ADHD pada Orang Dewasa Gejalanya Samar tapi Berdampak pada Produktivitas

Sulit fokus dan kelola waktu jadi tantangan yang dihadapi orang dewasa dengan ADHD.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 17 April 2026, 15:30 WIB
Ilustrasi orang dengan ADHD bekerja. Biasanya sulit fokus dan sulit kelola waktu. Photo by Danial Igdery on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah kondisi gangguan pemusatan perhatian dan perilaku. Kondisi ini tak menetap saat anak-anak tapi berlanjut pada usia dewasa. 

Orang dewasa dengan ADHD kerap tidak menyadari kondisinya tersebut dan orang-orang di sekitarnya bisa jadi tidak sadar. Hal ini terjadi karena gejala ADHD pada orang dewasa biasanya muncul dalam bentuk yang samar.

Meski begitu akan tetapi tetap saja mereka yang mengalami gejala kesulitan untuk fokus, kesulitan mengelola waktu, dan sulit mengendalikan emosi. Kondisi itu dapat mengganggu produktivitas sehari-hari seperti disampaikan psikolog Diana Setiyawati dari Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.

“Memang ADHD nggak terlalu mengganggu dan sering dianggap baik-baik saja, tapi sebenarnya mungkin dia tengah struggle (berjuang) atau mengalami kondisi tidak produktif dalam hidup,” terang Diana.

Jika kondisi tidak diatasi maka akan menimbulkan dampak bagi orang yang mengalaminya. Orang dengan ADHD akan mengalami kondisi tidak produktif, sehingga banyak hal yang tidak dapat dilakukan. Para penderita dari gejala ADHD akan kerap menjadi pelupa dan sulit untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan sesuatu.

Bahkan dampak dari gejala ADHD dapat menyebabkan mengalami underachiever. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut sudah pasti dialami oleh orang dengan gangguan mental. “Salah satu ciri mental illness adalah tidak produktif karena sering pelupa dan susah fokus,” jelasnya mengutip laman UGM, Jumat (17/4/2026).

Penanganan ADHD pada Orang Dewasa

Diana mengungkapkan orang dengan ADHD dewasa tentu masih bisa ditangani. Bagi Diana, melalui pendekatan terapi atau psikiater dengan saran konsumsi obat untuk menjaga fokus, gejala ini perlahan dapat berkurang.

Namun, ia menegaskan bahwa untuk mengatasi hal tersebut utamanya datang dari manajemen diri yang didampingi psikolog atau psikiater. “Sebenarnya sih cara yang paling efektif adalah dari kesadaran untuk bisa me-manage diri me-manage distraksi. Ini perlu terapi dan perlu multidisiplin antara psikiater dan psikolog,” terangnya.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya