Liputan6.com, Jakarta - Penyandang disabilitas di berbagai daerah tengah berupaya memperebutkan kursi di perguruan tinggi.
Seperti di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur. Sebagian difabel telah menjadi peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Advertisement
Pada Selasa, 21 April, ada 22 peserta disabilitas mulai dari disabilitas daksa hingga Tuli yang mengikuti UTBK di kampus tersebut. Salah satunya Muhammad Pasha Fawwazdian, peserta Tuli dari SMAN 16 Surabaya.
Untuk mengikuti tes ini, dia telah mempersiapkan diri dengan maksimal. Ia menilai soal UTBK kali ini cukup beragam, mulai dari yang mudah hingga sulit, tapi tetap dapat dikerjakan dengan baik.
“Alhamdulillah saya sudah mempersiapkan UTBK ini dengan sebaik mungkin. Soalnya ada yang sulit dan ada juga yang gampang, tapi insyaAllah bisa saya kerjakan,” ujarnya mengutip laman resmi UNAIR, Kamis (23/4/2026).
Dalam tes ini, ia memilih Program Studi Psikologi karena ketertarikannya membantu orang lain, terutama dalam hal konseling. Ia bahkan bercita-cita menjadi psikolog di masa depan. Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi kekuatan besar baginya dalam menempuh proses ini.
“Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai power (kekuatan) dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami perundungan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat,” tuturnya.
Cerita Peserta UTBK Lainnya
Hal serupa juga dirasakan oleh Khalifah Nisyapuri, peserta disabilitas daksa dari SMAN 4 Sidoarjo. Ia mengaku sempat merasa gugup sebelum ujian dimulai, tapi rasa tersebut berangsur hilang berkat fasilitas dan bantuan yang diberikan panitia UTBK.
“Awalnya gugup karena takut soalnya susah, tapi setelah masuk saya merasa senang. Saya banyak dibantu oleh petugas, mulai dari naik lift hingga masuk ke ruang ujian,” ungkapnya.
Khalifah juga mengapresiasi kemudahan akses yang diberikan UNAIR, termasuk bantuan mobilitas dari lantai satu hingga lantai sembilan. Meski mengaku soal cukup sulit, ia merasa lega telah menyelesaikan ujian. Motivasi terbesarnya datang dari melihat banyak mahasiswa disabilitas yang berprestasi.
“Ternyata kita punya kesempatan yang sama, dan itu keren banget. Pesan saya, jangan takut mencoba dan jangan pernah patah semangat,” pesannya.
Kisah para penyandang disabilitas ini menjadi bukti bahwa semangat dan tekad mampu melampaui keterbatasan. Dengan dukungan fasilitas yang inklusif dan lingkungan yang ramah, pihak kampus memang perlu terus berupaya menghadirkan akses pendidikan yang setara bagi semua calon mahasiswa.