OpenAI Akhiri Eksklusivitas dengan Microsoft, Kini Bebas Masuk ke Semua Layanan Cloud

OpenAI mengakhiri hak eksklusivitas Microsoft, yang kini memungkinkan perusahaan menawarkan model AI terbarunya melalui penyedia layanan cloud lain.

oleh IskandarDiterbitkan 28 April 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi OpenAI dan jawaban dari ChatGPT. (AP Photo/Michael Dwyer, File)

Liputan6.com, Jakarta - OpenAI melakukan amandemen terhadap kesepakatan kerja samanya dengan Microsoft. Langkah strategis ini mengakhiri hak eksklusivitas Microsoft, yang kini memungkinkan OpenAI untuk menawarkan model kecerdasan buatan (AI) terbarunya melalui penyedia layanan cloud lain.

Dalam pengumuman bersama, kedua raksasa teknologi tersebut mengonfirmasi perubahan mendasar dalam kemitraan jangka panjang mereka.

Meski Microsoft tetap menjadi mitra cloud utama dan produk-produk terbaru OpenAI akan diluncurkan lebih dulu di platform Azure, OpenAI kini memiliki kebebasan untuk menggunakan infrastruktur dari penyedia mana pun.

CEO OpenAI, Sam Altman, menegaskan melalui unggahan di platform X bahwa perubahan ini merupakan tonggak penting bagi aksesibilitas perusahaan.

"Kami kini dapat menyediakan produk dan layanan kami di semua platform cloud," tulis Altman, dikutip dari Engadget, Selasa (28/4/2026).

Kesepakatan baru ini juga membawa perubahan signifikan pada struktur lisensi dan bagi hasil antara kedua perusahaan.

Microsoft tetap memegang lisensi atas model dan produk OpenAI hingga tahun 2032. Namun, status lisensi tersebut kini berubah menjadi non-eksklusif.

Microsoft tidak lagi diwajibkan menyetor bagi hasil (revenue share) kepada OpenAI. Sebaliknya, OpenAI akan tetap melakukan pembayaran bagi hasil kepada Microsoft hingga tahun 2030, dengan ketentuan adanya batas atas total pembayaran.

Alasan di Balik Transformasi Kemitraan

Hubungan erat antara Microsoft dan OpenAI telah terjalin sejak tahun 2019 dan melewati berbagai fase kolaborasi. Menariknya, pernyataan bersama pada Februari lalu masih menyebutkan adanya perjanjian eksklusivitas.

Namun, dalam pembaruan terbaru ini, kedua perusahaan berargumen bahwa penghapusan batasan eksklusivitas bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan kepastian usaha. Langkah ini diklaim sebagai upaya untuk memastikan manfaat teknologi AI dapat tersampaikan secara lebih luas kepada masyarakat dan pelaku industri.

Dengan berakhirnya monopoli Azure terhadap teknologi OpenAI, persaingan di pasar infrastruktur cloud diperkirakan akan semakin ketat, terutama bagi kompetitor besar seperti Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud yang kini berpeluang mengintegrasikan model-model unggulan OpenAI secara lebih mendalam.

 

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya