Rupiah Kemarin Tembus Rp 17.326 per Dolar AS, Hari Ini Makin Dalam

Rupiah melemah ke Rp 17.349 per dolar AS dipicu sikap hawkish The Fed dan kenaikan imbal hasil obligasi global. Simak proyeksinya.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 30 April 2026, 10:50 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (30/4/2026) pagi. Rupiah turun 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp 17.349 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.326 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian investor global menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

"Sentimen kehati-hatian juga tecermin dari tren kenaikan imbal hasil US Treasury dan Surat Berharga Negara (SBN)," katanya dikutip dari Antara.

Dalam pertemuan FOMC April 2026, Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen.

Keputusan tersebut diwarnai empat suara berbeda (dissenting). Stephen Miran mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis points, sementara tiga anggota lainnya menolak sinyal pelonggaran dalam pernyataan resmi.

Pasar pun menilai sikap The Fed cenderung hawkish, yang berdampak pada penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi global.

 

Dampak The Fed dan Proyeksi Rupiah

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

The Fed juga menegaskan terus memantau dampak ekonomi dari perkembangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah, dan siap menyesuaikan kebijakan bila diperlukan.

"Pasar menilai pernyataan tersebut lebih hawkish, yang mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury serta penguatan US Dollar Index pada Rabu (29/4/2026)," ujar Josua.

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa meskipun posisi ketua dapat berubah, ia berencana tetap berada di Dewan Gubernur hingga masa jabatannya berakhir.

Dampaknya ke Indonesia, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) ikut meningkat seiring ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat.

"Kekhawatiran terhadap inflasi juga meningkat sejalan dengan tren kenaikan harga minyak," kata Josua.

Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.275 hingga Rp17.400 per dolar AS dalam waktu dekat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya