Ramayana Kantongi Pendapatan Rp 985,16 Miliar hingga Kuartal I 2026

Berikut kinerja keuangan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) hingga kuartal I 2026,

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 29 April 2026, 18:04 WIB
PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) merilis laporan keuangan kuartal I 2026.

Liputan6.com, Jakarta - PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mencatat penurunan angka penjualan sekitar 14 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I 2026. Capaian itu membuat total pendapatan Ramayana turun 14 persen selama Januari-Maret 2026. 

Mengutip laporan keuangan RALS yang diterbitkan Rabu (29/4/2026), penjualan barang beli putus turun menjadi Rp 699,67 miliar dari Rp 831,07 miliar pada kuartal I 2025.

Komisi penjualan konsinyasi pun merosot dari Rp 314,52 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp 285,49 miliar. Alhasil, total pendapatan Ramayana turun 14 persen secara year on year dari Rp 1,14 triliun menjadi Rp 985,16 miliar. 

Di sisi lain, beban pokok penjualan barang beli putus turun dari Rp 574,79 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp 463,56 miliar. Dengan catatan itu, laba bruto RALS turun 8,62 persen dari Rp 570,81 miliar di kuartal I 2025 menjadi Rp 521,60 miliar di kuartal I 2026. 

Ramayana pada kuartal pertama tahun ini juga mencatat penurunan beban penjualan Rp 25,49 miliar dari Rp 40,39 miliar. Senada, beban umum dan administrasi pun berkurang dari Rp 325,26 miliar menjadi Rp 305,20 miliar. Sementara pendapatan lainnya naik menjadi Rp 36,16 miliar dari Rp 35,73 miliar. 

Sehingga, Ramayana mengantongi laba usaha senilai Rp 217,09 miliar pada kuartal I 2026, turun 9,87 persen dibandingkan laporan kuartal I 2025 sebesar Rp 240,88 miliar. 

Dengan mempertimbangkan pendapatan keuangan, biaya keuangan, hingga beban pajak penghasilan, RALS mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp 193,29 miliar pada kuartal I 2026. Turun 11,28 persen dari Rp 217,87 miliar pada kuartal I 2025. 

Ekuitas perseroan naik menjadi Rp 3,77 triliun pada kuartal pertama 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 3,49 triliun. Total liabilitas naik menjadi Rp 1,76 triliun hingga Maret 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 1,24 triliun. Aset naik menjadi Rp 5,53 triliun hingga Maret 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 4,76 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 2,19 triliun hingga 31 Maret 2026.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, 29 April 2026, harga saham RALS naik 1,81% menjadi Rp 450 per saham. Harga saham RALS dibuka bertambah dua poin menjadi Rp 444 per saham. Saham RALS berada di level tertinggi Rp 456 dan terendah Rp 444 per saham. Total frekuensi perdagangan 848 kali dengan volume perdagangan saham 46.489 saham. Nilai transaksi Rp 2,1 miliar.

 

Emiten RALS Alihkan 203,51 Juta Saham Treasuri

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk menambah tiga gerai baru di bulan Desember. 

Sebelumnya, manajemen PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) memutuskan mengalihkan saham hasil pembelian kembali atau saham treasuri kepada pemegang saham perseroan yakni PT Ramayana Makmursentosa.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (28/2/2026), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk mengalihkan 203.513.800 saham treasuri dengan menjual di luar bursa efek.

Perseroan akan mengalihkan saham treasuri kepada Ramayana Makmursentosa mulai 27 Maret 2026. Saham treasuri ini merupkan hasil buyback pada 21 Agustus 2015-24 November 2015. Adapun hubungan afiliasi dengan perseroan, PT Ramayana Makmur Sentosa merupakan pemegang saham utama perseroan. PT Ramayana Makmur Sentosa bergerak di bidang real estate yang dimiliki sendiri atau yang disewakan, arena bermain, hotel bintang dan fasilitas lapangan.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat, 27 Februari 2026, harga saham RALS melemah 0,99% ke posisi Rp 500 per saham. Saham RALS dibuka stagnan di posisi Rp 505 per saham. Harga saham RALS berada di level tertinggi Rp 505 dan terendah Rp 498 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 803 kali dengan volume perdagangan saham 42.443 saham. Nilai transaksi Rp 2,1 miliar.

 

 

Dicecar BEI soal Volatilitas Harga Saham, Ramayana (RALS) Kasih Jawaban

Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/7/2024) menunjukan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) memberikan jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait permintaan penjelasan soal informasi atau fakta material atas volatilitas transaksi efek perusahaan atau volatilitas transaksi saham perseroan.

Direktur Ramayana Lestari Sentosa Andreas Lesmana mengutarakan, pihaknya tidak tahu menahu soal adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan.

"Perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.04/2015 Tentang Keterbukaan Informasi Atau Fakta Material Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik," ujarnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (28/10/2025).

Dengan mempertimbangkan keterbukaan informasi yang telah dilakukan, pengelola jaringan toko swalayan Ramayana tersebut juga mengaku tidak memiliki informasi, fakta, atau kejadian penting lainnya yang belum diungkapkan kepada publik yang dapat mempengaruhi harga efek perseroan.

 

Belum Ada Aksi Korporasi

Pekerja bercengkerama di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). IHSG ditutup naik 3,34 poin atau 0,05 persen ke 5.841,46. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, perseroan juga tidak mengetahui adanya aktivitas dari pemegang saham tertentu, sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK Nomor 11/POJK.04/2017. Ramayana pun menyatakan tidak punya rencana untuk melakukan tindakan korporasi di sisa akhir 2025 ini.

"Perseroan belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat, termasuk rencana korporasi yang akan berakibat terhadap pencatatan saham Perseroan di Bursa (paling tidak dalam 3 bulan mendatang)," tulis Andreas.

Lebih lanjut, Ramayana juga telah mendapatkan konfirmasi kepada pemegang saham utama, bahwa saat ini tidak terdapat rencana material terkait perubahan kepemilikan saham dalam waktu dekat.

"Perusahaan akan terus memantau perkembangan dan, apabila terjadi perubahan signifikan, akan menginformasikannya kepada publik sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku," pungkas Andreas.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya