PM Terpilih Hungaria Peter Magyar Bersumpah Akan Tangkap Netanyahu, Ini Alasannya

Baru terpilih awal bulan April 2026, PM Hungaria Peter Magyar mau tangkap Netanyahu.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 22 April 2026, 12:45 WIB
Peter Magyar berasal dari keluarga elite di Budapest dengan latar belakang hukum dan koneksi politik. Ia terpilih sebagai perdana menteri Hungaria yang baru pada Senin (13/4/2026). (Dok. AFP)

Liputan6.com, Budapest - Perdana Menteri terpilih Hungaria Peter Magyar menyatakan akan menghentikan rencana penarikan negaranya dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Sikap tersebut sekaligus membuka kemungkinan penegakan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, jika memasuki wilayah Hungaria.

Magyar, yang memenangkan pemilu awal bulan ini dan mengakhiri kekuasaan selama 16 tahun Viktor Orban, menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di Budapest. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya akan tetap mempertahankan keanggotaan Hungaria di ICC.

Menurut Magyar, keanggotaan dalam ICC mengharuskan negara untuk mematuhi ketentuan hukum internasional, termasuk melaksanakan penangkapan terhadap individu yang masuk dalam daftar buronan lembaga tersebut.

“Saya percaya bahwa jika suatu negara adalah anggota Mahkamah Pidana Internasional, dan seseorang yang dicari oleh pengadilan memasuki wilayah kita, maka orang itu harus ditahan,” ujarnya, dikutip dari laman Sky News, Rabu (22/4/2026).

Ia juga mengaku telah menyampaikan sikap tersebut secara langsung kepada Netanyahu, yang sejak 2024 menjadi subjek surat perintah penangkapan ICC terkait dugaan kejahatan perang di Gaza.

Sebelumnya, pemerintahan Orban memutuskan untuk menarik Hungaria dari ICC, sebagian sebagai bentuk penolakan terhadap surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu. Keputusan itu dijadwalkan berlaku mulai 2 Juni mendatang dan berpotensi menjadikan Hungaria satu-satunya negara Uni Eropa di luar yurisdiksi ICC.

Namun, Magyar yang memimpin partai Tisza berhaluan tengah-kanan, menyatakan pihaknya telah meninjau kebijakan tersebut dan memutuskan untuk membatalkannya.

Di tingkat internasional, surat perintah ICC terhadap Netanyahu menuai kritik, termasuk dari mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Sementara itu, Presiden AS saat ini, Donald Trump, tetap menunjukkan dukungan kuat terhadap Netanyahu.

Amerika Serikat sendiri bukan anggota ICC, sehingga tidak terikat pada yurisdiksi lembaga tersebut. Netanyahu diketahui beberapa kali mengunjungi Washington serta kediaman Trump di Florida dalam beberapa tahun terakhir.

Baik Trump maupun Netanyahu sebelumnya dikenal sebagai sekutu politik Orban dan sempat menyatakan dukungan agar pemimpin Hungaria itu tetap berkuasa sebelum akhirnya kalah dalam pemilu terbaru.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya