Bukan Sekadar Penggembira: Perempuan dan Masa Depan Teknologi di Era AI

Industri teknologi membutuhkan perspektif yang beragam, dan suara perempuan sangat penting untuk membangun teknologi yang betul-betul bisa melayani masyarakat.

oleh NurmayantiDiterbitkan 21 April 2026, 15:00 WIB
Nora Wahby, Presiden Direktur Ericsson Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Dunia teknologi yang dibangun dari ide, inovasi, dan kreativitas, masih terus dibayangi oleh stereotip-stereotip lama tentang siapa yang layak berada di dalamnya. Pada era transformasi digital yang pesat dan kebangkitan AI, hal ini bukan sekadar kekhawatiran sosial; ini tentang langkah yang wajib dilakukan oleh bisnis.

Industri teknologi membutuhkan perspektif yang beragam, dan suara perempuan sangat penting untuk membangun teknologi yang betul-betul bisa melayani masyarakat.

Namun, terlepas dari progres yang sudah tercapai, perempuan di seluruh dunia – termasuk di Indonesia – masih menghadapi batasan-batasan yang serupa dan masih ada seiring dengan kemajuan karier mereka di sektor teknologi. Dari akses terbatas untuk kesempatan karier dan peran kepemimpinan, hingga bias yang tidak disadari dan kurangnya representasi, tantangan-tantangan ini bukan hanya menghambat perempuan melainkan juga membatasi potensi dan pertumbuhan industri.

Kesenjangan gender di sektor teknologi masih sangat kuat. Di Indonesia, perempuan mewakili 36% peserta program pelatihan digital, tetapi hanya ada 17% yang kemudian membangun karier mereka pada bidang ini.

Selisih angka ini menunjukkan tantangan yang lebih dalam. Ketika lingkungan bekerja gagal mendukung, mempertahankan, dan memajukan perempuan, industri teknologi bukan hanya kehilangan talenta, melainkan juga membatasi kemampuannya sendiri untuk berinovasi, bertumbuh, serta membangun teknologi yang mencerminkan kebutuhan masyarakat secara utuh.

Oleh karena itu, pertanyaannya tidak lagi tentang kesiapan perempuan untuk berkarier di bidang teknologi, tetapi justru kesiapan ekosistem terhadap perempuan.

Satu faktor penyumbang adalah stereotip yang terus melekat bahwa teknologi adalah ranah maskulin. Industri teknologi masih kerap dianggap sebagai bidang yang didominasi laki-laki. Bias ini – entah subtil ataupun tampak jelas – terus membentuk budaya perekrutan, promosi, dan tempat kerja.

Kurangnya tokoh perempuan panutan turut memperkuat persepsi ini, dan membuat perempuan-perempuan muda kian sulit melihat masa depan mereka di industri teknologi, serta membuat mereka ragu-ragu untuk bahkan sekadar masuk di bidang ini.

Jika potensi demografi ini tidak diimbangi dengan ekosistem yang lebih inklusif, Indonesia berisiko tidak memanfaatkan salah satu kekuatan terbesarnya. Membangun talent pool digital bukan hanya soal pelatihan kemampuan, melainkan juga tentang memastikan perempuan bisa masuk, bertahan, bertumbuh, dan memimpin di sektor teknologi.

Alasan Keberagaman Penting di Sektor Teknologi

Percakapan tentang representasi perempuan dalam teknologi kerap dibingkai sebagai isu kesetaraan. Nyatanya, percakapan ini juga tentang kualitas inovasi yang diproduksi oleh industri.

Teknologi tidak pernah sepenuhnya netral, sebab ia merefleksikan sudut pandang, pengalaman, dan asumsi manusia yang merancang dan membangunnya. Ketika solusi diciptakan oleh grup yang homogen, hasilnya pun akan terbatas. Di sisi lain, tim yang beragam akan lebih siap untuk mengantisipasi kebutuhan di dunia nyata, mempertanyakan bias, dan membangun teknologi yang bekerja untuk spektrum masyarakat yang lebih luas.

Hal ini menjadi lebih krusial pada era kecerdasan buatan. Temuan Ericsson ConsumberLab menunjukkan bahwa adopsi AI di Indonesia berkembang sangat pesat. Hari ini, satu dari lima orang menggunakan AI setiap hari, dengan persentase diproyeksikan mencapai 41% pada 2030. Lebih lanjut, hampir setengah penggunaan AI diprediksi akan berlangsung di luar rumah dan mendorong naiknya kebutuhan akan konektivitas yang bisa diandalkan, aman, dan berada di mana saja.

Seiring dengan teknologi kian melekat di kehidupan sehari-hari, desain dan penyebarannya kian kompleks. Kompleksitas ini menuntut perspektif yang lebih beragam, bukan hanya dalam membangun teknologi tersebut melainkan juga bagaimana teknologi ini diaplikasikan secara bertanggung jawab dan inklusif. Tanpa keberagaman di tim pengembang, risiko bias bawaan akan meningkat. Karena itu, tim yang inklusif akan cenderung lebih bisa menciptakan solusi yang kreatif, relevan, dan komprehensif.

Oleh karena itu, melibatkan lebih banyak perempuan dalam teknologi bukan sekadar soal representasi, melainkan untuk memastikan teknologi dapat membantu seluruh lapisan masyarakat. Lebih dari itu, keberagaman juga merupakan keunggulan yang kompetitif. Berbagai riset menunjukan bahwa organisasi dengan tim yang beragam cenderung berinovasi lebih cepat, mengambil keputusan lebih baik, serta lebih responsif terhadap dinamika kebutuhan pasar.

Di tengah persaingan ekonomi digital global yang semakin ketat, kemampuan untuk berinovasi secara inklusif akan menjadi penentu. Perusahaan–bahkan negara–yang mampu unggul adalah mereka yang memandang keberagaman bukan sekadar angka yang harus dipenuhi, melainkan sebagai penggerak strategis bagi pertumbuhan jangka panjang dan inovasi.

Peran Industri dalam Membuka Jalan

Perubahan tidak terjadi dengan sendirinya. Industri teknologi perlu mengambil langkah yang terarah untuk membangun lingkungan yang menjadikan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi sebagai bagian utama–bukan sekadar pelengkap.

Di Ericsson, prinsip tersebut telah terintegrasi dalam proses rekrutmen dan pengembangan talenta. Tim yang beragam menjadi kekuatan penting dalam melayani pasar global sekaligus mendorong inovasi.

Sejak bergabung dengan Ericsson pada 2008, saya melihat langsung bahwa ketika perempuan diberikan kesempatan yang setara, kita mampu berkembang dan memberikan kontribusi signifikan bagi organisasi.

Upaya ini juga sejalan dengan ambisi Indonesia untuk mencetak 12 juta talenta digital pada 2030—sebuah target yang tidak mungkin tercapai tanpa partisipasi aktif perempuan.

Di Indonesia, Ericsson turut berkontribusi melalui berbagai inisiatif, seperti kolaborasi dengan Digital Industry Center 4.0 dan penyelenggaraan hackathon yang menghubungkan talenta digital dengan kebutuhan industri.

Partisipasi perempuan dalam berbagai inisiatif tersebut menegaskan satu hal penting: setengah dari populasi tidak bisa hanya menjadi penonton dalam transformasi digital. Mereka harus diberdayakan sebagai kontributor aktif sekaligus penggerak perubahan.

 

 

Inklusivitas adalah Tanggung Jawab Bersama

Mendorong partisipasi perempuan di bidang teknologi adalah tanggung jawab bersama—melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, hingga industri.

Pendidikan harus bisa menumbuhkan minat sejak dini. Perusahaan harus menghadirkan lingkungan kerja yang suportif, sementara komunitas teknologi berperan dalam membangun jaringan yang mampu memberdayakan talenta masa depan.

Tak kalah penting, kita juga perlu mendengarkan pengalaman perempuan yang telah lebih dulu terjun di bidang ini. Perspektif mereka membantu mengungkap tantangan yang nyata sekaligus memberi arah bagi solusi yang lebih relevan dan berkelanjutan.

Membuka Pintu Menuju Masa Depan

Perjalanan saya di industri teknologi menegaskan satu hal: talenta tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kesempatan. Ketika akses dibuka lebih luas, perempuan tidak hanya hadir sebagai partisipan—mereka memimpin, berinovasi, dan mendorong perubahan.

Di era AI, kebutuhan akan ide segar, perspektif yang lebih beragam, dan talenta yang lebih luas menjadi semakin penting. Dalam konteks ini, perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam membentuk masa depan teknologi.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perempuan mampu berkontribusi, melainkan apakah kita sudah siap menyediakan ruang yang setara bagi mereka.

Perubahan nyata tidak lahir dari satu inisiatif semata namun dibangun melalui kombinasi yang berkelanjutan. Mulai dari akses yang lebih terbuka, dukungan yang konsisten, budaya yang inklusif, kebijakan yang tepat, hingga komitmen terhadap akuntabilitas.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya