Liputan6.com, Semarang - Di balik riuh rendah komentar terkait program Makan Bergizi Gratis, ada ancaman besar yang tidak bisa dibiarkan begitu saja: sampah sisa makanan. Memang terkesan sepele, hanya karena alasan makanan tidak enak rasanya atau tidak suka dengan menu yang disajikan, menu MBG akhirnya dibuang berakhir jadi sampah.
Menurut data Badan Gizi Nasional (BGN), pada September 2025, volume limbah sampah dari program MBG diperkirakan mencapai 3.100 ton per hari atau setara 1,1 juta ton per tahun, yang mencakup 31 juta penerima manfaat. Ini berarti setara dengan sekitar 100 gram sampah makanan per orang per hari.
Advertisement
Berangkat dari kegelisahan itu, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Widya Wardani, membuat video pendek yang berisi edukasi tentang dampak panjang sampah makanan.
"Ini penting karena stop boros pangan juga berdampak pada lingkungan dan keberlanjutan hidup manusia," kata Widya kepada Liputan6.com, Senin (13/4/2026).
Senada dengan keberanian Widya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Gizi Nasional, menyambut baik langkah tersebut untuk menjadi langkah cepat mengurangi sampah makanan yang terbuang dari MBG.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng, Dyah Lukisari menyebut program MBG turut berandil besar dalam penciptaan sampah makanan.
"Melalui kampanye stop boros pangan berbasis media audiovisual berisikan edukasi pentingnya asupan pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman). Nantinya kampanye akan menyasar siswa sekolah dasar pada 23 sekolah di Semarang," jelas Dyah.
Penyampaian dilakukan melalui pendekatan komunikasi yang menarik, seperti video dan animasi, yang sesuai dengan usia anak SD. Tentunya untuk mendorong siswa menghabiskan makanan yang disajikan.
"Maka kita gandeng. Kami siapkan substansinya, Udinus menyiapkan dari sisi ilmu komunikasi dan IT. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis," ujar Dyah.
Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Komputer Udinus, Dr Pujiono, berharap, kolaborasi ini dapat memperkaya pengalaman mahasiswa di lapangan. Sebanyak 230 mahasiswa akan terlibat dalam kampanye stop boros pangan.
"Penyampaian pesan bisa melalui animasi, video, maupun tulisan, yang disesuaikan dengan usia siswa SD," katanya.
Bahan Evaluasi
Perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Riyan Eko Prasetyo, menyebut inovasi itu dapat menjadi terobosan untuk mendukung penyelenggaraan MBG. Selain mengampanyekan stop boros pangan, kerja sama itu juga diharapkan memberi masukan bagi program unggulan Presiden Prabowo tersebut.
"Outputnya menjadi data bagi kami sebagai bahan evaluasi pada SPPG dalam produksi MBG, agar tidak menimbulkan pemborosan pangan," jelas Riyan, yang menjabat sebagai Pendamping Koordinator Regional Provinsi Jawa Tengah.
Sementara itu Pemeringtah Kota Semarang menyatakan kesiapannya menjadi pusat diskusi nasional bagaimana praktik baik Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya dibenahi.
Pangan bergizi adalah sangat penting menuju strategi penguatan gizi nasional. Wali Kota Semarang Agustina menyebut siap menggelar forum pertukaran pengalaman dalam mengelola program pangan secara efektif.
"Kota Semarang akan menjadi tuan rumah bagi delegasi dari berbagai kota di Indonesia untuk mendiskusikan penguatan gizi nasional. Kami telah menyiapkan forum ini," ungkap Agustina, Senin (13/4/2026).
Dialog nasional ini akan mempertemukan perwakilan dari 20 kota/kabupaten penandatangan Pakta Milan di Indonesia, termasuk Kota Surabaya sebagai calon anggota. Selain itu, sejumlah kepala daerah dari Jawa Tengah seperti Magelang, Salatiga, Tegal, dan Pekalongan juga direncanakan hadir dalam pertemuan ini.
"Kehadiran puluhan kota ini menunjukkan komitmen kuat antar-pemerintah daerah untuk bersinergi demi kesehatan generasi mendatang. Kami ingin memastikan setiap daerah bisa saling belajar dalam mengimplementasikan kebijakan pemenuhan gizi ini," jelas Agustina.
Tak hanya berdialog, tiga titik Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) di Kota Semarang meliputi SPPG Aspol Polda Jateng Rejosari, SPPG Kedung Mundu 2, dan SPPG Pedalangan akan menjadi pilot project Praktik Baik Makan Bergizi Gratis yang akan berlangsung pada tanggal 28-30 April 2026 mendatang
"Tiga lokasi SPPG ini dipilih karena telah memenuhi persyaratan standar operasional yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Fasilitas di Rejosari, Kedung Mundu, dan Pedalangan sangat representatif untuk dijadikan contoh pembelajaran bagi peserta nasional," katanya.
Bukan sebatas berbicara saja, Pemerintah Kota Semarang berharap hasil dari dialog nasional ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan program Makan Bergizi Gratis di seluruh wilayah Indonesia. Replikasi praktik baik dari Semarang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan di kabupaten dan kota lainnya.
"Kami berharap praktik baik yang ada di Kota Semarang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk segera melakukan replikasi. Dengan standarisasi yang seragam, kualitas penyelenggaraan program gizi di seluruh Indonesia akan semakin meningkat," kata Agustina.