Perundingan AS dan Iran Gagal, Analis Rekomendasikan Saham ini

Simak rekomendasi saham saat pasar masuk fase rotasi.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 15 April 2026, 10:31 WIB
Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat pasar modal Hendra Wardana, menilai gagalnya perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih panjang, terutama dengan adanya rencana blokade Selat Hormuz oleh AS.

Menurutnya, kondisi ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dunia yang menembus level USD 100 per barel, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat.

"Selama harga minyak tetap tinggi dan konflik geopolitik belum mereda, sektor energi berpotensi tetap menjadi leading sector yang menopang pergerakan indeks," kata Hendra kepada Liputan6.com, Rabu (15/4/2026).

Oleh karena itu, strategi yang dapat diambil investor adalah memanfaatkan momentum di saham-saham energi, namun tetap dengan disiplin manajemen risiko.

Beberapa saham yang menarik untuk dicermati antara lain PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), dan PT Gozco Plantations Tbk (GZCO).

"PGAS dapat diperhatikan dengan strategi speculative buy di area 1900–1930 dengan target 1990 dan support di 1850, seiring potensi peningkatan kinerja dari kenaikan harga energi," ujarnya.

ELSA juga menarik sebagai saham jasa energi dengan entry di kisaran 760 - 780, target 805, dan support di 740, terutama karena karakter pergerakannya yang cukup agresif saat sektor energi menguat.

"SUPA dapat menjadi pilihan dengan pendekatan buy di area 920–950, target 985, dan support di 900, cocok untuk investor yang mencari pergerakan lebih stabil," ujarnya.

Sementara itu, GZCO menjadi opsi trading berisiko tinggi dengan potensi return cepat, entry di 220–230, target 246, dan support di 210, sehingga memerlukan kedisiplinan tinggi dalam pengelolaan risiko.

 

Pasar dalam Fase Rotasi Sektoral

Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam fase rotasi sektoral yang dipicu oleh perubahan lanskap global, khususnya dari sisi geopolitik dan harga komoditas.

Dalam kondisi seperti ini, investor dituntut untuk lebih adaptif, fokus pada sektor yang diuntungkan oleh kondisi global, serta tetap disiplin dalam menentukan batas risiko.

"Momentum masih terbuka, namun kewaspadaan tetap menjadi kunci di tengah tingginya ketidakpastian pasar," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya