IHSG Ditutup Melemah ke 7.106, Sektor Energi Jadi Penekan

Bursa saham Indonesia terkoreksi, IHSG turun meski sempat menguat sepanjang hari.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 April 2026, 17:55 WIB
Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)pada Senin sore ditutup melemah 22,97 poin atau 0,32 persen ke level 7.106,52. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Senin sore (27/4/2026). IHSG turun 22,97 poin atau 0,32% ke level 7.106,52, setelah sempat bergerak di zona hijau hampir sepanjang hari.

Sejalan dengan IHSG, indeks saham unggulan LQ45 juga ikut terkoreksi dan ditutup di posisi 686,74.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa tekanan jual yang terjadi pada akhir pekan lalu masih membayangi pergerakan pasar.

"Setelah mengalami tekanan jual pada akhir pekan lalu, IHSG sempat bergerak di teritori positif hampir di sepanjang perdagangan, namun kemudian IHSG melemah menjelang penutupan," ujarnya dikutip dari Antara.

Dari sisi domestik, sentimen datang dari rencana pemerintah yang membuka peluang pemberian insentif bagi pasar modal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan insentif akan dipertimbangkan jika program penguatan pasar yang tengah berjalan menunjukkan hasil positif.

Insentif tersebut berpotensi berupa pengurangan pajak, sejalan dengan harapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar ada stimulus fiskal untuk mendukung pasar modal.

 

Data Investasi dan Sentimen Global Campuran

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di tengah tekanan pasar, data investasi asing langsung (FDI) Indonesia menunjukkan tren positif. Realisasi investasi di luar sektor keuangan dan migas tumbuh 8,5% secara tahunan menjadi Rp250 triliun pada kuartal I 2026.

Pertumbuhan ini menandai dua kuartal berturut-turut kenaikan, setelah sebelumnya tumbuh 4,3% pada kuartal IV 2025. Sektor industri logam dasar menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai USD 3,7 miliar.

Dari kawasan regional, mayoritas bursa saham Asia justru ditutup menguat. Investor terlihat mengabaikan belum tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, meski harga minyak mentah global masih tinggi.

Namun demikian, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor yang membayangi pasar.

Iran dilaporkan menawarkan proposal baru kepada Amerika Serikat, termasuk membuka kembali Selat Hormuz dan menunda pembicaraan terkait program nuklir.

 

Sektor Energi Tekan IHSG, Transaksi Tetap Ramai

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sektor energi menjadi penekan utama IHSG dengan penurunan sebesar 1,21%.

Di sisi lain, sejumlah saham mencatatkan penguatan signifikan, antara lain JAWA, ESIP, IFSH, BOBA, dan SMMT. Sementara saham dengan pelemahan terdalam meliputi HOPE, BABY, KDTN, BRNA, dan ENRG.

Aktivitas perdagangan saham terpantau cukup tinggi. Nilai transaksi mencapai Rp16,57 triliun dengan volume 33,17 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,20 juta kali transaksi.

Sebanyak 408 saham menguat, 264 saham melemah, dan 147 saham stagnan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya