Pengembangan Madrasah Inklusif di Cirebon Hadapi 3 Tantangan, Termasuk soal Anggaran

Ini tiga tantangan utama pengembangan madrasah inklusif di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 18 April 2026, 07:00 WIB
Pengembangan Madrasah Inklusif di Cirebon Hadapi 3 Tantangan Utama, Termasuk Soal Anggaran. Foto dibuat oleh AI.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, H. Slamet mengungkap tiga tantangan utama dalam pengembangan madrasah inklusif.

Menurutnya, dari sekitar 733 madrasah di Kabupaten Cirebon, sebagian besar masih berstatus swasta, sehingga menghadapi tantangan dalam penyediaan layanan pendidikan inklusif yang optimal.

Tiga tantangan utama yang masih perlu mendapat perhatian bersama adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, serta dukungan anggaran.

“Guru-guru kita sebagian besar belum memiliki kompetensi khusus dalam menangani anak disabilitas, sarana juga masih terbatas, dan anggaran tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun demikian, kami tetap berupaya memberikan layanan terbaik,” kata Slamet mengutip laman resmi Kemenag Jabar, Jumat (17/4/2026).

Untuk menjawab tantangan tersebut, maka digelar rangkaian pelatihan penguatan kapasitas organisasi penyandang disabilitas yang salah satu sesi talkshow-nya digelar pada Kamis (16/4/2026) di Kedawung, Cirebon. Ini adalah bagian dari program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), sebuah kemitraan antara Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar, khususnya dalam penguatan pendidikan inklusif.

Dalam kesempatan ini, Slamet menerangkan bahwa madrasah di bawah naungan Kemenag pada dasarnya telah lama membuka ruang bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

“Sejak awal, madrasah tidak pernah membeda-bedakan. Semua anak diterima, termasuk yang berkebutuhan khusus. Ini bukan hal baru bagi kami, hanya saja saat ini semakin diperkuat dengan regulasi yang ada,” ungkapnya.

Upaya Perkuat Pendidikan Inklusif

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Slamet menyebut bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam memperkuat pendidikan inklusif.

Ia mengapresiasi peran INOVASI yang dinilai mampu memberikan arah dan dukungan nyata bagi pengembangan program inklusi di madrasah.

“Kehadiran INOVASI ini menjadi energi baru bagi kami. Dengan adanya pendampingan dan kolaborasi, kami bisa lebih terarah dalam mengembangkan pendidikan inklusi di madrasah,” ujarnya.

Sekolah Harus Beri Ruang Inklusif

Kegiatan ini juga menghadirkan kisah dari orang tua anak berkebutuhan khusus yang turut menjadi peserta. Salah satunya, Elha, orang tua dari Azka, menyampaikan pengalaman dalam mendampingi anaknya menempuh pendidikan.

“Saya tidak pernah menutup kondisi anak saya. Justru saya jelaskan ke sekolah dan orang tua lain supaya mereka paham. Alhamdulillah, selama ini tidak ada bullying (perundungan), anak saya bisa belajar dan bersosialisasi dengan baik,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.

“Yang penting anaknya mau belajar dan sekolah memberi ruang. Walaupun prosesnya harus pelan-pelan, tapi kami sebagai orang tua merasa sangat terbantu,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya