Rupiah Menguat ke Rp 17.211 per Dolar AS, Tapi Masih Dibayangi Risiko Global

Nilai tukar rupiah menguat ke Rp 17.211 per dolar AS, namun tekanan global dari konflik AS-Iran masih membayangi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 April 2026, 10:20 WIB
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. Nilai tukar rupiah naik tipis, analis prediksi masih rawan melemah akibat sentimen global. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi ini. Rupiah naik 18 poin atau 0,10% menjadi Rp 17.211 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp 17.229 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah masih berpotensi tertekan dalam jangka pendek.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS seiring gagalnya putaran kedua negosiasi perdamaian AS–Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dan menguatkan dolar AS,” katanya dikutip dari Antara.

Kegagalan negosiasi tersebut turut memicu kenaikan harga minyak global, yang pada akhirnya memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Dengan kondisi ini, meskipun rupiah sempat menguat, tekanan eksternal dinilai masih cukup besar dan berpotensi membalikkan arah pergerakan.

 

Sentimen Global dan Domestik Tekan Rupiah

Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta, Jumat (2/2). Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di level Rp13.700 hingga Rp13.800.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari sisi global, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak akan melakukan negosiasi di bawah tekanan, ancaman, maupun blokade.

Ia menyebut bahwa pengalaman negosiasi sebelumnya justru memperburuk kepercayaan publik karena dialog dilakukan bersamaan dengan sanksi dan tekanan.

Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga masih cenderung lemah. Hal ini dipengaruhi kondisi defisit anggaran serta belum adanya sinyal kenaikan suku bunga dari Bank Indonesia.

“Walau demikian, seperti yg disampaikan pada hari Kamis (23/4), BI akan meningkatkan intensitas intervensi untuk mendukung rupiah,” ujar Lukman.

Berdasarkan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.200 per dolar AS dalam waktu dekat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya