisiko mengganggu kesehatan jemaah, terutama saat harus mengikuti rangkaian kegiatan haji berikutnya. Selain kurang tidur, ia juga menemukan kebiasaan jemaah yang sengaja mengurangi minum air karena khawatir harus bolak-balik ke tempat wudhu.

"Banyak jemaah yang takut wudunya batal. Apalagi kalau sudah di dalam Masjidil Haram, posisi sudah nyaman, tiba-tiba ingin ke toilet, itu jadi repot," sebut dia.

Ridwan menegaskan, kebiasaan menahan minum justru meningkatkan risiko dehidrasi yang dapat berujung pada kelelahan hingga heat stroke, terutama jika dikombinasikan dengan suhu tinggi dan aktivitas fisik berat. "Kalau kurang minum, cuaca panas, dan kelelahan, itu semua faktor risiko heatstroke,” ujarnya.

 

Pola Minum Berkala

Suasana Masjidil Haram di musim haji 2026 pada 23 April 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani/MCH 2026)

Dokter Ridwan mengimbau jemaah menerapkan pola minum berkala untuk menjaga kecukupan cairan tubuh. Jemaah haji direkomendasikan untuk minum empat teguk air setiap 10 menit, supaya cairan tetap terjaga.

Jemaah haji Indonesia juga diimbau mengatur ritme aktivitas sejak tiba di Makkah agar kondisi tubuh tetap prima. Perjalanan dari Madinah yang cukup melelahkan sebaiknya tidak langsung dilanjutkan dengan umrah wajib. 

"Istirahat dahulu beberapa jam, baru melakukan umrah wajib," ujar Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah, dokter Edi Supriyatna, saat ditemui di KKHI Makkah, Selasa.

Ia menegaskan, waktu pelaksanaan juga perlu diperhatikan agar tidak dilakukan saat cuaca sedang terik.

Untuk melindungi diri dari paparan panas, jemaah dianjurkan menggunakan pelindung seperti payung atau topi saat keluar hotel. Bagi yang mengalami batuk atau gangguan pernapasan, penggunaan masker juga disarankan untuk mencegah penularan di tengah kerumunan.

 

Risiko Penularan Penyakit

Ilustrasi jemaah haji mengenakan ihram. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah)

"Kalau batuk, tolong pakai masker untuk menghindari penularan. Di kerumunan besar, risiko penularan penyakit cukup tinggi," kata Edi.

Ia menambahkan, gejala seperti tenggorokan kering, batuk, rasa gatal pada kulit, serta disorientasi bisa menjadi tanda tubuh kekurangan cairan. Karena itu, menjaga hidrasi dan tidak memaksakan diri menjadi kunci utama.

Selain itu, jemaah tetap dianjurkan melakukan aktivitas fisik ringan untuk menjaga kebugaran, seperti berjalan santai atau peregangan. Latihan sederhana ini penting, terutama setelah perjalanan panjang, untuk mencegah gangguan sirkulasi darah.

"Peregangan bisa dilakukan di kamar atau saat berjalan ringan. Itu lebih aman dan membantu menjaga kebugaran," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya