Liputan6.com, Jakarta - Viral anak perempuan 1,5 tahun mengalami hipotermia saat diajak orangtua naik Gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah. Anak berinisial LL itu mengalami penurunan suhu tubuh usai cuaca hujan deras dan suhu dingin.
Dalam situasi hujan deras hingga tubuh basah, anak bisa kehilangan panas dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
Advertisement
"Anak itu bukan dewasa kecil ya, jadi jangan berasumsi anak itu sama tahannya sama orang dewasa," kata Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Yogi Prawira, SpA Subs ETIA(K).
Hipotermia adalah kondisi darurat medis ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Jika anak mengalami hipotermia maka penanganan awal harus dilakukan dengan cepat dan tepat untuk mencegah kondisi memburuk.
Berikut langkah pertolongan pertama saat anak hipotermia:
1. Segera lepaskan pakaian basah dan keringkan tubuhnya
Saat anak kehujanan atau basah, pakaian yang menempel di tubuh justru akan mempercepat hilangnya panas. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka pakaian anak dan mengeringkan tubuhnya.
"Dikeringkan badannya. Karena kalau dia masih menempel si baju tadi itu kan akan terus kehilangan panas dari situ," kata Yogi menjawab pertanyaan Health Liputan6.com saat ditemui di Jakarta Pusat pada Senin, 13 April 2025.
2. Lakukan metode skin-to-skin
Salah satu cara paling efektif untuk menghangatkan anak adalah dengan metode skin-to-skin contact. Orangtua dapat menempelkan tubuhnya langsung ke tubuh anak (kulit bertemu kulit), karena suhu tubuh manusia secara alami berada di sekitar 36 - 37 derajat Celsius.
Yogi mengatakan metode ini mirip dengan teknik kangaroo mother care, yang biasa digunakan pada bayi prematur untuk membantu menjaga suhu tubuh mereka. Dalam kondisi darurat di alam terbuka, cara ini bisa menjadi “inkubator alami” bagi anak.
"Tubuh kita itu kan panas, jadi orangtua buka baju, tidak ada pakaian sama sekali, tubuh juga kering. Lalu, tempelkan kulit ketemu kulit," jelas Yogi.
4. Tutup dengan kain atau selimut kering
Setelah melakukan skin-to-skin, tutupi tubuh anak dengan kain atau selimut yang kering agar panas tubuh tetap terjaga dan tidak kembali hilang.
5. Gunakan pelindung tambahan bila ada
Jika tersedia, gunakan perlengkapan seperti selimut aluminium foil (emergency blanket) untuk membantu mencegah kehilangan panas lebih lanjut. Namun, prioritas utama tetap menghangatkan tubuh anak terlebih dahulu.
IDAI Tak Rekomendasikan Anak di Bawah 3 Tahun Diajak Naik Gunung
Terkait kasus viral hipotermia pada bayi 1,5 tahun yang diajak naik Gunung Ungaran, kejadian ini menjadi pengingat bagi orangtua agar bijak saat mengajak anak melakukan aktivitas outdoor. Hal ini lantaran, anak lebih mudah kehilangan panas tubuh dibandingkan orang dewasa.
Maka dari itu, anak di bawah tiga tahun tidak direkomenasikan diajak naik gunung.
"Tidak direkomendasikan membawa batita naik gunung dengan potensi kehujanan, basah kuyup, atau kepanasan," kata Ketua Pengurus Pusat IDAI, dokter Piprim Basarah Yanuarso, SpA Subsp.Kardio(K) di kesempatan yang sama.
Lalu, anak juga sangat mudah kehilangan cairan karena salah satunya frekuensi anak bernapas lebih sering daripada dewasa. "Jadi, pastikan anak terhidrasi cukup, pastikan anak tidak kepanasan, tidak kedinginan," kata Yogi.
Ajak Anak Lakukan Aktivitas Outdoor Secara Bertahap
Mengenalkan aktivitas alam ke anak adalah hal yang baik. Namun, hal tersebut bisa dimulai dengan aktivitas yang ringan.
"Kalau mau ke alam, jangan ekstrem langsung gunung yagn tinggi. Mungkin aktivitasnya bisa dimulai dengan hiking, yang tidak ada panas ekstrem atau hujan lebat," terang Piprim.
Kemudian, orangtua bisa melihat kemampuan anak sudah mampu untuk naik level atau belum. Bila anak sudah siap naik gunung, pastikan orangtua sudah menyiapkan pakaian yang tepat. Termasuk untuk bagian luar adalah jaket anti air.
Orangtua juga harus siap bila terjadi kondisi emergensi seperti hipotermia.