Liputan6.com, Jakarta - Perilaku menyimpang dari tatanan etika, yang dalam terminologi Islam dikenal sebagai su'ul adab, merupakan isu sentral dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren. Oleh sebab itu, umat Islam, terutama para pembelajar atau santri perlu mengetahui contoh su ul adab dan dampaknya yang begitu buruk.
Secara etimologis, su'ul adab terdiri dari dua kata: su' yang berarti keburukan, dan adab yang berarti tata krama atau sopan santun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), su'ul adab diartikan sebagai perangai atau tabiat yang buruk.
Advertisement
Sementara itu, Imam Bukhari mendefinisikan adab sebagai penggunaan sesuatu yang terpuji dalam perkataan dan perbuatan. Merujuk ebook Adab Thalib, Ringkasan Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu, Karya Fadhilatul Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pelanggaran etika ini tidak hanya merusak harmoni hubungan antara guru dan murid, tetapi juga dapat menghilangkan keberkahan ilmu itu sendiri.
Artikel ini akan mengulas berbagai contoh su'ul adab yang diuraikan secara sistematis berdasarkan rujukan otoritatif dari kitab Adab Thalib serta jurnal ilmiah tentang pemikiran Imam Al-Mawardi.
Contoh-Contoh Su'ul Adab
Berikut adalah beberapa contoh konkret su'ul adab yang perlu diwaspadai dalam konteks mencari ilmu (tholabul 'ilmi):
1. Meremehkan dan Menentang Guru (Tidak Takzim)
Sikap tidak hormat kepada guru merupakan bentuk su'ul adab yang paling fatal. Hal ini dapat berupa membantah perkataan guru tanpa alasan yang benar, meremehkan ilmunya, atau bahkan meninggikan suara di hadapannya. Syekh M Nawawi Banten dalam kitab Salalimul Fudhala mengingatkan tentang konsekuensi serius dari perilaku ini:
"Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, 'Siapa saja yang meremehkan ustadznya, niscaya Allah turunkan bala pada tiga hal. Pertama, ia menjadi lupa terhadap hafalannya. Kedua, terkelu lidahnya. Ketiga, pada akhirnya ia akan membutuhkan ustadznya,'".
Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji dalam kitab Ta'lim Muta'allim dengan tegas menyatakan bahwa seorang murid tidak boleh menyombongkan diri di hadapan gurunya atau menentang perkataannya. Bahkan, Imam Fakhruddin Ar-Razi menyebut bahwa ketiadaan adab seorang murid terlihat ketika ia tidak duduk dengan rendah di hadapan gurunya.
2. Sombong (Takabbur) dan Membanggakan Diri ('Ujub)
Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, terutama bagi para penuntut ilmu yang merasa dirinya lebih pintar dari yang lain. Seorang penuntut ilmu yang sombong akan sulit menerima kebenaran dari orang lain, enggan bertanya, dan meremehkan orang yang ilmunya di bawahnya.
Dalam kitab Adab Ad-Dunya Wa Ad-Diin, Imam Al-Mawardi menjelaskan bahwa seorang guru (dan juga penuntut ilmu) harus memiliki sifat tawadhu dan menjauhi ujub (sombong), karena kesombongan dijauhi oleh Allah SWT.
Rasulullah dengan tegas memperingatkan: “Tidak masuk Surga orang yang didalam hatinya ada seberat butir debu berupa kesombongan.” (HR. Muslim).
Kesombongan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti menolak kebenaran ketika telah dijelaskan dalilnya, atau merasa rendah diri untuk bertanya kepada guru karena gengsi.
3. Melakukan Kemaksiatan Secara Terang-terangan
Seorang penuntut ilmu seharusnya menjadi teladan dalam kebaikan. Melakukan kemaksiatan, apalagi secara terang-terangan, merupakan bentuk su'ul adab yang sangat besar karena dapat mencoreng nama baik ilmu itu sendiri. Imam Asy-Syafi'i dalam sebuah syairnya menyatakan bahwa maksiat dapat menjadi penghalang ilmu dan keberkahannya. Beliau berkata:
"Aku telah mengadu kepada Waki' (guruku) tentang buruknya hafalanku, lalu beliaupun mengarahkanku untuk meninggalkan segala maksiat, beliau memberitahuku bahwa ilmu merupakan cahaya, sedangkan cahaya Allah tersebut tidak akan diberikan kepada ahli maksiat." (Dikutip dalam Adab Thalib).
Ini menunjukkan bahwa kebersihan hati dan ketakwaan kepada Allah adalah kunci untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan keberkahan di dalamnya.
4. Berdebat Kusir dan Fanatik Kelompok
Perdebatan kusir (jadal) yang tidak berlandaskan ilmu dan hanya bertujuan untuk menang sendiri adalah akhlak tercela. Hal ini termasuk su'ul adab karena menunjukkan kesombongan dan ketidakmampuan untuk menerima kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah suatu kaum menjadi tersesat setelah tadinya mereka berada diatas petunjuk melainkan disebabkan karena mereka suka berdebat.” (HR. Ahmad dan lainnya).
Fanatik buta terhadap kelompok atau madzhab tertentu juga termasuk dalam kategori ini. Imam Al-Albani menegaskan bahwa para imam madzhab sendiri mewajibkan pengikutnya untuk meninggalkan pendapat mereka jika bertentangan dengan hadits Nabi ﷺ yang shahih.
5. Malas dan Putus Asa (Futur) dalam Menuntut Ilmu
5. Malas dan Putus Asa (Futur) dalam Menuntut Ilmu
Futur adalah kondisi lemahnya semangat, rasa malas, dan kemalasan setelah sebelumnya rajin dan bersemangat. Ini adalah bentuk su'ul adab terhadap ilmu itu sendiri dan terhadap waktu yang telah diberikan oleh Allah. Penyebab futur antara lain adalah lemahnya tekad, godaan setan yang membuat putus asa, dan pergaulan dengan teman yang buruk.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa untuk memohon perlindungan dari sifat ini:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Abu Dawud).
6. Berburuk Sangka (Su'u Zhann)
Berprasangka buruk kepada guru, teman, atau sesama Muslim tanpa bukti yang jelas adalah perbuatan dosa dan termasuk su'ul adab. Allah SWT dengan tegas melarang perbuatan ini dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari pra-sangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa buruk sangka adalah melemparkan tuduhan kepada orang lain tanpa dasar yang benar. Sikap ini dapat merusak hubungan persaudaraan dan menghilangkan keberkahan dalam majelis ilmu.
7. Tidak Mengamalkan Ilmu
Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi beban dan bahkan bisa menjadi petaka di akhirat. Seorang penuntut ilmu yang tidak mengamalkan ilmunya termasuk dalam golongan orang yang dimurkai Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang sangat tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3).
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak dari tempat hisab sebelum ia ditanya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan.
8. Menyebarkan Ilmu Tanpa Keahlian (Tasyayyu' bil 'Ilm)
Berani tampil memberikan fatwa atau mengajarkan ilmu sebelum benar-benar mumpuni adalah bentuk su'ul adab yang sangat berbahaya, karena dapat menyesatkan diri sendiri dan orang lain. Allah SWT melarang keras perbuatan ini:
“Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lisan kalian secara dusta 'Ini halal dan ini haram' untuk mengada-adakan kebohongan atas nama Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan atas nama Allah tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116).
Para ulama salaf, seperti Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sangat berhati-hati dalam berfatwa dan tidak segan-segan mengatakan "Allahu A'lam" (Allah yang lebih tahu) ketika mereka tidak mengetahui suatu masalah.
Dampak Negatif Su'ul Adab
Perilaku su'ul adab tidak hanya merugikan secara moral, tetapi juga berdampak pada kualitas intelektual dan spiritual seorang penuntut ilmu:
1. Kehilangan Keberkahan
Ilmu Ilmu menjadi sulit dipahami, mudah lupa, dan tidak membawa manfaat di dunia maupun akhirat.
2. Terhambatnya Pemahaman
Hati yang dipenuhi oleh sifat-sifat buruk seperti sombong dan dengki menjadi sulit untuk menerima cahaya ilmu.
3. Rusaknya Hubungan Sosial
Menimbulkan permusuhan, perpecahan, dan hilangnya rasa hormat antara sesama penuntut ilmu dan dengan guru.
4. Menjadi Contoh Buruk
Perilaku buruk dapat ditiru oleh orang lain, terutama yang lebih muda, sehingga merusak generasi.
5. Azab dan Siksa di Akhirat
Ancaman tidak masuk surga bagi orang yang sombong, dan siksaan lainnya bagi pelaku maksiat dan pengadu domba
Tips agar Terhindar dari Perilaku Su'ul Adab
Berikut adalah beberapa tips untuk terhindar dari perilaku su'ul adab (etika buruk) berdasarkan tuntunan dari kitab Adab Thalib, pemikiran Imam Al-Mawardi dalam Adab Ad-Dunya Wa Ad-Diin, serta sumber-sumber kredibel lainnya:
1. Ikhlas Menuntut Ilmu
Niatkan semata-mata karena Allah, bukan untuk popularitas, jabatan, atau materi. Keikhlasan membersihkan hati dari sifat riya' dan ujub yang merupakan akar su'ul adab.
2. Membersihkan Hati dari Penyakit Batin
Hindari dengki, hasad, sombong, dan buruk sangka. Hati yang bersih siap menerima cahaya ilmu dan mencegah perilaku tercela.
3. Selalu Bertakwa dan Meninggalkan Maksiat
Maksiat menghalangi ilmu dan keberkahannya. Dengan bertakwa, Allah akan memberikan kemampuan membedakan benar dan salah.
4. Bersikap Tawadhu (Rendah Hati) dan Menjauhi Ujub
Tidak merasa lebih pintar dari orang lain, tidak meremehkan guru atau teman, dan tidak enggan bertanya. Tawadhu membuat hati lentur menerima kebenaran.
5. Memilih Teman yang Baik dan Shalih
Teman sangat berpengaruh terhadap akhlak. Pergaulan dengan orang alim dan beradab akan mengingatkan kita dari perilaku buruk.
6. Sabar dan Disiplin dalam Menuntut Ilmu
Jangan malas (futur), jangan tergesa-gesa, dan jangan berputus asa. Sabar menghadapi kesulitan belajar dan sabar menerima koreksi dari guru.
7. Menjaga Lisan dari Perdebatan Kusir dan Ghibah
Hindari perdebatan yang tidak bermanfaat, mencela guru atau teman, dan berbicara tanpa ilmu. Diam ketika majelis ilmu berlangsung adalah adab yang sangat dianjurkan.
8. Mengamalkan Ilmu Sejak Dini
Amalkan setiap ilmu yang diperoleh, sekecil apa pun. Pengamalan menjadikan ilmu melekat, menghilangkan sifat riya’, dan menjauhkan dari sikap sombong karena merasa tahu.
9. Memohon Ilmu yang Bermanfaat dan Perlindungan dari Ilmu yang Tak Berguna
Berdoa agar dijauhkan dari sifat-sifat su'ul adab dan diberikan pemahaman yang benar. Doa Rasulullah: “Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan” (Ya Allah, aku mohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima) – HR. Ibnu Majah.
10. Mengoreksi Diri (Muhasabah)
Setiap hari introspeksi: apakah ada sikap kurang hormat kepada guru, sombong, malas, atau menyakiti teman? Segera bertaubat dan perbaiki.
People Also Ask:
Apa yang dimaksud dengan SU UL adab?
Kurang akhlak atau sering disebut dengan su‟ul adab adalah akhlak tercela yang dilarang oleh agama terutama para santri dalam berinteraksi terhadap ustadz atau guru.
Sebutkan 5 contoh adab kepada Allah?
ADAB KEPADA ALLAH SWT.Selalu berdzikir kepada-Nya.Selalu merasa dilihat oleh Allah.Berusaha istiqomah dalam menjalankan perintah-Nya.Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.Takut terhadap siksa-Nya.Ikhlas dalam beribadah dan tidak menyekutukan Allah.Beriman dan tidak kufur.Berdoa dengan penuh harap dan rendah hati.
Apa saja contoh adab dalam kehidupan sehari-hari?
Pengertian Adab dan Contoh Adab dalam Kehidupan Sehari-hari ...6. Adab terhadap MasyarakatDapat berbuat baik dan meninggalkan perbuatan yang merugikan bersama.Berperilaku jujur.Bertutur kata lemah lembut dan penuh kasih sayang.Tidak mengikuti urusan orang lain.Saling bertoleransi.
Sebutkan 5 adab apa saja yang perlu diterapkan kepada guru.?
Adab Terhadap GuruMendoakan kebaikan untuk guru.Tidak menggaduh di hadapan guru.Menghormati hak guru.4.Merendahkan diri di hadapan guru.Duduk, bertanya, dan mendengarkan dengan baik.Bersabar terhadap kesalahan guru.