Liputan6.com, Jakarta - Di tengah riuh dan padatnya lalu lintas Jakarta, transportasi bajaj masih menjadi alternatif bagi masyarakat, khususnya yang beraktivitas di sekitar Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Bukan hanya sekadar alat mobilitas, Bajaj merupakan ruang bagi banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan penghasilian harian. Tidak besar, tapi cukup untuk menyambung kebutuhan harian.
Advertisement
Namun, di balik peran sebagai moda transportasi, keberadaan bajaj menyimpan cerita dan persoalan lama yang hingga kini masih menghantui, yaitu pemalakan.
Di depan pintu masuk Blok A Pasar Tanah Abang, tampak sebuah bajaj berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang. Tak lama, tampak dua orang pria menghampiri sopir bajaj itu. Kedua pihak sempat berbincang, entah apa yang dibicarakan.
Sang sopir tampak sedikit protes kepada dua pria itu. Namun akhirnya ia seperti memberikan sejumlah uang kepada dua orang tersebut.
Setelah ditelusuri, mereka adalah orang-orang yang selama ini meminta "jatah" kepada sopir bajaj tersebut.
Sopir bajaj tersebut bernama Edi. Ia mengaku sudah tidak kaget atas kejadian itu. Baginya, ini adalah pemandangan sehari-hari yang dirasakan sebagai sopir bajaj, yang sudah digelutinya selama 11 tahun.
"Blok A itu. Tapi kalau mangkal, yang minta (uang) banyak," kata dia kepada Liputan6.com, Senin (13/4/2026).
Edi menuturkan, pungutan liar kepada para sopir datang setiap hari. Tidak hanya satu orang, melainkan beberapa orang. Dalam sehari, tak jarang bisa lima orang meminta jatah padanya.
Ancaman Jika Menolak
Bagi seorang sopir bajaj seperti Edi, kondisi ini kian menyesakkan. Penghasilan rata-rata sebesar Rp 200 ribu yang hanya cukup untuk menghidupi dapur rumah dan pemilik bajaj, terpaksa harus dibagi ke pada preman yang datang tanpa bisa ditolak.
"Ada kecil-kecil dulu, Rp 5.000, Rp 5.000, tapi kan yang minta banyak," tutur Edi.
Kondisi ini bukan cerita baru yang terjadi belakang ini saja. Bagi Edi, praktik ini sudah mengakar sejak lama.
Bahkan, ada beberapa momen di mana para preman gencar melakukan pemalakan kepada para sopir. Salah satunya menjelang bulan puasa, di mana aktivitas Pasar Tanah Abang lebih ramai dari biasanya.
Bulan yang seharusnya identik dengan keberkahan, tapi justru berbeda bagi Edi dan kawan-kawannya. Ia justru disambut dengan tekanan pemalakan yang lebih intens, di tengah kebutuhan yang semakin meningkat.
Kondisi ini sangat membuat Edi resah. Namun, apalah daya baginya yang tak punya pilihan lagi selain memberinya. Menolak jatah, artinya ada risiko lebih besar yang akan dihadapi bagi Edi.
Ia mengaku, ancaman bagi para sopir bajaj kerap kali datang jika mereka menolak memberi jatah kepada para preman tersebut. Edi dan para sopir lainnya bisa saja tidak lagi diperbolehkan untuk mangkal di sekitar Tanah Abang, tempatnya mengais rezeki selama ini.
Bukan hanya dilarang mangkal, tapi lebih dari itu. Edi bercerita, aksi pengeroyokan atau pemukulan kerap kali terjadi kepada sopir bajaj maupun pedagang bagi yang menolak memberikan jatah.
Kala itu, sempat terjadi peristiwa tersebut. Tak ada yang berani melawan, bahkan petugas keamanan sekalipun.
"Ada security juga diam doang, security nggak berani," ungkap Edi.
Harapan di Balik Gelisah
Edi sendiri mengaku tidak benar-benar mengenal siapa para preman tersebut. Wajahnya memang sering terlihat, tapi identitasnya entah siapa.
Ia juga tidak mengetahui secara pasti dari mana mereka berasal. Namun, dari pengamatannya selama mangkal di Blok B Pasae Tanah Abang, ia menduga mereka adalah orang-orang yang tinggal di sekitaran area Pasar Tanah Abang.
Tidak penting siapa dan dari mana mereka. Bagi Edi, bekerja tanpa keresahan dan bayang-bayang preman sudah sangat cukup. Walaupun pada kenyatannya, kondisi ini benar-benar sulit dihilangkan.
Di balik kegelisahan dan kekhawatirannya selama ini, masih muncul sebuah harapan dalam benak Edi. Tidak muluk-muluk, ia hanya meminta pemerintah melakukan langkah nyata untuk benar-benar menghentikan praktik yang merugikan sopir bajaj.
"Ya dibasmi lah dijaga, tiap hari paling nggak dirazia lah," katanya.
Di tengah ketidakberaniannya melawan para preman, Edi hanya berharap kepada peran pemerintah.
Melawan bukanlah hal mudah, ada rasa takut yang membayangi pikirannya. Karena itu, satu-satu harapan adalah kepada para aparat serta kebijakan yang serius dijalankan.
Ia berharap, razia yang dijalankan bukan sekadar formalitas, yang pada akhirnya terjadi kembali praktik tersebut. Tapi bukti nyata mengatasi praktik pemalakan agar terulang.
Harapan Edi sangat sederhana, bisa bekerja dengan tenang tanpa rasa takut dan bayang-bayang preman. Karena itulah, peran pemerintah untuk di tengah keresahan sopir bajaj selama ini.