Bukan Cuma Nutrisi, Ini Kunci agar Tumbuh Kembang Anak Optimal

Selama ini nutrisi dianggap paling penting agar tumbuh kembang anak. Namun, ada empat aspek lain yang juga perlu diperhatikan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 27 April 2026, 12:30 WIB
Dokter spesialis anak Dewi Kartika bicara tentang aspek penting dalam tumbuh kembang anak saat berada di Mika Daycare and Preschool.

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orangtua masih menganggap kunci utama tumbuh kembang anak terletak pada makanan bergizi. Padahal, tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh lebih dari sekadar nutrisi seperti disampaikan dokter spesialis anak Dewi Kartika.

“Sebetulnya ada lima pilar tumbuh kembang supaya anak bisa optimal,” ujar wanita yang karib disapa Deka itu.

Kelima pilar tersebut meliputi nutrisi, stimulasi, kelekatan (attachment), tidur cukup serta lingkungan yang aman dan bebas stres.

Perihal nutrisi, Deka menyoroti kebiasaan anak makan sambil menonton. Banyak orangtua membiarkan hal ini demi memastikan anak tetap makan. Padahal, kebiasaan tersebut justru bisa menghambat pembentukan pola makan yang baik.

Deka mengatakan salah satu cara yang terbukti membantu adalah makan bersama, baik dengan keluarga maupun teman sebaya.

Selain itu, makan bersama orang lain juga lebih berani mencoba makanan baru karena melihat apa yang dimakan orang di sekitarnya.

“Kalau lihat temannya makan sesuatu, dia jadi ikut tertarik mencoba,” ujar Deka saat ditemui di Mika Daycare and Preschool BSD, Tangerang Selatan pada Sabtu, 25 April 2026.

Kedua, stimulasi. Deka menekankan bahwa stimulasi terbaik bagi anak adalah interaksi dua arah atau yang dikenal sebagai serve and return.

Interaksi ini terjadi ketika anak berbicara dengan orang lain misalnya saat bermain atau berbicara. Bila anak dibiarkan menonton televisi atau handphone jadinya bersifat pasif. Tidak ada respons timbal balik yang dibutuhkan anak untuk berkembang.

“Kalau nonton TV atau layar itu tidak ada interaksi. Misalnya anak bereaksi tapi apa yang terjadi di layar tidak merespons anak,” jelasnya.

 

Kelekatan Tak Kalah Penting

Pilar lain yang tak kalah krusial adalah kelekatan atau attachment antara anak dan pengasuh.

Dewi menekankan pentingnya kehadiran primary caregiver yang konsisten, terutama pada usia 0–2 tahun. Pergantian pengasuh yang terlalu sering dapat membuat anak merasa tidak aman dan berdampak pada perkembangan emosionalnya.

“Anak butuh merasa hidupnya stabil, tidak berubah-ubah terus. Kalau pengasuh sering berganti, itu bisa memengaruhi rasa aman dan kepercayaan dirinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, anak yang kehilangan rasa aman bisa menjadi lebih sulit mengeksplorasi lingkungan dan bahkan berpengaruh hingga dewasa, seperti munculnya rasa tidak percaya pada orang lain.

 

Tidur Cukup

Aspek selanjutnya adalah tidur yang cukup. Deka mengatakan anak yang memiliki jadwal tidur cukup dan teratur cenderung lebih jarang sakit.

Tidak hanya itu, tidur juga membantu proses konsolidasi memori yakni anak “menguatkan” apa yang telah dipelajari hari itu.

“Setelah belajar sesuatu, lalu tidur, biasanya anak akan lebih bisa saat bangun,” kata Deka.

Kelima, lingkungan yang aman dan bebas stres. Dengan rutinitas yang konsisten serta pengasuh yang tetap, anak akan merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

“Kalau lingkungannya terstruktur dan konsisten, itu akan membantu membentuk anak menjadi pribadi yang lebih percaya diri saat dewasa,” tutup Dewi.

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya