Cedera Saat Lari? Ini 5 Penyebab yang Sering Terjadi

Mulai dari sepatu yang tidak tepat hingga mengikuti banyak race dalam waktu berdekatan. Ini penyebab cedera saat lari.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 17 April 2026, 07:00 WIB
Cedera saat lari jangan dibiarkan segera atasi. Ketahui juga penyebab cedera. (Foto dok: Freepik/jcomp).

Liputan6.com, Jakarta - Lari termasuk olahraga yang aman karena gerakan yang dilakukan sama. Namun, bukan berarti bebas cedera. Risiko cedera tetap ada saat melakukan olahraga lari seperti disampaikan dokter spesialis kedokteran olahraga Zeth Boroh.

Zeth mengungkapkan cedera pada olahraga lari biasanya karena beberapa faktor mulai dari sepatu hingga bentuk kaki.

1. Penggunaan Sepatu yang Tidak Tepat

Sepatu yang tidak tepat bisa membuat penggunanya bisa mengalami cedera. Maka pelari mesti mengetahui jenis sepatu yang tepat untuk dirinya.

2. Anatomi Kaki

"Anatomi kaki itu sangat memengaruhi ya, misalnya pada orang dengan telapak kaki datar atau flat foot," kata Zeth dalam peluncuran Thrombovoren Emulgel di Jakarta pada Kamis, 16 April 2026.

Lalu, orang dengan bentuk kaki O dan X juga memengaruhi risiko cedera. "Orang dengan kaki pola X itu kan tidak seimbang, jadi harus diperiksa," tuturnya.

3. Form Lari

Form lari atau postur tubuh saat berlari juga memengaruhi risiko seseorang menghadapi cedera. "Kalau form lari salah ya harus diubah agar tidak mudah cedera. Itu fungsinya ada coach yang melihat seseorang saat berlatih lari, agar larinya efektif," tutur Zeth.

 

4. Obesitas

Dokter spesialis kedokteran olahraga Zeth Boroh bicara soal cedera.

Orang dengan berat badan berlebih dan obesitas yang melakukan olahraga lari lebih rentan mengalami cedera.

"Berat badan yang berat memberikan beban ke lutut dan engkel, yang membuat ada risiko cedera," tuturnya.

5. Ikut Banyak Race Dalam Waktu Berdekatan

Ketika seseorang mengikuti banyak race lari itu juga rentan menimbulkan cedera. Misalnya tiap minggu ikut lari, di tengah-tengah digunakan untuk latihan lari maka membuat tubuh tidak memiliki masa recovery.

"Ketika overtraining seperti ini menyebabkan risiko cedera lebih tinggi," tuturnya.

Ia menuturkan bahwa cedera pada pelari sangat khas. Mulai dari runners knee, plantar fasciitis, hingga ITB (Iliotibial Band Syndrome).

Segera Atasi Cedera Usai Lari

Meminimalisasi cedera tentu perlu diupayakan. Namun, masyarakat pun tak perlu khawatir berlebihan terkait cedera pada saat berolahraga.

"Cedera saat berolahraga sebenarnya bukan sesuatu yang perlu terlalu ditakuti. Banyak orang langsung membayangkan kondisi berat seperti tulang patah atau robek, padahal sebagian besar cedera olahraga justru terjadi pada jaringan muskuloskeletal seperti otot, tendon, ligamen, dan sendi," kata Beth.

Jenis cedera yang paling sering ditemukan pada saat olahraga adalah peradangan (inflamasi). Kondisi ini umumnya ditandai dengan gejala seperti nyeri, bengkak, dan memar.

"Jika terjadi cedera inflamasi, segera ditangani karena kalau dibiarkan bisa kronik atau mengalami kompensasi, misalnya cedera pada lutut kiri tapi tetap getol olahraga maka kaki bertumpu lebih banyak pada lutut kanan. Jadinya, lutut kanan bisa juga mengalami cedera," tutur Beth.

Maka dari itu, Beth menuarakan untuk segera redakan cedera inflamasi. Bila merasa nyeri dan memar, bisa dengan menggunakan gel kombinasi agen antiinflamsi dan antikoagulan.

"Formulasi tersebut membantu meredakan nyeri dan memar sekaligus menanggulangi terjadinya proses inflamasi. Sehingga menunjang pemulihan jaringan," kata Beth.

Ketika pemulihan inflamasi cepat maka bisa mempercepat penyembuhan dan mencegah agar tidak terjadi perburukan.

Meredakan Nyeri dan Memar

Peluncuran Thrombovoren Emulgel, produk gel topikal untuk meredakan dua keluhan yakni nyeri dan memar.

Di kesempatan yang sama, PT Tunggal Idaman Abdi meluncurkan Thrombovoren Emulgel, produk gel topikal untuk meredakan dua keluhan yakni nyeri dan memar.

"Mengandung diclofenac diethulamine dan heparin sodium. Diclofenac itu bahan yang mengandung antiinflamasi, lalu heparin adalah antikoagulan yang membantu mengencerkan darah yang menggumpal pada permukaan bawah kulit," kata Marketing Planning Manager Thrombovoren, Kurniawan di kesempatan yang sama.

Berdasarkan studi klinis, produk yang disetujui BPOM pada akhir tahun 2025 ini mampu meredakan nyeri dalam tiga hari dan meredakan memar di hari ketujuh usai dioleskan. 

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya