Ancaman Revolusi di AC Milan Jika Gagal ke Liga Champions

AC Milan terancam revolusi besar jika gagal lolos Liga Champions usai performa menurun dalam beberapa pekan terakhir.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 16 April 2026, 14:06 WIB
Pelatih AC Milan Massimiliano Allegri berbicara dengan Alexis Saelemaekers saat laga Serie A/Liga Italia antara AC Milan vs Inter Milan di Milan, Italia, Minggu, 8 Maret 2026. (AP Photo/Antonio Calanni)

Liputan6.com, Jakarta - AC Milan kembali berada di titik genting menjelang akhir musim ini. Harapan meraih gelar berubah drastis dalam hitungan pekan, membuat masa depan klub kembali dipertanyakan.

Situasi tersebut muncul setelah serangkaian hasil buruk yang menggerus posisi mereka di klasemen. Kini, ancaman gagal tampil di Liga Champions menjadi bayang-bayang nyata bagi AC Milan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan perubahan besar dalam tubuh klub. Jika skenario terburuk terjadi, manajemen diprediksi akan mengambil langkah ekstrem demi membangun ulang fondasi tim.


Performa Anjlok dan Tekanan Klasemen

Pemain AC Milan Rafael Leao (kiri) dan pemain Udinese Thomas Thiesson Kristensen berebut bola pada laga Serie A/Liga Italia antara AC Milan vs Udinese di Milan, Italia, Sabtu, 11 April 2026. (AP Photo/Antonio Calanni)

Dalam tujuh pertandingan terakhir, AC Milan menelan empat kekalahan yang menghapus peluang meraih Scudetto. Posisi kedua kini lepas ke Napoli, sementara jarak dengan peringkat kelima semakin menipis.

Kekalahan telak 0-3 dari Udinese menjadi sinyal jelas bahwa performa tim sedang menurun. Laga berikutnya melawan Verona menjadi momen krusial untuk menghentikan tren negatif tersebut.

Jurnalis Sky, Peppe Di Stefano, menilai situasi ini sebagai titik persimpangan bagi klub. Ia menegaskan bahwa kegagalan lolos ke Liga Champions akan berdampak besar.

“Jika Milan tidak lolos ke Liga Champions, itu adalah kegagalan total, dan itu akan mengarah pada revolusi,” ujarnya.

Ia juga mengkritik kebijakan klub dalam beberapa tahun terakhir yang dianggap kehilangan arah. “Kesalahan besar terjadi bertahun-tahun lalu: Anda punya tim muda yang memenangkan Scudetto, Anda hanya perlu menambah kepingan. Sebaliknya, Anda membongkar semuanya dan kehilangan fokus,” katanya.


Masa Depan Proyek dan Peran Pelatih

Pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri, berbicara dengan pemain AC Milan, Christian Pulisic, usai ditarik keluar pada laga Serie A antara AC Milan vs Verona di Milan, Italia, Minggu, 28 Desember 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

Perubahan yang terlalu sering dinilai menjadi masalah utama bagi AC Milan saat ini. Pergantian pemain, manajer, dan pelatih dianggap menghambat terciptanya stabilitas tim.

Di Stefano menekankan bahwa sepak bola bukan hanya soal finansial semata. “Sepak bola bukan tentang keuangan: ini tentang kerja tim, kesinambungan, dan suasana,” ucapnya.

Ia menilai era Stefano Pioli menjadi contoh ketika kekompakan tim mampu menutupi kekurangan kualitas. Menurutnya, Milan saat itu bukan yang terkuat, tetapi paling solid sebagai satu kesatuan.

Dalam proyek saat ini, peran Massimiliano Allegri dinilai sangat penting. Ia dianggap sebagai sosok yang mampu membangun kembali lingkungan positif di dalam tim.

“Ini sangat krusial. Milan hari ini adalah ciptaan Allegri, dan bersama Tare, ia telah menciptakan kembali lingkungan yang positif,” kata Di Stefano.

Meski demikian, tuntutan tinggi tetap ada di depan mata. Allegri diyakini akan meminta jaminan bahwa tim mampu bersaing di level tertinggi musim depan.

Target pun tidak lagi sekadar finis di empat besar. AC Milan dituntut kembali menjadi penantang serius di papan atas, bukan sekadar peserta dalam perebutan tiket Liga Champions.

Sumber: Sempre Milan


Klasemen Serie A/Liga Italia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya