Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin anjlok pada sesi kedua hingga penutupan perdagangan saham, Kamis (23/4/2026). Tekanan IHSG ini terjadi di tengah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mayoritas sektor saham tertekan.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup tersungkur 2,16% menjadi 7.378,60. Indeks saham LQ45 melemah 2,73% menjadi 715,87. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Advertisement
Pada sesi kedua perdagangan saham Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.582,50 dan level terendah 7.378,60. Sebanyak 505 saham melemah sehingga bebani IHSG. 192 saham menguat dan 123 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 3.079.440 kali dengan volume perdagangan saham 54,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 20,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.278.
Dari 11 sektor saham, sektor saham transportasi naik 2,5%. Sebagian besar sektor saham melemah sehingga menekan IHSG. Sektor saham energi turun 1,54%, sektor saham basic melemah 1,94%, dan sektor saham industri terpangkas 3,41%.
Lalu sektor saham consumer nonsiklikal terperosok 0,59%, dan sektor saham consumer siklikal tergelincir 3,43%, dan catat koreksi terbesar.Selanjutnya sektor saham kesehatan melemah 1,45%, sektor saham keuangan turun 1,22%, sektor saham properti merosot 1,48%. Kemudian sektor saham teknologi turun 2,36% dan sektor saham infrastruktur terpangkas 2,33%.
Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menuturkan, pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian karena telah menyentuh kisaran 17.300 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ia menilai, pelemahan rupiah juga tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan global dolar Amerika Serikat.
“Indeks Dolar AS (DXY) relatif bergerak stabil, sehingga tekanan terhadap Rupiah tampak lebih mencerminkan faktor domestik. Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter,” kata dia.
Kenaikan Harga Minyak
Ia menambahkan, di sisi lain, tren kenaikan harga minyak global tembus USD 100 per barel menambah tekanan terhadap fiskal. “Dari sisi moneter, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi rupiah. Ini mengindikasikan perlu peran lebih agresif dan insentif khususnya penyediaan likuiditas USD di pasar,” kata dia.
“Kondisi semakin kompleks dengan adanya tekanan eksternal dan persepsi risiko, termasuk isu MSCI, sovereign downgrade, serta konfirmasi outlook negatif sektor perbankan baru-baru ini oleh Fitch Ratings. Hal ini tentu berdampak pada daya tarik pasar obligasi negara di tengah kebutuhan pembiayaan yang meningkat,” ia menambahkan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas bergerak terkoreksi. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran investor akan konflik di Timur Tengah meskipun ada pembicaraan gencatan senjata, kemudian terdapat kabar Iran menyita dua kapal komersial di Selat Hormuz.
“Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS yang saat ini berada di level 17.300,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Gerak Saham
Harga saham BBCA melemah 0,39% menjadi Rp 6.425 per saham. Harga saham BBCA dibuka stagnan di Rp 6.450 per saham. Saham BBCA berada di level tertinggi Rp 6.550 dan terendah Rp 6.425 per saham. Total frekuensi perdagangan 25.951 kali dengan volume perdagangan saham 1.190.096 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 769,5 miliar.
Harga saham ASGR bertambah 0,78% menjadi Rp 1.930 per saham. Saham ASGR dibuka naik lima poin menjadi Rp 1.920 per saham. Harga saham ASGR berada di level tertinggi Rp 1.940 dan terendah Rp 1.905 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 2.653 kali dengan volume perdagangan saham 83.721 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 16 miliar.
Harga saham AKRA ditutup bertambah 1,02% menjadi Rp 1.490 per saham. Saham AKRA dibuka stagnan di posisi Rp 1.475 per saham. Harga saham AKRA berada di level tertinggi Rp 1.525 dan terendah Rp 1.475 per saham. Total frekuensi perdagangan 4.978 kali dengan volume perdagangan saham 173.738 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 26,1 miliar.
Top Gainers-Losers
Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:
- Saham KOBX naik 34,43%
- Saham MAXI naik 33,96%
- Saham SKBM naik 25%
- Saham WBSA naik 24,88%
- Saham PGLI naik 24,53%
Saham-saham yang masuk top losers antara lain:
- Saham DEFI merosot 14,96%
- Saham BOBA merosot 14,79%
- Saham HOPE merosot 14,65%
- Saham COCO merosot 14,62%
- Saham KICI merosot 14,60%
Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:
- Saham BBRI senilai Rp 1,1 triliun
- Saham BUMI senilai Rp 815 miliar
- Saham KOTA senilai Rp 736,3 miliar
- Saham ENRG senilai Rp 730 miliar
- Saham BMRI senilai Rp 625,4 miliar
Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:
- Saham KOTA tercatat 197.590 kali
- Saham COAL tercatat 146.041 kali
- Saham BBRI tercatat 98.623 kali
- Saham ATLA tercatat 78.832 kali
- Saham BUMI tercatat 72.203 kali
Bursa Saham Asia
Mengutip Antara, bursa saham Asia pada Kamis sore ini antara lain indeks Nikkei turun 442,36 poin atau 0,74 persen ke posisi 59.143,50, indeks Hang Seng susut 248,04 poin atau 0,95 persen ke posisi 25.915,20.
Selain itu, indeks Shanghai tergelincir 13,01 poin atau 0,32 persen ke posisi 4.093,25, dan indeks Straits Times terpangkas 58,61 poin atau 1,17 persen ke 4.944,11.