Liputan6.com, Jakarta - Terhitung sejak 20 Oktober 2024 hingga 15 April 2026 (sekitar 18 bulan), pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menindak sedikitnya 4.198.606 konten negatif di berbagai platform digital.
Berita tersebut menuai perhatian para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (20/4/2026) kemarin.
Advertisement
Informasi lain yang juga populer datang dari Huawei FreeBuds Pro 5 yang resmi rilis di Indonesia.
Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.
1. Komdigi Tindak 4,1 Juta Konten Negatif dalam 18 Bulan, Ini Rinciannya
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus memperketat pengawasan ruang siber nasional. Terhitung sejak 20 Oktober 2024 hingga 15 April 2026 (sekitar 18 bulan), pemerintah tercatat telah menangani sedikitnya 4.198.606 konten negatif di berbagai platform digital.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar, menegaskan bahwa masifnya penindakan ini merupakan representasi kehadiran negara dalam memitigasi risiko aktivitas digital ilegal yang merugikan masyarakat.
Berdasarkan data penindakan, konten perjudian daring (judi online) masih menjadi ancaman utama dengan total 3.292.203 kasus. Angka ini jauh melampaui kategori konten negatif lainnya, yaitu:
- Pornografi: 798.181 kasus.
- Penipuan Digital: 41.494 kasus.
- Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI): 9.217 kasus.
Dari sisi infrastruktur digital, situs web menjadi muara terbesar penyebaran konten ilegal dengan total penanganan mencapai 4,1 juta konten.
2. Huawei FreeBuds Pro 5 Rilis di Indonesia, Fitur TWS Rp 3 Jutaan Ini Curi Perhatian
Huawei baru saja memperkenalkan TWS premium terbarunya, FreeBuds Pro 5, ke pasar Indonesia.
Diumumkan bersamaan dengan peluncuran Mate 80 Pro, TWS ini datang untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang ingin kualitas suara tetapi juga nyaman dipakai berlama-lama baik saat meeting online, menerima panggilan, sampai menemani aktivitas harian.
"Salah satu fitur paling ditonjolkan dari FreeBuds Pro 5 ini adalah Dual-Engine AI Noise Cancellation. Perusahaan mengatakan, TWS baru ini merupakan perangkat pertama mereka yang pakai teknologi ini," kata Edy Supartono, Senior Retail Manager of Huawei Device Indonesia.
Berbekal kombinasi driver frekuensi rendah dan diafragma micro planar frekuensi tinggi mampu meredam suara bising lebih efektif.
Perusahaan mengklaim, teknologi tersebut mampu memproses noise hingga 400.000 kali per detik dan meningkatkan performa noise cancellation sampai 220 persen dibanding generasi sebelumnya.
Tak hanya itu, perusahaan juga menambahkan Awareness Mode diklaim membuat suara dari sekitar terdengar lebih natural. Fitur ini sangat penting untuk pengguna yang ingin tetap mendengar suara di sekitar tanpa harus melepas earbud.
Contohnya saat menunggu pengumuman di stasiun, berbicara singkat dengan orang lain, atau berjalan di area publik. Di sisi audio, FreeBuds Pro 5 membawa pendekatan lebih serius.
Huawei membekali TWS ini dengan dual DSP, DAC, serta dual driver untuk menangani frekuensi tinggi dan rendah. "Kombinasi ini dipadukan dengan ultra-linear dual magnet unit untuk membuat trebel lebih detail dan suara bas lebih dalam," ujar Edy.
3. Inflasi Tembus 3,48 Persen, Platform Cashback Bisa Dimanfaatkan untuk Berhemat
Di tengah kenaikan biaya hidup dan tekanan terhadap daya beli, pemanfaatan teknologi digital melalui platform cashback dan e-commerce kini menjadi strategi andalan masyarakat untuk menjaga stabilitas finansial rumah tangga.
Tren belanja hemat ini terus meningkat seiring dengan adaptasi masyarakat terhadap ekosistem ekonomi digital yang menawarkan efisiensi lebih tinggi.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia menyentuh angka 3,48 persen pada Maret 2026.
Angka itu mencerminkan adanya tekanan nyata terhadap daya beli masyarakat di lapangan. Menanggapi kondisi tersebut, pola konsumsi publik mulai bergeser ke arah belanja daring yang dinilai tidak hanya menawarkan kemudahan akses, tetapi juga insentif finansial berupa promo dan pengembalian dana (cashback).
Chief Commercial Officer MOVA Cashback, Jennifer Tiffany Muliyanto, mengungkapkan fenomena ini menandai transformasi perilaku konsumen di Indonesia. Menurutnya, masyarakat kini cenderung lebih terukur dalam mengelola pengeluaran mereka.
"Saat ini kami melihat adanya perubahan pola berbelanja masyarakat yang sebelumnya konsumtif kini menjadi lebih selektif (hemat)," ujar Jennifer, dikutip dari Antara, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa perusahaan terus mengedukasi publik bahwa platform digital berasis cashback bukan sekadar tren, melainkan instrumen yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menjaga kesehatan finansial.