Kebakaran Berulang di 5 Kelurahan Jakarta, Ternyata Ini Penyebab Utamanya

Dari lima faktor utama penyebab kebakaran, masalah kelistrikan yakni korsleting listrik menjadi pemicu dominan.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 25 April 2026, 09:38 WIB
ilustrasi kebakaran (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat ada lima kelurahan di ibu kota yang kerap dilanda kebakaran sepanjang 2021-2025. Menurut Kapusdatin BPBD DKI, Mohamad Yohan mayoritas sebaran wilayahnya ada di Jakarta Barat.

“Berdasarkan karakteristik wilayah dan data umum mengenai insiden kebakaran di Jakarta, kelima kelurahan tersebut Kapuk, Cengkareng Timur, Penjaringan, Pegadungan, dan Pulogebang,” kata Yohan kepada wartawan di Jakarta, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Yohan membeberkan, wilayah-wilayah tersebut memiliki beberapa kemiripan pola yang menjadi pemicu tingginya frekuensi kebakaran. Dari lima faktor utama penyebab kebakaran, masalah kelistrikan yakni korsleting listrik menjadi pemicu dominan.

“Secara statistik di Jakarta, sekitar 70-80 persen kejadian kebakaran dipicu oleh korsleting listrik,” ucap Yohan.

Di wilayah seperti Kapuk dan Penjaringan, juga ditemukan terdapat kombinasi antara beban berlebih penggunaan alat elektronik yang melampaui kapasitas daya bangunan dengan penggunaan kabel atau stopkontak yang tidak berizin SNI, terutama di permukiman padat.

Faktor kedua, kepadatan bangunan dan material mudah terbakar. Yohan bilang, kelurahan seperti Kapuk, Cengkareng Timur, dan Penjaringan dikenal memiliki area permukiman yang sangat rapat dengan konstruksi semi-permanen.

“Banyak bangunan yang masih menggunakan material kayu atau triplek, sehingga api merambat dengan sangat cepat sebelum petugas tiba,” ungkapnya.

Selain itu jarak antar bangunan juga berdampak. Ketiadaan jarak antar bangunan atau dinding yang berhimpitan membuat fire spread atau perambatan api sulit dikendalikan saat terjadi kebakaran.

Zona Campuran Hunian–Industri hingga Human Error

Faktor ketiga, aktivitas industri rumah tangga dan pergudangan. BPBD DKI Jakarta merinci bahwa wilayah Cengkareng Timur, Pegadungan, dan Pulogebang memiliki banyak zona campuran antara hunian, industri kecil (konveksi, bengkel), dan gudang.

Tidak hanya itu, juga ditemukan penyimpanan bahan Kimia atau material yang mudah terbakar, seperti stok kain, plastik, atau bahan kimia tanpa sistem proteksi kebakaran yang memadai. Bahan-bahan ini meningkatkan risiko api skala besar.

Kemudian, kelalaian operasional semisal Aktivitas pengelasan atau penggunaan kompor industri yang kurang/tidak diawasi juga berpengaruh besar.

“Faktor keempat tantangan geografis dan infrastruktur. Meskipun bukan penyebab langsung ‘api’, faktor ini menyebabkan frekuensi laporan tetap tinggi karena api kecil sulit dipadamkan secara mandiri,” kata Yohan.

Dia merinci tantangan geografis dan infrastruktur yang dimaksud berupa akses jalan yang sempit hingga keterbatasan sumber air. “Di beberapa area padat, akses ke hidran mandiri atau sumber air alami seringkali tertutup oleh bangunan liar,” ujar Yohan.

Terakhir, faktor manusia atau human error meliputi kelalaian penggunaan kompor, serta pembakaran sampah juga kerap menjadi penyebab terjadinya kebakaran di lima wilayah tersebut.

Oleh sebab itu, secara berkala BPBD DKI Jakarta melakukan langkah mitigasi yang secara umum dilakukan terhadap wilayah-wilayah tersebut.

“Pihak BPBD dan Dinas Gulkarmat biasanya memprioritaskan wilayah-wilayah ini untuk program Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) dan pemasangan Lampu Otomatis Pemutus Arus (LOVA) guna menekan angka kebakaran akibat korsleting listrik,” tandasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya