Cerita Warga Larantuka, Uang di Rekening Hilang Misterius Usai Ditelepon Mengaku Pegawai Bank BUMN

Hasil temuan sementara pihak bank, transaksi yang terjadi di rekening nasabah itu sah. Tetapi upaya investigasi tetap dilakukan.

oleh Ola KedaDiterbitkan 15 April 2026, 10:45 WIB
Ilustrasi uang rupiah. (Photo by Mufid Majnun on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Apes benar nasabah bank BUMN di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Uang Rp 6 juta dalam rekeningnya tiba-tiba raib.

YBK, warga Desa Riang Koli, Kecamatan Tanjung Bunga, menyadari tabungannya berkurang pada Sabtu, 11 April 2026. Padahal saldo tabungan dia sebelumnya Rp 27 juta.

Sebelum kejadian itu, dia menerima telepon dari seseorang yang mengaku sebagai pegawai bank, yang kemudian membuatnya mengecek saldo rekeningnya. Beberapa saat kemudian, setelah dicek lagi saldonya menyusut drastis hingga tersisa Rp 21 juta.

“Kurang lebih enam juta rupiah hilang. Saya merasa sangat dirugikan,” ungkap YBK saat dikonfirmasi.

Merasa ada kejanggalan, YBK langsung mendatangi bank yang berlokasi di Kelurahan Lokea pada Senin, 13 April 2026. Ia meminta pihak bank segera menindaklanjuti dan mengembalikan uangnya.

“Saya berharap hari ini juga pihak bank menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan saldo saya,” ujarnya dengan nada tegas.

Dia menilai, kejadian ini karena ada kelalaian dalam sistem pengamanan perbankan di kantor cabang tersebut. Baginya, sangat tidak masuk akal jika saldo bisa berkurang tanpa ada transaksi atau persetujuan dari pemilik rekening.

“Bagaimana sistem keamanan bank ini, kok bisa saldo saya jebol tanpa sepengetahuan saya? Sebagai nasabah, saya jadi tidak nyaman lagi,” ujarnya.

Karena merasa tidak aman, YBK mengambil langkah antisipasi dengan memindahkan sisa uangnya ke rekening anaknya di bank swast. Ia takut kejadian serupa terulang dan menyebabkan kerugian yang lebih besar. YBK berharap manajemen bank BUMN tersebut segera memberikan klarifikasi dan solusi konkret. Kepercayaannya sebagai nasabah kini mulai goyah akibat insiden ini.

“Selama ini saya percaya, tapi kejadian ini membuat saya ragu. Kalau tidak ada penjelasan, bagaimana nasabah bisa tenang menabung,” pungkas YBK.

 

Penjelasan Pihak Bank BUMN

Kepala cabang bank BUMN, Vicco Raditya Aurora Wasista (Foto: Ola Keda/Liputan6.com)

Kepala cabang bank BUMN tersebut, Vicco Raditya Aurora Wasista, menegaskan setiap laporan nasabah akan ditindaklanjuti sesuai prosedur dan melalui pemeriksaan sistem yang ketat.

“Kami tidak pernah menutup mata terhadap keluhan nasabah. Setiap pengaduan akan kami verifikasi secara menyeluruh untuk memastikan apakah transaksi benar-benar terjadi atau tidak,” ujarnya.

Menurut hasil pemeriksaan internal, transaksi yang dipermasalahkan oleh nasabah YBK tercatat sah di sistem bank mereka. Proses pembayaran dilakukan dengan menggunakan kode OTP (One Time Password) yang dikirimkan langsung ke nomor ponsel nasabah.

"Setiap transaksi digital hanya bisa dilakukan jika nasabah memasukkan OTP yang dikirim ke nomor terdaftar. Tanpa OTP, transaksi tidak akan berhasil," jelasnya.

Menurutnya, OTP adalah lapisan keamanan utama yang hanya diketahui oleh nasabah. Karena itu, apabila transaksi berhasil, berarti OTP telah dimasukkan.

"Kami tidak pernah meminta OTP dari nasabah. Jika ada pihak lain yang mengetahui OTP, itu berarti nasabah sendiri yang membagikan kode tersebut," jelasnya.

Dia menekankan, keamanan rekening merupakan tanggung jawab bersama antara bank dan nasabah. Pihak bank menyediakan sistem yang aman, sementara nasabah wajib menjaga kerahasiaan data pribadi, termasuk kode OTP.

"Kami selalu mengingatkan agar OTP tidak dibagikan kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang mengaku sebagai pegawai bank," tegasnya.

Ia menambahkan, jika ada pihak yang mencoba memanfaatkan ketidaktahuan nasabah, transaksi tidak akan berhasil tanpa OTP.

"Jadi, apabila transaksi tercatat berhasil, maka OTP pasti dimasukkan. Itu artinya nasabah memiliki peran dalam menjaga kerahasiaan kode tersebut," katanya.

 

Janji Lakukan Investigasi

Terkait tuntutan pengembalian dana, pihak bank menyatakan akan tetap melakukan investigasi sesuai prosedur. Namun, nasabah diminta untuk memberikan bukti lengkap, termasuk SMS OTP dan detail waktu transaksi.

"Kami tidak bisa serta-merta mengembalikan dana tanpa verifikasi. Semua harus melalui proses investigasi agar jelas duduk perkaranya," ujarnya.

Ia menegaskan hingga saat ini tidak ada indikasi kebocoran sistem perbankan mereka untuk cabang Larantuka.

“Sistem kami berjalan normal dan aman. Kasus ini lebih kepada bagaimana nasabah menjaga kerahasiaan OTP,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya akan terus melakukan edukasi kepada nasabah mengenai pentingnya menjaga data pribadi.

“Kami rutin mengingatkan nasabah agar tidak mudah percaya pada telepon atau pesan dari pihak yang mengaku pegawai bank. Bank tidak pernah meminta OTP atau data pribadi melalui telepon,” tegasnya.

Ia mengimbau agar nasabah segera melapor ke customer service jika menemukan transaksi mencurigakan.

“Jangan panik, segera datang ke kantor cabang atau hubungi layanan resmi bank. Kami siap membantu,” ujarnya.

“Kami menghargai kepercayaan nasabah. Karena itu, kami akan memastikan setiap laporan ditangani sesuai prosedur. Namun, nasabah juga harus berperan aktif menjaga kerahasiaan OTP agar keamanan rekening tetap terjaga,” tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya