Pefindo Prediksi Penerbitan Surat Utang Korporasi Indonesia Tembus Rp 175 Triliun

Pefindo mengungkap alasan pasar surat utang atau obligasi korporasi tetap tinggi di Indonesia.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 15 April 2026, 14:16 WIB
Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memprediksi pasar surat utang korporasi Indonesia tetap bergairah sepanjang 2026.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memprediksi pasar surat utang atau obligasi korporasi Indonesia tetap bergairah sepanjang 2026. Diperkirakan total penerbitan surat utang korporasi pada 2026 masih berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sekitar Rp 175,77 triliun.

"Penerbitan surat utang korporasi di Indonesia untuk tahun 2026 ini kami berkirakan masih akan tetap solid proyeksi kami masih belum berubah yaitu di Rp 154 hingga Rp 196,86 triliun di Rp 175,77 triliun," kata Kepala Divisi Riset Pefindo, Suhindarto dalam Konferensi Pers Pefindo, Rabu (15/4/2026).

Salah satu faktor utama yang menopang proyeksi tersebut adalah tingginya nilai surat utang yang akan jatuh tempo sepanjang sisa tahun ini. Tercatat, periode Mei hingga Desember 2026 akan diwarnai jatuh tempo obligasi korporasi sebesar Rp 124,12 triliun.

Besarnya nilai jatuh tempo ini diperkirakan mendorong aktivitas refinancing oleh para emiten. Dengan demikian, perusahaan akan kembali masuk ke pasar untuk menerbitkan surat utang baru guna memenuhi kewajiban yang ada.

"Kalau kita perhatikan untuk bulan Mei hingga Desember ke depan masih ada sekitar Rp 124,12 triliun yang surat utang yang akan jatuh tempo yang mana ini masih akan menjadi bahan bakar untuk faktor refinancing penerbitan untuk tujuan refinancing, sehingga diharapkan dengan adanya jatuh tempo tinggi ini penerbitan surat utang korporasi juga masih akan terjaga," ujarnya.

Selain itu, kebutuhan pembiayaan untuk ekspansi usaha juga diperkirakan tetap terjaga seiring kondisi ekonomi domestik yang relatif stabil. Hal ini turut memperkuat prospek penerbitan surat utang korporasi sepanjang tahun.

 

Tantangan Global Tetap Membayangi

Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Prospeknya meski solid, Pefindo tetap mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah risiko geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas pasar dan mendorong kenaikan yield.

Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga menjadi faktor risiko. Depresiasi rupiah berpotensi memicu imported inflation yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.

"Dari sisi tantangan dari yang pertama dan paling utama yang kita lihat sepanjang kuartal pertama ini adalah dari sisi risiko geopolitik terutama perang yang terjadi di Timur Tengah dan ini bisa membuat pasar menjadi fluktuatif dan imbal hasil berpotensi meningkat ke depan," ujarnya.

Penerbitan Surat Utang Korporasi Kuartal I 2026

Selasa (9/9/2025) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk 1,47% ke level 7.653,65. Pergerakan IHSG hari ini masih melanjutkan sentimen negatif pada sore kemarin, Senin (8/9/2025) yang ditutup turun 1,28%. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Adapun Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat aktivitas penerbitan surat utang korporasi pada kuartal pertama 2026 berlangsung cukup semarak. Hingga akhir Maret, total penerbitan mencapai Rp 59,35 triliun, melampaui nilai jatuh tempo yang sebesar Rp 26,88 triliun.

"Untuk realisasi pererbitannya sendiri bisa kita lihat Rp 59,35 triliun yang mana nilai tersebut melampaui jatuh temponya yaitu di Rp 26,88 triliun sepanjang kuartal pertama," ujar Suhindarto.

Ia menyebut kondisi ini menunjukkan tingginya minat korporasi memanfaatkan momentum suku bunga yang relatif rendah pada dua bulan pertama tahun ini unt,uk menggalang pendanaan dari pasar obligasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya